Supaya Gaduh Kudeta Mereda  Moeldoko Hormat Ke SBY, AHY Hormat Ke Moeldoko

Isu kudeta di Partai Demokrat terus merembet ke mana-mana. Ada yang menyebut fakta. Ada yang merasa difitnah. Jadilah isu ini semakin panas. Agar fokus penanganan Corona tak terganggu, lalu kondisi di Demokrat juga tenang lagi, ada saran, sebaiknya Moeldoko sowan dan hormat ke Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ayah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mantan senior dan atasannya di TNI. Lalu, AHY juga sowan dan hormat ke Moeldoko, seniornya juga bekas atasannya di TNI, dulu.

Moeldoko sudah dua kali mengeluarkan pernyataan tak punya niat sama sekali mengkudeta AHY dari kursi Ketua Umum Demokrat. Dia mengakui, memang sempat bertemu dengan beberapa kader Demokrat. Namun, dia memastikan, pertemuan itu hanya untuk ngopi-ngopi saja. “Aku ngopi-ngopi, kenapa ada yang grogi,” kata Kepala Staf Presiden ini, saat konferensi pers, Rabu (3/1).

Para politisi Demokrat tetap yakin betul Moeldoko punya niat merebut Partai Demokrat. Sekjen DPP Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya menyebut Moeldoko telah memberikan dana awal sebesar 25 persen kepada sejumlah kader partainya untuk melancarkan gerakan pengambilalihan kepemimpinan AHY.

Riefky mengklaim, informasi tersebut valid berdasarkan kesaksian sejumlah kader Partai Demokrat. “Telah dibagikan dana awal sekitar 25 persen. Sedangkan sisanya akan diberikan jika KLB (Kongres Luar Biasa) selesai dilaksanakan, dan Moeldoko telah menjadi pemimpin baru,” ucapnya, dalam keterangan tertulis, kemarin.

Terkait surat AHY yang tak dibalas Jokowi, Riefky tak terlalu masalah. Hanya saja, tidak ada balasan itu, baginya meninggalkan teka-teki.

“Namun, kami tetap menghormati keputusan dan pilihan Presiden Jokowi tersebut. Kami tetap berkeyakinan bahwa Presiden Jokowi maupun pejabat negara yang namanya disebut-sebut, benar-benar tidak mengetahui adanya gerakan pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat, apalagi terlibat,” ujar politisi asal Aceh tersebut.

Namun, politisi Partai Demokrat, Andi Mallarangeng terlihat masih tidak terima dengan belum dibalasnya surat AHY itu. Bahkan, mantan terpidana kasus Hambalang ini menyebut, Moeldoko mendapat restu “Pak Lurah”.

“Kemudian katanya juga sudah direstui oleh Pak Lurah serta menteri lainnya, termasuk Menkum HAM,” tudingnya.

Melihat hal itu, politisi PPP Joko Purwanto meminta Andi tak melebarkan masalah. Apalagi menyebut “Pak Lurah” dalam persoalan Partai Demokrat. “Terlalu berat dan keji tuduhan itu,” katanya, kepada wartawan, kemarin.

 

Dia pun menyarankan agar kegaduhan ini cepat diselesaikan. Apalagi, saat ini bangsa Indonesia tengah dihadapkan masalah pandemi Covid-19. Saling menghormati menjadi solusi bagi segala macam persoalan. Termasuk soal kudeta kepemimpinan Partai Demokrat. “Saling menghormati dan meningkatkan silaturahmi mungkin lebih baik,” katanya kepada Rakyat Merdeka, semalam.

Karena itu, dia berharap, kader Partai Demokrat tak perlu lagi mencari-cari persoalan baru. Sebab, hal itu bisa membuat masalah menjadi runyam.

Dia juga menyayangkan sikap AHY yang terlalu terburu-buru menggelar konferensi pers dan menyebut ada lingkaran Istana yang melakukan gerakan politik untuk mengambil alih kursi Ketua Umum Partai. Harusnya AHY melakukan konsolidasi ke internal dan perkuat fungsi kepemimpinannya.

“Kemudian, AHY bisa minta waktu menghadap Presiden Jokowi. Tak usah kirim surat-suratan segala. Pasti diterima dengan baik-baik,” sarannya.

Menurutnya, langkah itu akan memberikan ketenangan terhadap publik dan tidak menimbulkan kegaduhan. “Kalau begitu, malah berpotensi banyak musuh nantinya,” kata anggota DPR periode 2014-2019 itu.

Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo ikut berharap kegaduhan ini segera berakhir. Baik kader partai maupun di luar partai Demokrat, harus bisa saling menghormati dan menghargai.

Dia meminta Moeldoko ataupun pihak di luar partai untuk menghormati kedaulatan partai. Begitu juga AHY dan kader Partai Demokrat agar tidak tipis kuping atau baper dan reaksioner. Apalagi, saat ini bangsa Indonesia tengah dihadapi masalah pandemi.

“Saling menghormati tentu akan lebih baik dan bisa mendinginkan suasana. Misalnya, Pak Moeldoko sowan dan hormat ke Pak SBY dan AHY sowan dan hormat ke Moeldoko, saya rasa ini bisa selesai,” katanya kepada Rakyat Merdeka, tadi malam. [QAR]

]]> Isu kudeta di Partai Demokrat terus merembet ke mana-mana. Ada yang menyebut fakta. Ada yang merasa difitnah. Jadilah isu ini semakin panas. Agar fokus penanganan Corona tak terganggu, lalu kondisi di Demokrat juga tenang lagi, ada saran, sebaiknya Moeldoko sowan dan hormat ke Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ayah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mantan senior dan atasannya di TNI. Lalu, AHY juga sowan dan hormat ke Moeldoko, seniornya juga bekas atasannya di TNI, dulu.

Moeldoko sudah dua kali mengeluarkan pernyataan tak punya niat sama sekali mengkudeta AHY dari kursi Ketua Umum Demokrat. Dia mengakui, memang sempat bertemu dengan beberapa kader Demokrat. Namun, dia memastikan, pertemuan itu hanya untuk ngopi-ngopi saja. “Aku ngopi-ngopi, kenapa ada yang grogi,” kata Kepala Staf Presiden ini, saat konferensi pers, Rabu (3/1).

Para politisi Demokrat tetap yakin betul Moeldoko punya niat merebut Partai Demokrat. Sekjen DPP Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya menyebut Moeldoko telah memberikan dana awal sebesar 25 persen kepada sejumlah kader partainya untuk melancarkan gerakan pengambilalihan kepemimpinan AHY.

Riefky mengklaim, informasi tersebut valid berdasarkan kesaksian sejumlah kader Partai Demokrat. “Telah dibagikan dana awal sekitar 25 persen. Sedangkan sisanya akan diberikan jika KLB (Kongres Luar Biasa) selesai dilaksanakan, dan Moeldoko telah menjadi pemimpin baru,” ucapnya, dalam keterangan tertulis, kemarin.

Terkait surat AHY yang tak dibalas Jokowi, Riefky tak terlalu masalah. Hanya saja, tidak ada balasan itu, baginya meninggalkan teka-teki.

“Namun, kami tetap menghormati keputusan dan pilihan Presiden Jokowi tersebut. Kami tetap berkeyakinan bahwa Presiden Jokowi maupun pejabat negara yang namanya disebut-sebut, benar-benar tidak mengetahui adanya gerakan pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat, apalagi terlibat,” ujar politisi asal Aceh tersebut.

Namun, politisi Partai Demokrat, Andi Mallarangeng terlihat masih tidak terima dengan belum dibalasnya surat AHY itu. Bahkan, mantan terpidana kasus Hambalang ini menyebut, Moeldoko mendapat restu “Pak Lurah”.

“Kemudian katanya juga sudah direstui oleh Pak Lurah serta menteri lainnya, termasuk Menkum HAM,” tudingnya.

Melihat hal itu, politisi PPP Joko Purwanto meminta Andi tak melebarkan masalah. Apalagi menyebut “Pak Lurah” dalam persoalan Partai Demokrat. “Terlalu berat dan keji tuduhan itu,” katanya, kepada wartawan, kemarin.

 

Dia pun menyarankan agar kegaduhan ini cepat diselesaikan. Apalagi, saat ini bangsa Indonesia tengah dihadapkan masalah pandemi Covid-19. Saling menghormati menjadi solusi bagi segala macam persoalan. Termasuk soal kudeta kepemimpinan Partai Demokrat. “Saling menghormati dan meningkatkan silaturahmi mungkin lebih baik,” katanya kepada Rakyat Merdeka, semalam.

Karena itu, dia berharap, kader Partai Demokrat tak perlu lagi mencari-cari persoalan baru. Sebab, hal itu bisa membuat masalah menjadi runyam.

Dia juga menyayangkan sikap AHY yang terlalu terburu-buru menggelar konferensi pers dan menyebut ada lingkaran Istana yang melakukan gerakan politik untuk mengambil alih kursi Ketua Umum Partai. Harusnya AHY melakukan konsolidasi ke internal dan perkuat fungsi kepemimpinannya.

“Kemudian, AHY bisa minta waktu menghadap Presiden Jokowi. Tak usah kirim surat-suratan segala. Pasti diterima dengan baik-baik,” sarannya.

Menurutnya, langkah itu akan memberikan ketenangan terhadap publik dan tidak menimbulkan kegaduhan. “Kalau begitu, malah berpotensi banyak musuh nantinya,” kata anggota DPR periode 2014-2019 itu.

Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo ikut berharap kegaduhan ini segera berakhir. Baik kader partai maupun di luar partai Demokrat, harus bisa saling menghormati dan menghargai.

Dia meminta Moeldoko ataupun pihak di luar partai untuk menghormati kedaulatan partai. Begitu juga AHY dan kader Partai Demokrat agar tidak tipis kuping atau baper dan reaksioner. Apalagi, saat ini bangsa Indonesia tengah dihadapi masalah pandemi.

“Saling menghormati tentu akan lebih baik dan bisa mendinginkan suasana. Misalnya, Pak Moeldoko sowan dan hormat ke Pak SBY dan AHY sowan dan hormat ke Moeldoko, saya rasa ini bisa selesai,” katanya kepada Rakyat Merdeka, tadi malam. [QAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories