Survei IPO: Anies, Ganjar Dan Prabowo Tertinggi Airlangga Nyalip Di Tikungan AHY Disebut The Rising Star

Indonesia Political Opinion (IPO) kembali merilis survei bursa capres menjelang Pemilu 2024. Hasilnya, masih didominasi tiga nama dengan elektabilitas tinggi. Yaitu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

“Anies, Ganjar dan Prabowo tetap memperoleh persepsi yang cukup dominan,” ujar Direktur IPO Dedi Kurnia Syah di acara diskusi bertajuk Konstelasi dan Regenarasi Kepemimpinan Nasional 2024, yang digelar MNC Trijaya dan disiarkan di jejaring YouTube, kemarin.

Di survei nasional yang digelar medio 23-28 Mei 2024, kata Dedi, tiga nama itu tetap mendominasi perolehan suara dengan beragam skema wakil. Setidaknya, IPO menawarkan delapan skema, dengan memasuknya sejumlah nama top di bursa Pilpres 2024.

Misalnya, di skema pertarungan tiga paslon: Anies-Sandi, Airlangga-Ganjar dan Puan Maharani-Erick Thohir. Hasilnya, Anies-Sandi meraih 31,7 persen. Airlangga-Ganjar 18,5 persen dan Puan-Erick 14,6 persen

Pun di skema Prabowo-Ganjar 34,9 persen, Puan-Sandiaga 7,4 persen dan Airlangga-Zulhas 6,2 persen.

Di Skema selanjutnya, Prabowo-Anies 36,8 persen, Ganjar-AHY 21,3 persen dan Airlangga-Erick 13,2 persen.

“Anies dapat dianggap sebagai tokoh dengan elektabilitas paling stabil,” katanya.

Dedi memberikan catatan terhadap tokoh-tokoh yang tergabung di dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang konon bakal berkoalisi di Pemilu 2024, seperti Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Umum PPP Suharso, belum bisa mendongkraksuara.

Disinggung soal keterpilihan Airlangga sebagai tokoh yang digadang Golkar sebagai capres, Dedi tidak menampik Airlangga punya peluang keterusungan. Meski untuk menang diperlukan pekerjaan tambahan yang berat.

Dedi bilang, jika dihitung dari porsi elektabilitas Zulkifli Hasan, Airlangga Hartarto dan Suharso Monoarfa, Airlangga bukanlah yang tertinggi. Sehingga akan menyulitkan kerja-kerja mesin politik untuk mempromosikan lebih jauh.

Sementara, koalisi itu perlu menimbang kehadiran tokoh lain yang lebih potensial, meski bukan dari kader ketiganya.

Pun, ketika dibandingkan dengan Puan Maharani sebagai satu-satunya tokoh perempuan, justru memperoleh dukungan publik yang baik. Meski elektabilitas Puan dengan PDIP begitu tertinggal jauh. PDIP masih berada di puncak bursa parpol. Artinya, Puan masih leluasa untuk meningkatkan elektabilitasnya.

 

Di survei bursa parpol, PDIP masih ada di posisi puncak dengan elektabilitas 24,8 persen. Di posisi kedua, ada Partai Gerindra dengan 11,6 persen, dikejar Partai Demokrat dengan 10,8 persen. Selanjutnya, Partai Golkar 9,7 persen, PKB 9,2 persen dan Partai NasDem 5,9 persen.

Ketua DPP Partai Golkar Dave Akbarsyah Fikarno menepis asumsi tersebut. Menurutnya, Airlangga secara personal memiliki kemampuan tinggi sebagai pimpinan nasional, dan belum lama turun gunung sosialisasi capres karena sibuk di dalam pemerintahan.

“Lemah dari mana? Kalau kemampuan sebagai menteri berhasil. Ada buktinya. Ini pendapat pribadi atau hasil data. Kami dari awal mendorong Airlangga, karena ini kehendak seluruh kader Partai Golkar,” ujar Dave.

Menurutnya, Pilpres 2024 masih 20 bulan lagi. Golkar akan berusaha keras mendongkrak elektabilitas Airlangga. Pun, mesin politik Beringin saat ini tengah melakukan pemetaan di seluruh daerah pemilihan untuk menempatkan kader terbaik untuk menjadi caleg.

“Sampai saat ini tidak ada calon lain bagi Golkar untuk capres. Intensitas Pak Airlangga, komunikasi langsung kan baru beberapa bulan terakhir. Sementara yang lain ada yang sudah nyapres berkali-kali, kami bisa main di tikungan,” pungkasnya.

Sementara, anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Syarief Hasan memiliki analisa lain. Menurutnya, elektabilitas Prabowo saat ini memasuki tren menurun.

“Prabowo tidak akan naik lagi, bahkan akan turun. Publik mencari siapa capres yang komit terhadap perubahan,” ujar Syarif.

Suami dari aktris Ingrid Kansil ini tanpa ragu mengungkapkan, saat ini ada duet rising star. Yaitu, Anies-AHY. Konon, duet ini mencapai elektabilitas 27 persen.

Sementara AHY, sempat disurvei nomor empat capres dan selalu pertama di bursa cawapres.

“Artinya, rakyat sudah menemukan sosok rising star yang kebetulan Ketua Umum Demokrat,” katanya.

Untuk diketahui, survei IPO ini digelar melalui wawancara dengan sistem tatap muka dan sambungan telepon dengan total 1.200 responden di seluruh Indonesia.

Metode ini, memiliki pengukuran kesalahan atau margin of error sebesar 2,90 persen, dengan tingkat akurasi data 95 persen. ■

]]> Indonesia Political Opinion (IPO) kembali merilis survei bursa capres menjelang Pemilu 2024. Hasilnya, masih didominasi tiga nama dengan elektabilitas tinggi. Yaitu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

“Anies, Ganjar dan Prabowo tetap memperoleh persepsi yang cukup dominan,” ujar Direktur IPO Dedi Kurnia Syah di acara diskusi bertajuk Konstelasi dan Regenarasi Kepemimpinan Nasional 2024, yang digelar MNC Trijaya dan disiarkan di jejaring YouTube, kemarin.

Di survei nasional yang digelar medio 23-28 Mei 2024, kata Dedi, tiga nama itu tetap mendominasi perolehan suara dengan beragam skema wakil. Setidaknya, IPO menawarkan delapan skema, dengan memasuknya sejumlah nama top di bursa Pilpres 2024.

Misalnya, di skema pertarungan tiga paslon: Anies-Sandi, Airlangga-Ganjar dan Puan Maharani-Erick Thohir. Hasilnya, Anies-Sandi meraih 31,7 persen. Airlangga-Ganjar 18,5 persen dan Puan-Erick 14,6 persen

Pun di skema Prabowo-Ganjar 34,9 persen, Puan-Sandiaga 7,4 persen dan Airlangga-Zulhas 6,2 persen.

Di Skema selanjutnya, Prabowo-Anies 36,8 persen, Ganjar-AHY 21,3 persen dan Airlangga-Erick 13,2 persen.

“Anies dapat dianggap sebagai tokoh dengan elektabilitas paling stabil,” katanya.

Dedi memberikan catatan terhadap tokoh-tokoh yang tergabung di dalam Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang konon bakal berkoalisi di Pemilu 2024, seperti Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PAN Zulkifli Hasan dan Ketua Umum PPP Suharso, belum bisa mendongkraksuara.

Disinggung soal keterpilihan Airlangga sebagai tokoh yang digadang Golkar sebagai capres, Dedi tidak menampik Airlangga punya peluang keterusungan. Meski untuk menang diperlukan pekerjaan tambahan yang berat.

Dedi bilang, jika dihitung dari porsi elektabilitas Zulkifli Hasan, Airlangga Hartarto dan Suharso Monoarfa, Airlangga bukanlah yang tertinggi. Sehingga akan menyulitkan kerja-kerja mesin politik untuk mempromosikan lebih jauh.

Sementara, koalisi itu perlu menimbang kehadiran tokoh lain yang lebih potensial, meski bukan dari kader ketiganya.

Pun, ketika dibandingkan dengan Puan Maharani sebagai satu-satunya tokoh perempuan, justru memperoleh dukungan publik yang baik. Meski elektabilitas Puan dengan PDIP begitu tertinggal jauh. PDIP masih berada di puncak bursa parpol. Artinya, Puan masih leluasa untuk meningkatkan elektabilitasnya.

 

Di survei bursa parpol, PDIP masih ada di posisi puncak dengan elektabilitas 24,8 persen. Di posisi kedua, ada Partai Gerindra dengan 11,6 persen, dikejar Partai Demokrat dengan 10,8 persen. Selanjutnya, Partai Golkar 9,7 persen, PKB 9,2 persen dan Partai NasDem 5,9 persen.

Ketua DPP Partai Golkar Dave Akbarsyah Fikarno menepis asumsi tersebut. Menurutnya, Airlangga secara personal memiliki kemampuan tinggi sebagai pimpinan nasional, dan belum lama turun gunung sosialisasi capres karena sibuk di dalam pemerintahan.

“Lemah dari mana? Kalau kemampuan sebagai menteri berhasil. Ada buktinya. Ini pendapat pribadi atau hasil data. Kami dari awal mendorong Airlangga, karena ini kehendak seluruh kader Partai Golkar,” ujar Dave.

Menurutnya, Pilpres 2024 masih 20 bulan lagi. Golkar akan berusaha keras mendongkrak elektabilitas Airlangga. Pun, mesin politik Beringin saat ini tengah melakukan pemetaan di seluruh daerah pemilihan untuk menempatkan kader terbaik untuk menjadi caleg.

“Sampai saat ini tidak ada calon lain bagi Golkar untuk capres. Intensitas Pak Airlangga, komunikasi langsung kan baru beberapa bulan terakhir. Sementara yang lain ada yang sudah nyapres berkali-kali, kami bisa main di tikungan,” pungkasnya.

Sementara, anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Syarief Hasan memiliki analisa lain. Menurutnya, elektabilitas Prabowo saat ini memasuki tren menurun.

“Prabowo tidak akan naik lagi, bahkan akan turun. Publik mencari siapa capres yang komit terhadap perubahan,” ujar Syarif.

Suami dari aktris Ingrid Kansil ini tanpa ragu mengungkapkan, saat ini ada duet rising star. Yaitu, Anies-AHY. Konon, duet ini mencapai elektabilitas 27 persen.

Sementara AHY, sempat disurvei nomor empat capres dan selalu pertama di bursa cawapres.

“Artinya, rakyat sudah menemukan sosok rising star yang kebetulan Ketua Umum Demokrat,” katanya.

Untuk diketahui, survei IPO ini digelar melalui wawancara dengan sistem tatap muka dan sambungan telepon dengan total 1.200 responden di seluruh Indonesia.

Metode ini, memiliki pengukuran kesalahan atau margin of error sebesar 2,90 persen, dengan tingkat akurasi data 95 persen. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories