Tahun 2020 Penjualan Sampoerna Argo Naik Jadi Rp 3,50 Triliun .

PT Sampoerna Agro Tbk. beserta anak perusahaannya menerbitkan laporan keuangan konsolidasi yang diaudit dan hasil kinerja operasionalnya untuk tahun buku 2020.

CEO Sampoerna Agro Budi Halim mengatakan, di tengah intensitas hujan yang semakin tinggi pada kuartal IV 2020, produksi minyak sawit Sampoerna Agro meningkat secara signifikan mencapai 131.585 ton atau 112 persen lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.

Lonjakan ini telah diantisipasi dengan berkurangnya efek lanjutan dari kemarau panjang yang terjadi pada tahun 2019 dan didukung oleh curah hujan yang berkecukupan sepanjang 2020, sehingga kepastian pemulihan produksi semakin nyata.

“Selain faktor profil tanaman perusahaan yang berada pada usia produktif seiring dengan upaya intensifikasi yang terus berlangsung, kondisi cuaca yang bersahabat sepanjang tahun 2020 turut menyumbang optimisme terhadap prospek produksi di tahun 2021,” katanya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, di akhir pekan.

Secara umum, kata Budi, tanaman sawit dapat tumbuh dengan baik ketika curah hujan berkisar antara 2.000-2.500 mm per tahun dengan minimal 100 mm per bulan.

Curah hujan rata-rata pada areal kebun sawit Sampoerna Agro pada kuartal IV 2020 mencapai 227 mm atau 27 persen lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan hampir sama dibandingkan rata-rata tahun 2021 yang sebesar 221 mm.

Bulan Agustus merupakan satu-satunya bulan pada tahun 2020 yang mengalami curah hujan di bawah 200 mm. Untuk itu, tidak terjadi defisit air yang dapat menyebabkan stres pada tanaman sawit Sampoerna Argo.

 

Lonjakan produksi Sampoerna Argo pada periode kuartal IV 2020 juga diiringi tingkat harga jual rata-rata yang tertinggi dalam sejarah perusahaan sebagai dampak situasi persediaan minyak sawit dunia yang ketat.  

Sampoerna Argo juga membukukan harga jual minyak sawit rata-rata sebesar Rp 9.529 per kilogram pada kuartal IV 2020 atau lebih tinggi 29 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pada penutupan tahun, tingkat persediaan di Malaysia berada di bawah 1,3 juta ton yang merupakan level yang terendah dalam 13 tahun terakhir.

“Meski tahun 2020 disertai berbagai tantangan yang sangat mempengaruhi kehidupan kita, namun masih tetap ada ruang gerak bagi manajemen untuk terus berpegang teguh pada upaya-upaya peningkatan daya saing,” ujarnya.

Dia menambahkan, berbagai pencapaian utama yang berhasil diraih sepanjang tahun 2020 antara lain peningkatan ekstraksi minyak di tengah adanya imbas yang cukup besar akibat cuaca yang kurang bersahabat serta jumlah produksi yang meningkat di kebun sawit Sampoerna Argo yang berlokasi di Kalimantan.

Sebagai informasi, volume produksi minyak sawit Sampoerna Argo hingga akhir tahun 2020 tercatat sebesar 347.407 ton atau turun 10 persen dibandingkan volume produksi di tahun sebelumnya sebesar 385.079 ton.

Secara akumulatif, penjualan Sampoerna Argo meningkat 7 persen dari Rp 3,26 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp 3,50 triliun pada tahun 2020. Nilai tersebut meliputi penjualan produk utama Sampoerna Argo yaitu minyak sawit, inti sawit, dan kecambah. [KPJ]

]]> .
PT Sampoerna Agro Tbk. beserta anak perusahaannya menerbitkan laporan keuangan konsolidasi yang diaudit dan hasil kinerja operasionalnya untuk tahun buku 2020.

CEO Sampoerna Agro Budi Halim mengatakan, di tengah intensitas hujan yang semakin tinggi pada kuartal IV 2020, produksi minyak sawit Sampoerna Agro meningkat secara signifikan mencapai 131.585 ton atau 112 persen lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya.

Lonjakan ini telah diantisipasi dengan berkurangnya efek lanjutan dari kemarau panjang yang terjadi pada tahun 2019 dan didukung oleh curah hujan yang berkecukupan sepanjang 2020, sehingga kepastian pemulihan produksi semakin nyata.

“Selain faktor profil tanaman perusahaan yang berada pada usia produktif seiring dengan upaya intensifikasi yang terus berlangsung, kondisi cuaca yang bersahabat sepanjang tahun 2020 turut menyumbang optimisme terhadap prospek produksi di tahun 2021,” katanya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, di akhir pekan.

Secara umum, kata Budi, tanaman sawit dapat tumbuh dengan baik ketika curah hujan berkisar antara 2.000-2.500 mm per tahun dengan minimal 100 mm per bulan.

Curah hujan rata-rata pada areal kebun sawit Sampoerna Agro pada kuartal IV 2020 mencapai 227 mm atau 27 persen lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya dan hampir sama dibandingkan rata-rata tahun 2021 yang sebesar 221 mm.

Bulan Agustus merupakan satu-satunya bulan pada tahun 2020 yang mengalami curah hujan di bawah 200 mm. Untuk itu, tidak terjadi defisit air yang dapat menyebabkan stres pada tanaman sawit Sampoerna Argo.

 

Lonjakan produksi Sampoerna Argo pada periode kuartal IV 2020 juga diiringi tingkat harga jual rata-rata yang tertinggi dalam sejarah perusahaan sebagai dampak situasi persediaan minyak sawit dunia yang ketat.  

Sampoerna Argo juga membukukan harga jual minyak sawit rata-rata sebesar Rp 9.529 per kilogram pada kuartal IV 2020 atau lebih tinggi 29 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pada penutupan tahun, tingkat persediaan di Malaysia berada di bawah 1,3 juta ton yang merupakan level yang terendah dalam 13 tahun terakhir.

“Meski tahun 2020 disertai berbagai tantangan yang sangat mempengaruhi kehidupan kita, namun masih tetap ada ruang gerak bagi manajemen untuk terus berpegang teguh pada upaya-upaya peningkatan daya saing,” ujarnya.

Dia menambahkan, berbagai pencapaian utama yang berhasil diraih sepanjang tahun 2020 antara lain peningkatan ekstraksi minyak di tengah adanya imbas yang cukup besar akibat cuaca yang kurang bersahabat serta jumlah produksi yang meningkat di kebun sawit Sampoerna Argo yang berlokasi di Kalimantan.

Sebagai informasi, volume produksi minyak sawit Sampoerna Argo hingga akhir tahun 2020 tercatat sebesar 347.407 ton atau turun 10 persen dibandingkan volume produksi di tahun sebelumnya sebesar 385.079 ton.

Secara akumulatif, penjualan Sampoerna Argo meningkat 7 persen dari Rp 3,26 triliun pada tahun 2019 menjadi Rp 3,50 triliun pada tahun 2020. Nilai tersebut meliputi penjualan produk utama Sampoerna Argo yaitu minyak sawit, inti sawit, dan kecambah. [KPJ]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories