Tak Bisa Pegang PBNU, Kekuatan Imin Takkan Seperti Dulu Lagi

Hubungan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dengan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf sedang renggang. Dengan kondisi ini, kekuatan Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin, diprediksi tidak akan seperti dulu lagi. 

Kerenggan Cak Imin dengan Kiai Yahya semakin terlihat jelas saat Pengukuhan PBNU Masa Khidmat 2022-2027 dan Harlah ke-96 NU, Senin (31/1). Saat ini, Cak Imin dan para elite PKB tidak tampak.

Dengan kondisi ini, pengamat politik Muhammad Qodari menganggap, wajar jika ada yang menyebut bahwa hubungan Cak Imin dan PBNU sekarang seperti “Layangan Putuh”, serial yang sedang ngetren saat ini.

“Tidak ada yang lebih jelas soal fenomena Layangan Putus antara Cak Imin dengan PBNU. Ketidakhadiran Cak Imin di acara pengukuhan dan Harlah PBNU sangat jelas. Kan itu acara yang paling penting,” ucap Qodari, kepada RM.id, Selasa (8/2).

Kondisi ini, lanjutnya, akan berpengaruh pada kekuatan Cak Imin. Sebelumnya, Cak Imin didukung dua kekuatan besar, yaitu PBNU dan PKB.

“Ibaratnya, partainya Cak Imin ada dua, PKB dan PBNU. Di PKB, Cak Imin adalah ketua umum de jure dan de facto. Di PBNU, Cak Imin bukan ketua de jure tapi ketua de facto. Tapi, kepemimpinan PBNU sekarang berubah, yaitu menjaga jarak yang sama kepada semua partai politik,” terang mantan Direktur Eksekutif Indo Barometer tersebut.

Yang terjadi saat ini, lanjut Qodari, adalah yang hal ditakutkan Cak Imin. Sebab, kekuatannya bisa tergerus. Kekuatan-kekuatan politik yang selama ini diredam Cak Imin di internal PKB, kini masuk lewat PBNU.

“Ketika Cak Imin tidak pegang PBNU lagi, maka pegangan Cak Imin di PKB juga tidak sekuat dulu lagi. Mungkin itu yang dikhawatirkan Cak Imin,” pungkasnya. [TAR]

]]> Hubungan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dengan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf sedang renggang. Dengan kondisi ini, kekuatan Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin, diprediksi tidak akan seperti dulu lagi. 

Kerenggan Cak Imin dengan Kiai Yahya semakin terlihat jelas saat Pengukuhan PBNU Masa Khidmat 2022-2027 dan Harlah ke-96 NU, Senin (31/1). Saat ini, Cak Imin dan para elite PKB tidak tampak.

Dengan kondisi ini, pengamat politik Muhammad Qodari menganggap, wajar jika ada yang menyebut bahwa hubungan Cak Imin dan PBNU sekarang seperti “Layangan Putuh”, serial yang sedang ngetren saat ini.

“Tidak ada yang lebih jelas soal fenomena Layangan Putus antara Cak Imin dengan PBNU. Ketidakhadiran Cak Imin di acara pengukuhan dan Harlah PBNU sangat jelas. Kan itu acara yang paling penting,” ucap Qodari, kepada RM.id, Selasa (8/2).

Kondisi ini, lanjutnya, akan berpengaruh pada kekuatan Cak Imin. Sebelumnya, Cak Imin didukung dua kekuatan besar, yaitu PBNU dan PKB.

“Ibaratnya, partainya Cak Imin ada dua, PKB dan PBNU. Di PKB, Cak Imin adalah ketua umum de jure dan de facto. Di PBNU, Cak Imin bukan ketua de jure tapi ketua de facto. Tapi, kepemimpinan PBNU sekarang berubah, yaitu menjaga jarak yang sama kepada semua partai politik,” terang mantan Direktur Eksekutif Indo Barometer tersebut.

Yang terjadi saat ini, lanjut Qodari, adalah yang hal ditakutkan Cak Imin. Sebab, kekuatannya bisa tergerus. Kekuatan-kekuatan politik yang selama ini diredam Cak Imin di internal PKB, kini masuk lewat PBNU.

“Ketika Cak Imin tidak pegang PBNU lagi, maka pegangan Cak Imin di PKB juga tidak sekuat dulu lagi. Mungkin itu yang dikhawatirkan Cak Imin,” pungkasnya. [TAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories