Tagar WaspadaResesiEkonomi Bukan Untuk Nakut-nakuti

Akhir-akhir ini, para pejabat, para politisi, juga para pakar, rame-rame ngomongin ancaman resesi akibat ketidakpastian ekonomi global, dan dampak geopolitik akibat perang Rusia vs Ukraina. Warganet pun ikut-ikutan ngomongin soal rumit itu, dengan menggaungkan #WaspadaResesiEkonomi. Tagar ini dimunculkan bukan untuk menakut-nakuti, tapi mengingatkan agar para pemangku kepentingan di negeri ini tidak lengah hadapi situasi ekonomi dan politik dunia.

Kemunculan #WaspadaResesiEkonomi ini, dipicu geopolitik dunia yang sedang kurang sehat. Mulai dari peperangan antar-negara, perubahan kebiasaan yang dialami masyarakat di sejumlah negara, perubahan teknologi, hingga virus Covid-19 yang tak kunjung musnah. Akibatnya, postur ekonomi dunia ikut bergejolak.

Rakyat berusaha mengingatkan. Gayanya dengan cara kekinian. Yaitu, menggunakan media sosial. Mereka tak punya saluran resmi untuk berekspresi, kecuali berteriak di medsos. Terbitlah #WaspadaResesiEkonomi.

Kemarin, tagar tersebut dicuitkan oleh lebih dari 3.000 akun. Twit-nya macam-macam, tapi poinnya sama, mengingatkan agar Indonesia tidak terjerumus dalam jurang resesi. “Ternyata Pak Jokowi jago memprediksi juga. Prediksinya sekarang ini tepat, Indonesia 2022 di ambang resesi,” timpal @duckbusterr. “Waspadalah waspadalah,” sahut @CupDudul.

Akun @4343_KingKong menjelaskan permasalahan yang dihadapi negara jika terjadi resesi. “Resesi adalah hantu bagi sebuah negara, sebab bisa menimbulkan inflasi harga-harga bahan pokok naik tak terkendali. Dampaknya, banyak rakyat kelaparan. Semua revolusi di dunia berawal dari perut lapar rakyat,” ucapnya. “Aduh ngeri,” sebut @Deslini2.

Kekhawatiran warganet soal resesi sudah didengar Menteri Keuangan Sri Mulyani. Apalagi sebelumnya, berdasarkan survei Bloomberg, Indonesia menduduki peringkat 14 dari 15 negara di Asia yang kemungkinan mengalami resesi ekonomi. Sri Mulyani mewaspadai ini.

Sebenarnya, probabilitas Indonesia masuk jurang resesi hanya 3 persen, jauh dari Sri Lanka yang di angka 85 persen. Di bawah Sri Lanka, masih ada Selandia Baru dengan persentase 33 persen, Korea Selatan 25 persen, Jepang 25 persen, dan China 20 persen. Meski begitu, Sri Mulyani tetap waspada. “Kami tidak akan terlena,” jelasnya.

 

Dia berpendapat, kondisi ekonomi domestik cukup terjaga dengan baik, di antaranya neraca pembayaran maupun APBN. Selain itu, korporasi maupun konsumsi rumah tangga juga terjaga dibandingkan negara lain. Sehingga kondisi Indonesia masih jauh dari resesi ekonomi. “Kita relatif dalam situasi yang tadi disebutkan (survei Bloomberg) bahwa risikonya 3 persen dibandingkan negara lain yang berpotensi mengalami resesi,” terang mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Untuk tetap menjaganya, tambah Sri Mulyani, seluruh instrumen kebijakan akan digunakan, baik kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, maupun regulasi lain untuk mengawasi kemungkinan resesi tersebut. Terutama regulasi dari korporasi di Tanah Air. “Dari sisi korporasi maupun dari rumah tangga kita juga relatif baik,” imbuhnya.

Menurut Sri Mulyani, sektor keuangan Indonesia relatif lebih kuat semenjak krisis global 2008-2009. Dengan demikian, daya tahan Indonesia membaik dan risiko kredit macet perbankan pun terjaga. Hal tersebut menggambarkan seluruh sektor belajar dari krisis global pada 2008-2009.

“Namun, kita tetap harus waspada, karena ini akan berlangsung sampai tahun depan. Risiko global mengenai inflasi dan resesi atau stagflasi sangat nyata dan akan menjadi salah satu topik penting pembahasan di G20 Indonesia,” papar dia.

Ancaman resesi juga diperkuat lewat pernyataan Dana Moneter Internasional (IMF). IMF menyatakan, prospek ekonomi global memburuk sejak April 2022. IMF tidak dapat mengenyampingkan kemungkinan resesi global tahun depan, mengingat faktor risiko yang terus meningkat.

Data ekonomi baru-baru ini menunjukkan beberapa outlook ekonomi besar di dunia, termasuk China dan Rusia, telah mengalami kontraksi pada kuartal kedua. Sehingga, potensi resesi bisa jadi lebih tinggi pada 2023.

Direktur Center of Economic and Law Studie (Celios) Bhima Yudhistira menyebut, ancaman resesi itu fakta. Bukan nakut-nakuti. Ada indikatornya. Misal, tingkat inflasi mulai naik menjadi 4,3 persen per Juni 2022. Harga pangan dan energi yang naik berbahaya bagi daya beli masyarakat. “Kekhawatiran resesi itu memang nyata, karena beberapa indikator ekonomi menunjukkan berbagai tekanan,” ucapnya. [UMM]

]]> Akhir-akhir ini, para pejabat, para politisi, juga para pakar, rame-rame ngomongin ancaman resesi akibat ketidakpastian ekonomi global, dan dampak geopolitik akibat perang Rusia vs Ukraina. Warganet pun ikut-ikutan ngomongin soal rumit itu, dengan menggaungkan #WaspadaResesiEkonomi. Tagar ini dimunculkan bukan untuk menakut-nakuti, tapi mengingatkan agar para pemangku kepentingan di negeri ini tidak lengah hadapi situasi ekonomi dan politik dunia.

Kemunculan #WaspadaResesiEkonomi ini, dipicu geopolitik dunia yang sedang kurang sehat. Mulai dari peperangan antar-negara, perubahan kebiasaan yang dialami masyarakat di sejumlah negara, perubahan teknologi, hingga virus Covid-19 yang tak kunjung musnah. Akibatnya, postur ekonomi dunia ikut bergejolak.

Rakyat berusaha mengingatkan. Gayanya dengan cara kekinian. Yaitu, menggunakan media sosial. Mereka tak punya saluran resmi untuk berekspresi, kecuali berteriak di medsos. Terbitlah #WaspadaResesiEkonomi.

Kemarin, tagar tersebut dicuitkan oleh lebih dari 3.000 akun. Twit-nya macam-macam, tapi poinnya sama, mengingatkan agar Indonesia tidak terjerumus dalam jurang resesi. “Ternyata Pak Jokowi jago memprediksi juga. Prediksinya sekarang ini tepat, Indonesia 2022 di ambang resesi,” timpal @duckbusterr. “Waspadalah waspadalah,” sahut @CupDudul.

Akun @4343_KingKong menjelaskan permasalahan yang dihadapi negara jika terjadi resesi. “Resesi adalah hantu bagi sebuah negara, sebab bisa menimbulkan inflasi harga-harga bahan pokok naik tak terkendali. Dampaknya, banyak rakyat kelaparan. Semua revolusi di dunia berawal dari perut lapar rakyat,” ucapnya. “Aduh ngeri,” sebut @Deslini2.

Kekhawatiran warganet soal resesi sudah didengar Menteri Keuangan Sri Mulyani. Apalagi sebelumnya, berdasarkan survei Bloomberg, Indonesia menduduki peringkat 14 dari 15 negara di Asia yang kemungkinan mengalami resesi ekonomi. Sri Mulyani mewaspadai ini.

Sebenarnya, probabilitas Indonesia masuk jurang resesi hanya 3 persen, jauh dari Sri Lanka yang di angka 85 persen. Di bawah Sri Lanka, masih ada Selandia Baru dengan persentase 33 persen, Korea Selatan 25 persen, Jepang 25 persen, dan China 20 persen. Meski begitu, Sri Mulyani tetap waspada. “Kami tidak akan terlena,” jelasnya.

 

Dia berpendapat, kondisi ekonomi domestik cukup terjaga dengan baik, di antaranya neraca pembayaran maupun APBN. Selain itu, korporasi maupun konsumsi rumah tangga juga terjaga dibandingkan negara lain. Sehingga kondisi Indonesia masih jauh dari resesi ekonomi. “Kita relatif dalam situasi yang tadi disebutkan (survei Bloomberg) bahwa risikonya 3 persen dibandingkan negara lain yang berpotensi mengalami resesi,” terang mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Untuk tetap menjaganya, tambah Sri Mulyani, seluruh instrumen kebijakan akan digunakan, baik kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, maupun regulasi lain untuk mengawasi kemungkinan resesi tersebut. Terutama regulasi dari korporasi di Tanah Air. “Dari sisi korporasi maupun dari rumah tangga kita juga relatif baik,” imbuhnya.

Menurut Sri Mulyani, sektor keuangan Indonesia relatif lebih kuat semenjak krisis global 2008-2009. Dengan demikian, daya tahan Indonesia membaik dan risiko kredit macet perbankan pun terjaga. Hal tersebut menggambarkan seluruh sektor belajar dari krisis global pada 2008-2009.

“Namun, kita tetap harus waspada, karena ini akan berlangsung sampai tahun depan. Risiko global mengenai inflasi dan resesi atau stagflasi sangat nyata dan akan menjadi salah satu topik penting pembahasan di G20 Indonesia,” papar dia.

Ancaman resesi juga diperkuat lewat pernyataan Dana Moneter Internasional (IMF). IMF menyatakan, prospek ekonomi global memburuk sejak April 2022. IMF tidak dapat mengenyampingkan kemungkinan resesi global tahun depan, mengingat faktor risiko yang terus meningkat.

Data ekonomi baru-baru ini menunjukkan beberapa outlook ekonomi besar di dunia, termasuk China dan Rusia, telah mengalami kontraksi pada kuartal kedua. Sehingga, potensi resesi bisa jadi lebih tinggi pada 2023.

Direktur Center of Economic and Law Studie (Celios) Bhima Yudhistira menyebut, ancaman resesi itu fakta. Bukan nakut-nakuti. Ada indikatornya. Misal, tingkat inflasi mulai naik menjadi 4,3 persen per Juni 2022. Harga pangan dan energi yang naik berbahaya bagi daya beli masyarakat. “Kekhawatiran resesi itu memang nyata, karena beberapa indikator ekonomi menunjukkan berbagai tekanan,” ucapnya. [UMM]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories