Survey Zebra Technologies Pasien Khawatir Masalah Supply Chain Di Industri Farmasi

Zebra Technologies Corporation merilis temuan-temuan menarik dari Pharmaceutical Supply Chain Vision Study, Rabu (15/12). Penelitian ini menemukan adanya ketidakpercayaan pasien terhadap obat yang mereka terima dan segmentasi di dalam supply chain farmasi, termasuk pihak yang memproduksi, mendistribusikan, meresepkan, dan mengeluarkan obat-obatan tersebut.

Sebanyak 43 persen pasien takut akan timbulnya penyakit lain dan/atau kematian yang disebabkan oleh obat yang sudah terkontaminasi atau tercemar, tanpa adanya upaya untuk memperbaiki supply chain. Efikasi dan keamanan obat ada di urutan pertama bagi pasien. Sebanyak 3 dari 4 pasien menyatakan mereka agak atau sangat khawatir terhadap ketidakefektifan obat dalam mengobati kondisi atau penyakit mereka. Kemudian, 7 dari 10 pasien khawatir saat menerima dosis obat yang tidak sesuai karena kesalahan dalam pelabelan dan bahaya yang bisa mengintai mereka; obat hasil pencurian, terkontaminasi, tercemar, kadaluarsa, atau palsu; obat yang tidak ditangani/disimpan dengan benar selama masa transit dan kemungkinan mengalami kerusakan atau efikasinya hilang.

Pasien tahu, supply chain yang di bawah standard akan berisiko pada kualitas obat dan efikasinya. Pasien ingin lebih diyakinkan bahwa obat yang mereka konsumsi aman dan asli. Sebanyak 9 dari 10 pasien mengatakan, akan cukup atau sangat penting jika mereka bisa memverifikasi keaslian obat yang diberikan kepada mereka, memastikan bahwa obat tidak dirusak, dan memastikan bahwa obat yang sensitif terhadap suhu tetap disimpan di kisaran suhu yang disarankan.

Menurut survei tersebut, pasien juga mengharapkan produsen obat menunjukkan cara mereka memproduksi/menangani obat (81 persen) dan pengangkutan/penyimpanan obat (82 persen). Sebanyak 80 persen mengatakan penting untuk memverifikasi sumber bahan-bahan obat, termasuk negara asal dan standar lokal obat itu sendiri. Selain itu, 79 persen dari responden mengatakan ingin tahu obat mereka berasal dari sumber yang berkelanjutan dan mengkonfirmasi bahwa produsennya menggunakan teknik yang memperhatikan kelestarian lingkungan, perlindungan hewan dan komunitas manusia, serta kesehatan masyarakat.

“Meskipun pemenuhan standar regulasi adalah fokus para pemimpin industri farmasi, perubahan demand pasien ini menunjukkan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan,” ucap Southeast Asia (SEA) Sales Vice President Zebra Technologies Asia Pacific Christanto Suryadarma, dalam paparannya, Rabu (15/12).

Penelitian ini menunjukkan bahwa industri farmasi harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa mereka menempatkan kepentingan pasien di urutan teratas, apabila mereka ingin mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan konsumen dalam skala besar. “Penting sekali adanya kerja sama dari manufaktur, instansi pemerintah, farmasi, dan layanan kesehatan, untuk meraih kepercayaan konsumen terhadap supply chain,” jelas Christanto.

Pasien Minta Transparansi 
Sebanyak 8 dari 10 pasien setuju bahwa pemerintah/regulator dan perusahaan farmasi harus bekerja sama dengan lebih baik lagi untuk melindungi pasien dan memastikan obat yang mereka terima aman dan efektif. Lebih dari 40 persen pasien serta pembuat keputusan dalam industri farmasi mengatakan, regulator, perusahaan farmasi, dan produsen memiliki tanggung jawab paling besar untuk memerangi obat palsu, pencurian obat dan obat terkontaminasi.

Namun, tanggung jawab untuk menerapkan protokol keamanan yang terpercaya ada di pundak mereka yang memproduksi, merilis, dan mengedarkan obat, yang 57 persen pasien menganggap beban terbesar ada di pundak rumah sakit. “Sangat penting bagi industri farmasi di Asia Pasifik untuk memastikan ada peningkatan dalam traceability dan transparansi di seluruh supply chain,” kata Vertical Solutions Lead Zebra Technologies Asia Pacific Aik Jin Tan.

“Dengan bantuan transparansi yang technology-driven, kekhawatiran mengenai kualitas dan kontrol temperatur, obat yang tepat maupun obat yang di bawah standar, bisa diatasi dan hasilnya adalah terciptanya kepercayaan dalam jangka panjang,” tambah Aik Jin Tan.

 

Mayoritas dari pembuat keputusan dalam industri farmasi (84 persen) merasa bahwa mereka siap mematuhi mandat traceability dan transparansi. Sebanyak tiga perempat menegaskan, mereka sudah menggunakan teknologi location service atau berencana untuk menggunakannya pada tahun depan. Langkah yang akan meningkatkan workflow produksi dan tracking obat, mengurangi penyusutan maupun perubahan, serta memberikan visilibilitas dan informasi yang diinginkan oleh pasien.

Tantangan terbesar yang dihadapi para pemimpin ini adalah memproduksi, dan memindahkan, obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Selain penundaan karena masalah regulasi, pembuat keputusan di industri ini mengatakan bahwa mereka juga berurusan dengan batas produksi, distribusi dan masalah penyimpanan, batasan kapasitas pengiriman, dan penundaan transportasi. Sebagai konsekuensi, 92 persen berencana menambah investasi mereka di sektor manufaktur farmasi dan tool pemantauan supply chain pada tahun depan.

Masalah Point of Sales
Lebih dari tiga perempat pasien yang disurvei mengatakan, mereka pernah menghadapi masalah, baik saat melakukan pembelian atau saat mengonsumsi obat pada masa lalu. Yang mengejutkan, keluhan ini lebih banyak berasal dari generasi milenial (82 persen) dibandingkan generasi boomers (61 persen).

Generasi milenial tidak menoleransi kesalahan, dan memiliki kemungkinan dua kali lipat dibandingkan generasi boomer untuk berpindah apotek demi mendapatkan layanan yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dan 70 persen pasien mengonfirmasikan bahwa mereka pernah beralih ke pemberi resep, apotek atau pemberi obat lain pada masa lalu karena pengalaman yang tidak menyenangkan. 

Di antara berbagai masalah yang dialami pasien, masalah isu efek samping yang berat adalah salah satu dari lima masalah terbesar, tapi ini bukan yang teratas:
1. Obat yang dibutuhkan tidak tersedia atau stok kosong (32 persen)
2. Hanya menerima sebagian obat karena ketidaktersediaan pada saat itu (29 persen)
3. Menemukan produk yang sama dengan harga yang lebih rendah di tempat lain (27 persen)
4. Tidak menerima obat tepat waktu atau saat dibutuhkan (22 persen)
5. Mengalami efek samping yang parah (21 persen).

Mayoritas kekhawatiran berkepanjangan pasien berpusat pada ketersediaan obat (76 persen), dan kurang pasokan (73 persen). Namun, penyedia obat tidak lepas tangan mengenai masalah keamanan dan efikasi. Sebanyak 85 persen pasien mengatakan, semua apotek harus memonitor obat yang dijual, termasuk apotek yang menerima pesanan lewat jasa delivery.

“Zebra memiliki portofolio solusi yang dapat membantu mentransformasi supply chain di industri farmasi, seperti TC52ax, TC52ax-HC, L10ax, VC8300, RFD40, dan ZD621,” tambah Tan. [USU]

]]> Zebra Technologies Corporation merilis temuan-temuan menarik dari Pharmaceutical Supply Chain Vision Study, Rabu (15/12). Penelitian ini menemukan adanya ketidakpercayaan pasien terhadap obat yang mereka terima dan segmentasi di dalam supply chain farmasi, termasuk pihak yang memproduksi, mendistribusikan, meresepkan, dan mengeluarkan obat-obatan tersebut.

Sebanyak 43 persen pasien takut akan timbulnya penyakit lain dan/atau kematian yang disebabkan oleh obat yang sudah terkontaminasi atau tercemar, tanpa adanya upaya untuk memperbaiki supply chain. Efikasi dan keamanan obat ada di urutan pertama bagi pasien. Sebanyak 3 dari 4 pasien menyatakan mereka agak atau sangat khawatir terhadap ketidakefektifan obat dalam mengobati kondisi atau penyakit mereka. Kemudian, 7 dari 10 pasien khawatir saat menerima dosis obat yang tidak sesuai karena kesalahan dalam pelabelan dan bahaya yang bisa mengintai mereka; obat hasil pencurian, terkontaminasi, tercemar, kadaluarsa, atau palsu; obat yang tidak ditangani/disimpan dengan benar selama masa transit dan kemungkinan mengalami kerusakan atau efikasinya hilang.

Pasien tahu, supply chain yang di bawah standard akan berisiko pada kualitas obat dan efikasinya. Pasien ingin lebih diyakinkan bahwa obat yang mereka konsumsi aman dan asli. Sebanyak 9 dari 10 pasien mengatakan, akan cukup atau sangat penting jika mereka bisa memverifikasi keaslian obat yang diberikan kepada mereka, memastikan bahwa obat tidak dirusak, dan memastikan bahwa obat yang sensitif terhadap suhu tetap disimpan di kisaran suhu yang disarankan.

Menurut survei tersebut, pasien juga mengharapkan produsen obat menunjukkan cara mereka memproduksi/menangani obat (81 persen) dan pengangkutan/penyimpanan obat (82 persen). Sebanyak 80 persen mengatakan penting untuk memverifikasi sumber bahan-bahan obat, termasuk negara asal dan standar lokal obat itu sendiri. Selain itu, 79 persen dari responden mengatakan ingin tahu obat mereka berasal dari sumber yang berkelanjutan dan mengkonfirmasi bahwa produsennya menggunakan teknik yang memperhatikan kelestarian lingkungan, perlindungan hewan dan komunitas manusia, serta kesehatan masyarakat.

“Meskipun pemenuhan standar regulasi adalah fokus para pemimpin industri farmasi, perubahan demand pasien ini menunjukkan bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan,” ucap Southeast Asia (SEA) Sales Vice President Zebra Technologies Asia Pacific Christanto Suryadarma, dalam paparannya, Rabu (15/12).

Penelitian ini menunjukkan bahwa industri farmasi harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa mereka menempatkan kepentingan pasien di urutan teratas, apabila mereka ingin mendapatkan kepercayaan dan kesetiaan konsumen dalam skala besar. “Penting sekali adanya kerja sama dari manufaktur, instansi pemerintah, farmasi, dan layanan kesehatan, untuk meraih kepercayaan konsumen terhadap supply chain,” jelas Christanto.

Pasien Minta Transparansi 
Sebanyak 8 dari 10 pasien setuju bahwa pemerintah/regulator dan perusahaan farmasi harus bekerja sama dengan lebih baik lagi untuk melindungi pasien dan memastikan obat yang mereka terima aman dan efektif. Lebih dari 40 persen pasien serta pembuat keputusan dalam industri farmasi mengatakan, regulator, perusahaan farmasi, dan produsen memiliki tanggung jawab paling besar untuk memerangi obat palsu, pencurian obat dan obat terkontaminasi.

Namun, tanggung jawab untuk menerapkan protokol keamanan yang terpercaya ada di pundak mereka yang memproduksi, merilis, dan mengedarkan obat, yang 57 persen pasien menganggap beban terbesar ada di pundak rumah sakit. “Sangat penting bagi industri farmasi di Asia Pasifik untuk memastikan ada peningkatan dalam traceability dan transparansi di seluruh supply chain,” kata Vertical Solutions Lead Zebra Technologies Asia Pacific Aik Jin Tan.

“Dengan bantuan transparansi yang technology-driven, kekhawatiran mengenai kualitas dan kontrol temperatur, obat yang tepat maupun obat yang di bawah standar, bisa diatasi dan hasilnya adalah terciptanya kepercayaan dalam jangka panjang,” tambah Aik Jin Tan.

 

Mayoritas dari pembuat keputusan dalam industri farmasi (84 persen) merasa bahwa mereka siap mematuhi mandat traceability dan transparansi. Sebanyak tiga perempat menegaskan, mereka sudah menggunakan teknologi location service atau berencana untuk menggunakannya pada tahun depan. Langkah yang akan meningkatkan workflow produksi dan tracking obat, mengurangi penyusutan maupun perubahan, serta memberikan visilibilitas dan informasi yang diinginkan oleh pasien.

Tantangan terbesar yang dihadapi para pemimpin ini adalah memproduksi, dan memindahkan, obat-obatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Selain penundaan karena masalah regulasi, pembuat keputusan di industri ini mengatakan bahwa mereka juga berurusan dengan batas produksi, distribusi dan masalah penyimpanan, batasan kapasitas pengiriman, dan penundaan transportasi. Sebagai konsekuensi, 92 persen berencana menambah investasi mereka di sektor manufaktur farmasi dan tool pemantauan supply chain pada tahun depan.

Masalah Point of Sales
Lebih dari tiga perempat pasien yang disurvei mengatakan, mereka pernah menghadapi masalah, baik saat melakukan pembelian atau saat mengonsumsi obat pada masa lalu. Yang mengejutkan, keluhan ini lebih banyak berasal dari generasi milenial (82 persen) dibandingkan generasi boomers (61 persen).

Generasi milenial tidak menoleransi kesalahan, dan memiliki kemungkinan dua kali lipat dibandingkan generasi boomer untuk berpindah apotek demi mendapatkan layanan yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Dan 70 persen pasien mengonfirmasikan bahwa mereka pernah beralih ke pemberi resep, apotek atau pemberi obat lain pada masa lalu karena pengalaman yang tidak menyenangkan. 

Di antara berbagai masalah yang dialami pasien, masalah isu efek samping yang berat adalah salah satu dari lima masalah terbesar, tapi ini bukan yang teratas:
1. Obat yang dibutuhkan tidak tersedia atau stok kosong (32 persen)
2. Hanya menerima sebagian obat karena ketidaktersediaan pada saat itu (29 persen)
3. Menemukan produk yang sama dengan harga yang lebih rendah di tempat lain (27 persen)
4. Tidak menerima obat tepat waktu atau saat dibutuhkan (22 persen)
5. Mengalami efek samping yang parah (21 persen).

Mayoritas kekhawatiran berkepanjangan pasien berpusat pada ketersediaan obat (76 persen), dan kurang pasokan (73 persen). Namun, penyedia obat tidak lepas tangan mengenai masalah keamanan dan efikasi. Sebanyak 85 persen pasien mengatakan, semua apotek harus memonitor obat yang dijual, termasuk apotek yang menerima pesanan lewat jasa delivery.

“Zebra memiliki portofolio solusi yang dapat membantu mentransformasi supply chain di industri farmasi, seperti TC52ax, TC52ax-HC, L10ax, VC8300, RFD40, dan ZD621,” tambah Tan. [USU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories