Supaya Tak Termakan Hoaks Soal Corona Verifikasi Beritanya, Silakan Tanya media@covid19.go.id

Sekarang tak perlu bingung untuk mendapatkan informasi Covid-19. Berita-berita yang kontroversial, bisa diuji kesahihannya dengan bertanya ke media@covid19.go.id.

Akun Twitter @lawancovid19_id menjelaskan situasi pandemi Covid-19 yang ditaburi dengan infodemi. Yaitu, situasi di mana terlalu banyak informasi yang beredar di jagat maya.

“Membuat orang bingung dengan informasi yang ada, apakah hoaks atau fakta, opini atau berita,” ujar @lawancovid19_id.

Kata dia, daripada bingung, mending bertanya langsung ke pakar Covid-19. Dia bilang, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 membuka kanal untuk bertanya dengan berkirim email ke media@covid19.go.id.

“Kirim pertanyaan dengan subjek email “Tanya Pakar” dan pertanyaan yang masuk nantinya akan dijawab melalui kanal me­dia sosial secara berkala,” jelas @lawan­covid19_id.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Reisa Brotoasmoro menegaskan, ada tiga kanal informasi resmi Pemerintah terkait pandemi Covid-19. Yaitu, melalui laman covid19.go.id, kemkes.go.id, dan @lawancovid19_id.

Reisa mengingatkan, berita hoaks tentang pandemi Covid-19 bisa berdampak sangat fatal. Pertama, menyebarkan berita hoaks berujung pada sanksi pidana. Kedua, bisa juga membahayakan nyawa orang lain.

“Lindungi diri kita dari penyakit dan berita bohong. Yakinkan aman dari risiko penyakit dan hoaks, dan imun kita meningkat,” saran Reisa melalui tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Senin (8/2).

Netizen mengimbau masyarakat memasti­kan setiap informasi terkait Covid-19 yang diterima berasal dari sumber terpercaya. Sebab, semakin banyak masyarakat yang percaya hoaks, semakin jauh harapan untuk hidup normal.

Akun @BPOM_RI mengatakan, selama pandemi Covid-19 muncul ancaman serius lainnya selain virus Corona itu sendiri yang dikenal dengan nama infodemi. Yaitu, mun­culnya beragam informasi yang begitu banyak dan belum jelas kebenarannya.

“Dan itu mempengaruhi sikap dan mengancam kesehatan masyarakat,” katanya.

 

@kominfongw menyambung. Dia bilang, pandemi Covid-19 ditambah faktor media so­sial bisa mengakibatkan adanya infodemi atau pandemi informasi yang dapat mengaburkan fakta dengan hoaks.

Aptika menambahkan. Kata dia, World Health Organization (WHO) telah memunculkan istilah infodemi yang menggambarkan persebaran hoaks berkaitan dengan pandemi.

“Ada tiga bentuk infodemi yang beredar, yaitu disinformasi, malinformasi dan misin­formasi,” bebernya.

Sekar Gandhawangi menimpali. Dia mengingatkan, infodemi bebahaya bagi efektivitas penanganan Covid-19. Kata dia, semakin ban­yak masyarakat yang percaya hoaks, semakin jauh harapan untuk hidup normal.

“Waspada infodemi seputar Covid-19 bisa hambat penanganan pandemi,” sahut Joshua.

Menurut Unicef Indonesia, pandemi dita­mbah faktor media sosial yang dengan cepat menyebarkan informasi, mengakibatkan adanya infodemi. Yaitu, pandemi informasi yang dapat mengaburkan fakta dengan hoaks.

“Sejak akhir Januari hingga awal Agustus 2020, Kemenkominfo maupun lembaga-lemba­ga independen telah mencatat ribuan infodemi terkait Covid-19,” kata Jaya Katwang.

Menurut Mafindo, lebih dari 40 persen hoaks menyasar isu pencegahan dan pengobatan Covid- 19. Dia mengingatkan masyarakat untuk hati-hati dan waspada jika ada yang mengklaim telah men­emukan obat atau pencegahan Covid-19.

“Maraknya arus infodemi atau sebaran hoaks selama masa pandemi perlu terus dihalau demi melindungi masyarakat dari terpaan informasi menyesatkan. Khususnya mengenai vaksin Covid-19,” kata Seruan H7.

Dadang Sutarjan mengingatkan, infodemi sangat menggangu penanganan pandemi Covid- 19. Kata dia, dibutuhkan keseriusan bersama untuk menangkal berita-berita hoaks yang menyesatkan.

“Situasi saat ini sangat berpengaruh terh­adap banyaknya arus informasi yang akan kita konsumsi. Karena itu, pastikan informasi yang didapat bukanlah informasi hoaks,” tandas @ disbudparbdg. [TIF]

]]> Sekarang tak perlu bingung untuk mendapatkan informasi Covid-19. Berita-berita yang kontroversial, bisa diuji kesahihannya dengan bertanya ke media@covid19.go.id.

Akun Twitter @lawancovid19_id menjelaskan situasi pandemi Covid-19 yang ditaburi dengan infodemi. Yaitu, situasi di mana terlalu banyak informasi yang beredar di jagat maya.

“Membuat orang bingung dengan informasi yang ada, apakah hoaks atau fakta, opini atau berita,” ujar @lawancovid19_id.

Kata dia, daripada bingung, mending bertanya langsung ke pakar Covid-19. Dia bilang, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 membuka kanal untuk bertanya dengan berkirim email ke media@covid19.go.id.

“Kirim pertanyaan dengan subjek email “Tanya Pakar” dan pertanyaan yang masuk nantinya akan dijawab melalui kanal me­dia sosial secara berkala,” jelas @lawan­covid19_id.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Reisa Brotoasmoro menegaskan, ada tiga kanal informasi resmi Pemerintah terkait pandemi Covid-19. Yaitu, melalui laman covid19.go.id, kemkes.go.id, dan @lawancovid19_id.

Reisa mengingatkan, berita hoaks tentang pandemi Covid-19 bisa berdampak sangat fatal. Pertama, menyebarkan berita hoaks berujung pada sanksi pidana. Kedua, bisa juga membahayakan nyawa orang lain.

“Lindungi diri kita dari penyakit dan berita bohong. Yakinkan aman dari risiko penyakit dan hoaks, dan imun kita meningkat,” saran Reisa melalui tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Senin (8/2).

Netizen mengimbau masyarakat memasti­kan setiap informasi terkait Covid-19 yang diterima berasal dari sumber terpercaya. Sebab, semakin banyak masyarakat yang percaya hoaks, semakin jauh harapan untuk hidup normal.

Akun @BPOM_RI mengatakan, selama pandemi Covid-19 muncul ancaman serius lainnya selain virus Corona itu sendiri yang dikenal dengan nama infodemi. Yaitu, mun­culnya beragam informasi yang begitu banyak dan belum jelas kebenarannya.

“Dan itu mempengaruhi sikap dan mengancam kesehatan masyarakat,” katanya.

 

@kominfongw menyambung. Dia bilang, pandemi Covid-19 ditambah faktor media so­sial bisa mengakibatkan adanya infodemi atau pandemi informasi yang dapat mengaburkan fakta dengan hoaks.

Aptika menambahkan. Kata dia, World Health Organization (WHO) telah memunculkan istilah infodemi yang menggambarkan persebaran hoaks berkaitan dengan pandemi.

“Ada tiga bentuk infodemi yang beredar, yaitu disinformasi, malinformasi dan misin­formasi,” bebernya.

Sekar Gandhawangi menimpali. Dia mengingatkan, infodemi bebahaya bagi efektivitas penanganan Covid-19. Kata dia, semakin ban­yak masyarakat yang percaya hoaks, semakin jauh harapan untuk hidup normal.

“Waspada infodemi seputar Covid-19 bisa hambat penanganan pandemi,” sahut Joshua.

Menurut Unicef Indonesia, pandemi dita­mbah faktor media sosial yang dengan cepat menyebarkan informasi, mengakibatkan adanya infodemi. Yaitu, pandemi informasi yang dapat mengaburkan fakta dengan hoaks.

“Sejak akhir Januari hingga awal Agustus 2020, Kemenkominfo maupun lembaga-lemba­ga independen telah mencatat ribuan infodemi terkait Covid-19,” kata Jaya Katwang.

Menurut Mafindo, lebih dari 40 persen hoaks menyasar isu pencegahan dan pengobatan Covid- 19. Dia mengingatkan masyarakat untuk hati-hati dan waspada jika ada yang mengklaim telah men­emukan obat atau pencegahan Covid-19.

“Maraknya arus infodemi atau sebaran hoaks selama masa pandemi perlu terus dihalau demi melindungi masyarakat dari terpaan informasi menyesatkan. Khususnya mengenai vaksin Covid-19,” kata Seruan H7.

Dadang Sutarjan mengingatkan, infodemi sangat menggangu penanganan pandemi Covid- 19. Kata dia, dibutuhkan keseriusan bersama untuk menangkal berita-berita hoaks yang menyesatkan.

“Situasi saat ini sangat berpengaruh terh­adap banyaknya arus informasi yang akan kita konsumsi. Karena itu, pastikan informasi yang didapat bukanlah informasi hoaks,” tandas @ disbudparbdg. [TIF]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories