Supaya Kuat Saat Pandemi, Pedagang Kecil Perlu Disuntik Bantuan Modal .

Pedagang kecil masih sangat membutuhkan bantuan untuk meningkatkan usaha mereka. Apalagi jumlah mereka kini makin meningkat imbas pandemi yang belum terlihat juntrungannya.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menilai pedagang kecil atau pelaku usaha berskala mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan sektor penggerak utama perekonomian Indonesia. Karenanya pemulihan ekonomi nasional, perlu berangkat dari pemulihan pedagang kecil atau pelaku UMKM.

Dia mengatakan tahun 2020 proporsi kredit UMKM dalam total kredit perbankan baru mencapai 19,97 persen. Padahal idealnya, dengan populasi UMKM yang besar dan makin bertambah, maka bantuan pendanaan untuk UMKM harus meningkat.

“Maka di sini pekerjaan rumah yang mesti kita selesaikan supaya UMKM kita ini lebih berdaya saing,” kata Menteri Teten dalam webinar Warta Ekonomi bertajuk Peran Serta Sektor Keuangan Bangkitkan UMKM: Ragam Dukungan Menuju Pemulihan Ekonomi Nasional, Senin (1/3).

Kemenkop UKM tengah menyiapkan stimulus di tahun ini untuk membangkitkan UMKM agar berdampak pada perekonomian Indonesia secara agregat. Antara lain berupa subsidi bunga KUR dan Non-KUR, KUR Super Mikro, modal kerja koperasi melalui LPDB dan Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM).

“Untuk meningkatkan pembiayaan formal, kami bersama Bank Indonesia, perbankan, dan berbagai lembaga pembiayaan berupaya meningkatkan literasi keuangan UMKM, mengupayakan pembiayaan ini sesuai amanat UU Cipta Kerja,” terangnya.

Peneliti Senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia (LPEM) FEBUI Zakir Sjakur Machmud mengatakan, pandemi Covid-19 sangat dahsyat menghantam dunia usaha.

“Untuk membantu UMKM ini butuh sinergi semua pemangku kepentingan seperti akademisi, bisnis, masyarakat, dan pemerintah,” ujarnya.

Namun di sisi lain, kondisi ini memicu tumbuhnya banyak pelaku UMKM. Perlu diingat bahwa masih banyak UMKM yang membutuhkan bantuan permodalan hingga pemasaran. Ia menyebut bahwa sektor keuangan, baik bank maupun nonbank, masih punya ruang untuk memperbesar akses permodalan yang sesuai kebutuhan UMKM, yang bervariasi, dan yang cepat.

“Akses permodalan ini diharapkan mampu mengangkat lagi UMKM Indonesia,” tegasnya.

Di samping itu UMKM juga butuh pendampingan dalam berbagai bentuk seperti training, mentoring, consulting, dan lain-lain. “Mau tidak mau kita harus mendorong UMKM sehingga siap dengan situasi digitalisasi, mulai dari pemasaran, pembayaran, manajemen keuangan, logistik, dan pembiyaan,” beber Zakir.

Head of Business Banking UOB Indonesia Paul Kan Ngee Fei memandang pandemi telah mempercepat pergerakan teknologi digital. Hal ini membuat UMKM menempatkan teknologi sebagai prioritas investasi mereka untuk bertahan selama pandemi. 

“Menjawab kebutuhan tersebut, UOB menyediakan aplikasi khusus untuk UMKM; UOB BizSmart. UOB BizSmart dapat mengubah tantangan menjadi peluang yang lebih baik,” ucapnya.

Sementara itu, SM Micro Business Development BRI Himawan Dwi Laksana menuturkan, Bank BRI fokus membantu  para debitur UMKM dengan mendigitalisasi proses bisnis BRI. Pihaknya memiliki program pemberdayaan UMKM. “Kami sangat konsen di pemberdayaan karena bagi kami, pembiayaan tanpa pemberdayaan sama saja dengan kami memberikan sesuatu yang tidak maksimal. Begitu juga sebaliknya,” tutur Himawan.[JAR]

]]> .
Pedagang kecil masih sangat membutuhkan bantuan untuk meningkatkan usaha mereka. Apalagi jumlah mereka kini makin meningkat imbas pandemi yang belum terlihat juntrungannya.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menilai pedagang kecil atau pelaku usaha berskala mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan sektor penggerak utama perekonomian Indonesia. Karenanya pemulihan ekonomi nasional, perlu berangkat dari pemulihan pedagang kecil atau pelaku UMKM.

Dia mengatakan tahun 2020 proporsi kredit UMKM dalam total kredit perbankan baru mencapai 19,97 persen. Padahal idealnya, dengan populasi UMKM yang besar dan makin bertambah, maka bantuan pendanaan untuk UMKM harus meningkat.

“Maka di sini pekerjaan rumah yang mesti kita selesaikan supaya UMKM kita ini lebih berdaya saing,” kata Menteri Teten dalam webinar Warta Ekonomi bertajuk Peran Serta Sektor Keuangan Bangkitkan UMKM: Ragam Dukungan Menuju Pemulihan Ekonomi Nasional, Senin (1/3).

Kemenkop UKM tengah menyiapkan stimulus di tahun ini untuk membangkitkan UMKM agar berdampak pada perekonomian Indonesia secara agregat. Antara lain berupa subsidi bunga KUR dan Non-KUR, KUR Super Mikro, modal kerja koperasi melalui LPDB dan Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM).

“Untuk meningkatkan pembiayaan formal, kami bersama Bank Indonesia, perbankan, dan berbagai lembaga pembiayaan berupaya meningkatkan literasi keuangan UMKM, mengupayakan pembiayaan ini sesuai amanat UU Cipta Kerja,” terangnya.

Peneliti Senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia (LPEM) FEBUI Zakir Sjakur Machmud mengatakan, pandemi Covid-19 sangat dahsyat menghantam dunia usaha.

“Untuk membantu UMKM ini butuh sinergi semua pemangku kepentingan seperti akademisi, bisnis, masyarakat, dan pemerintah,” ujarnya.

Namun di sisi lain, kondisi ini memicu tumbuhnya banyak pelaku UMKM. Perlu diingat bahwa masih banyak UMKM yang membutuhkan bantuan permodalan hingga pemasaran. Ia menyebut bahwa sektor keuangan, baik bank maupun nonbank, masih punya ruang untuk memperbesar akses permodalan yang sesuai kebutuhan UMKM, yang bervariasi, dan yang cepat.

“Akses permodalan ini diharapkan mampu mengangkat lagi UMKM Indonesia,” tegasnya.

Di samping itu UMKM juga butuh pendampingan dalam berbagai bentuk seperti training, mentoring, consulting, dan lain-lain. “Mau tidak mau kita harus mendorong UMKM sehingga siap dengan situasi digitalisasi, mulai dari pemasaran, pembayaran, manajemen keuangan, logistik, dan pembiyaan,” beber Zakir.

Head of Business Banking UOB Indonesia Paul Kan Ngee Fei memandang pandemi telah mempercepat pergerakan teknologi digital. Hal ini membuat UMKM menempatkan teknologi sebagai prioritas investasi mereka untuk bertahan selama pandemi. 

“Menjawab kebutuhan tersebut, UOB menyediakan aplikasi khusus untuk UMKM; UOB BizSmart. UOB BizSmart dapat mengubah tantangan menjadi peluang yang lebih baik,” ucapnya.

Sementara itu, SM Micro Business Development BRI Himawan Dwi Laksana menuturkan, Bank BRI fokus membantu  para debitur UMKM dengan mendigitalisasi proses bisnis BRI. Pihaknya memiliki program pemberdayaan UMKM. “Kami sangat konsen di pemberdayaan karena bagi kami, pembiayaan tanpa pemberdayaan sama saja dengan kami memberikan sesuatu yang tidak maksimal. Begitu juga sebaliknya,” tutur Himawan.[JAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories