Suksesi Pura Mangkunegaran Sejarawan UNS: Pewaris Tahta Sering Kali Turun Pada Cucu

Sudah dua bulan Pura Mangkunegaran tanpa pemimpin, tanpa adipati, sejak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX wafat tanggal 13 Agustus lalu.

Biasanya proses suksesi terjadi seratus hari sesudah adipati di Pura Mangkunegaran. Suksesi dilakukan melalui musyawarah secara kekeluargaan.

Tapi di luar, justru muncul spekulasi atau prediksi, bahkan otak-atik gatuk, siapa yang akan menduduki tahta di Pura Mangkunegaran. Baik dari sejarawan, akademisi, pengamat/pemerhati budaya, maupun kerabat Pura Mangkunegaran.

Nah, Doktor Susanto, sejarawan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang beberapa kali melakukan penelitian tentang Pura Mangkunegaran, mencoba merunut suksesi mulai dari Mangkunegara I, hingga Mangkunegara IX, berdasarkan sejarah.

Dari rangkaian suksesi yang terjadi di Pura Mangkunegaran, ternyata tahta tak selalu menurun kepada anak, terutama pada anak mbarep atau putra pertama.

“Pewaris takhta lebih banyak menurun kepada adik, cucu, bahkan menantu penguasa Pura Mangkunegaran,” kata Dr Susanto, Jumat (15/10).

Susanto menyebutkan, pengganti Pangeran Samber Nyawa, Raden Mas Said, atau Mangkunegara I adalah RM Sulama (Mangkunegara II). RM Sulama bukanlah anak dari Raden Mas Said. Melainkan, cucu.

Bapak RM Sulama adalah Pangeran Arya Prabumijaya I, putra dari Mangkunegara I. Namun karena Prabumijaya meninggal, maka tahta diserahkan pada RM Sulama.

 

“Demikian juga dengan Mangkunegara III atau RM Sarengat juga bukan anak, tapi juga cucu dari Mangkunegara II,” imbuhnya.

Jika tahta Mangkunegara II dan III diteruskan oleh para cucu, untuk Mangkunegara IV yang dipegang oleh KPH Gandakusuma adalah menantu sekaligus adik sepupu Mangkunegara III.

Ibu Mangkunegara IV adalah putri dari Mangkunegara II. Selanjutnya, Mangkunegara V, yakni RM Sunita adalah putra kedua dari Mangkunegara IV dari permaisuri kedua, RA Dunuk.

Lantaran Pura Mangkunegaran mengalami defisit keuangan cukup besar kala itu, RM Sunita diganti adiknya, RM Suyitno yang kemudian dinobatkan sebagai Mangkunegara VI.

Namun jabatan yang diemban RM Suyitno sebagai Mangkunegara VI tidak lama. Di tahun 1916, RM Suyitno mengundurkan diri dari takhta dan memilih untuk menetap di Surabaya dan aktif di organisasi Budi Utomo.

Penggantinya, Mangkunegara VII adalah Suryosuparto. Dia merupakan salah satu anak dari Mangkunegara V.

“Ketika Mangkunegara V wafat, Suryosuparto ini masih kecil, dan ketika sudah dewasa didaulat menjadi Mangkunegara VII menggantikan pamannya,” tutur Susanto.

Nah, kata Susanto, dari suksesi sejak awal di Pura Mangkunegaran, baru tahta Mangkunegara VIII yang diturunkan pada anak pertama, menggantikan orang tuanya.

 

Mangkunegara VIII, yakni RM Hamidjojo Sarosa adalah anak mbarep (putra pertama) Mangkunegara VII. Tradisi itu tidak berlanjut untuk suksesi selanjutnya.

Mangkunegara IX, yakni Sujiwakusuma memang putra dari RM Hamidjojo Sarosa, tapi bukan anak mbarep. Gusti Jiwo diangkat menjadi Mangkunegara IX karena kakaknya meninggal akibat kecelakaan.

Bagaimana dengan suksesi di Pura Mangkunegaran yang terakhir? Belakangan, ada tiga kandidat yang disebut layak menjadi adipati menggantikan KGPAA Mangkunegara IX yang telah meninggal.

Yakni Gusti Pangeran Haryo (GPH) Paundrakarna Sukmaputra Jiwanegara, GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, serta Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Roy Rahajasa Yamin.

Paundra merupakan putra pertama dari pernikahan Mangkunegara IX dengan Sukmawati Soekarnoputri, putri Presiden Soekarno. Namun, pasangan ini bercerai.

Bhre Cakrahutomo adalah putra dari pernikahan Mangkunegara IX dengan Prisca Marina Yogi Supardi yang kemudian menjadi permaisuri Mangkunegara IX sampai saat ini.

Sementara, Roy Rahajasa Yamin juga adalah cucu KGPAA Mangkunegara VIII. Roy juga cucu Mohammad Yamin, pahlawan nasional yang dikenal sebagai pelopor Sumpah Pemuda.

“Kalau merunut dari sejarah suksesi di Pura Mangkunegaran, ketiganya punya kesempatan yang sama untuk menjadi adipati. Keputusan di tangan keluarga,” pungkas Susanto. [OKT]

]]> Sudah dua bulan Pura Mangkunegaran tanpa pemimpin, tanpa adipati, sejak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IX wafat tanggal 13 Agustus lalu.

Biasanya proses suksesi terjadi seratus hari sesudah adipati di Pura Mangkunegaran. Suksesi dilakukan melalui musyawarah secara kekeluargaan.

Tapi di luar, justru muncul spekulasi atau prediksi, bahkan otak-atik gatuk, siapa yang akan menduduki tahta di Pura Mangkunegaran. Baik dari sejarawan, akademisi, pengamat/pemerhati budaya, maupun kerabat Pura Mangkunegaran.

Nah, Doktor Susanto, sejarawan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta yang beberapa kali melakukan penelitian tentang Pura Mangkunegaran, mencoba merunut suksesi mulai dari Mangkunegara I, hingga Mangkunegara IX, berdasarkan sejarah.

Dari rangkaian suksesi yang terjadi di Pura Mangkunegaran, ternyata tahta tak selalu menurun kepada anak, terutama pada anak mbarep atau putra pertama.

“Pewaris takhta lebih banyak menurun kepada adik, cucu, bahkan menantu penguasa Pura Mangkunegaran,” kata Dr Susanto, Jumat (15/10).

Susanto menyebutkan, pengganti Pangeran Samber Nyawa, Raden Mas Said, atau Mangkunegara I adalah RM Sulama (Mangkunegara II). RM Sulama bukanlah anak dari Raden Mas Said. Melainkan, cucu.

Bapak RM Sulama adalah Pangeran Arya Prabumijaya I, putra dari Mangkunegara I. Namun karena Prabumijaya meninggal, maka tahta diserahkan pada RM Sulama.

 

“Demikian juga dengan Mangkunegara III atau RM Sarengat juga bukan anak, tapi juga cucu dari Mangkunegara II,” imbuhnya.

Jika tahta Mangkunegara II dan III diteruskan oleh para cucu, untuk Mangkunegara IV yang dipegang oleh KPH Gandakusuma adalah menantu sekaligus adik sepupu Mangkunegara III.

Ibu Mangkunegara IV adalah putri dari Mangkunegara II. Selanjutnya, Mangkunegara V, yakni RM Sunita adalah putra kedua dari Mangkunegara IV dari permaisuri kedua, RA Dunuk.

Lantaran Pura Mangkunegaran mengalami defisit keuangan cukup besar kala itu, RM Sunita diganti adiknya, RM Suyitno yang kemudian dinobatkan sebagai Mangkunegara VI.

Namun jabatan yang diemban RM Suyitno sebagai Mangkunegara VI tidak lama. Di tahun 1916, RM Suyitno mengundurkan diri dari takhta dan memilih untuk menetap di Surabaya dan aktif di organisasi Budi Utomo.

Penggantinya, Mangkunegara VII adalah Suryosuparto. Dia merupakan salah satu anak dari Mangkunegara V.

“Ketika Mangkunegara V wafat, Suryosuparto ini masih kecil, dan ketika sudah dewasa didaulat menjadi Mangkunegara VII menggantikan pamannya,” tutur Susanto.

Nah, kata Susanto, dari suksesi sejak awal di Pura Mangkunegaran, baru tahta Mangkunegara VIII yang diturunkan pada anak pertama, menggantikan orang tuanya.

 

Mangkunegara VIII, yakni RM Hamidjojo Sarosa adalah anak mbarep (putra pertama) Mangkunegara VII. Tradisi itu tidak berlanjut untuk suksesi selanjutnya.

Mangkunegara IX, yakni Sujiwakusuma memang putra dari RM Hamidjojo Sarosa, tapi bukan anak mbarep. Gusti Jiwo diangkat menjadi Mangkunegara IX karena kakaknya meninggal akibat kecelakaan.

Bagaimana dengan suksesi di Pura Mangkunegaran yang terakhir? Belakangan, ada tiga kandidat yang disebut layak menjadi adipati menggantikan KGPAA Mangkunegara IX yang telah meninggal.

Yakni Gusti Pangeran Haryo (GPH) Paundrakarna Sukmaputra Jiwanegara, GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo, serta Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Roy Rahajasa Yamin.

Paundra merupakan putra pertama dari pernikahan Mangkunegara IX dengan Sukmawati Soekarnoputri, putri Presiden Soekarno. Namun, pasangan ini bercerai.

Bhre Cakrahutomo adalah putra dari pernikahan Mangkunegara IX dengan Prisca Marina Yogi Supardi yang kemudian menjadi permaisuri Mangkunegara IX sampai saat ini.

Sementara, Roy Rahajasa Yamin juga adalah cucu KGPAA Mangkunegara VIII. Roy juga cucu Mohammad Yamin, pahlawan nasional yang dikenal sebagai pelopor Sumpah Pemuda.

“Kalau merunut dari sejarah suksesi di Pura Mangkunegaran, ketiganya punya kesempatan yang sama untuk menjadi adipati. Keputusan di tangan keluarga,” pungkas Susanto. [OKT]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories