Sudah Dimulai, Uji Klinis Tahap Awal Untuk Pil Covid Pfizer .

Pfizer Inc telah meluncurkan uji klinis tahap awal, dari obat Covid gejala ringan dalam bentuk pil.

Pfizer yang merupakan pengembang vaksin Covid-19 resmi pertama di AS – bekerja sama dengan BioNTech SE Jerman – mengatakan, kandidat obat antivirus PF-07321332 telah menunjukkan keampuhannya melawan virus dalam studi laboratorium.

Kandidat obat ini masuk dalam kelompok inhibitor protease (agen yang dapat mencegah protease bekerja mengolah dan membelah protein menjadi peptida).

Kelompok obat ini lazim digunakan dalam pengobatan HIV dan hepatitis C. Baik digunakan secara tunggal, ataupun kombinasi dengan obat antivirus lainnya.

PF-07321332 bekerja dengan cara menghambat enzim yang digunakan virus Coron,  untuk mereplikasi diri dalam sel tubuh manusia. Pfizer optimis, jenis molekul ini mampu mengobati Covid dengan baik. Terlebih, terapi yang ada saaat ini juga belum memunculkan masalah keamanan.

“Dalam mengatasi pandemi Covid, kita membutuhkan pencegahan melalui vaksin, serta pengobatan optimal bagi mereka yang terinfeksi,” ujar Chief Scientific Officer Pfizer, Mikael Doltsen dalam pernyataannya, seperti dikutip Daily Mail, Selasa (23/3).

Mengingat lincahnya virus Covid bermutasi dan dampak global Covid yang berkelanjutan, Doltsen menegaskan pentingnya akses terapi, baik untuk saat ini ataupun pasca pandemi.

Uji coba klinis tahap I pil Covid Pfizer dilakukan secara acak, dengan menggunakan metode double-blind.

Dalam hal ini, peneliti maupun peserta penelitian tidak mengetahui siapa di antara para peserta penelitian yang mendapat plasebo atau obat yang akan diteliti. Sehingga, dapat diperoleh hasil penelitian yang obyektif, tanpa dipengaruhi dugaan dokter atau pasien.

Kalau terbukti aman dan efektif, Pfizer akan melangkah ke uji klinis tahap II dan merekrut partisipan dalam jumlah yang lebih besar.

 

Saat ini, Pfizer juga tengah mempelajari kandidat antivirus yang diberikan secara intravena (suntikan atau infus) dalam uji coba tahap awal terhadap pasien Covid yang dirawat di RS.

“Kandidat obat oral dan intravena ini berpotensi menciptakan paradigma pengobatan end-to-end, yang dapat melengkapi vaksinasi. Terutama, pada daerah yang tingkat kerawanannya masih tinggi,” papar Dolsten.

Saat ini, sudah ada dua pendahulu kandidat obat antivirus yang mendahului Pfizer. Kedua kandidat yang masing-masing dikembangkan oleh duet Merck & Co dan Ridgeback Bio, serta Roche Holding dan Atea Pharmaceutical itu, kini tengah berada dalam uji coba tahap pertengahan

Sementara remdesivir produksi Gilead Sciences, telah mendapat lampu hijau dari FDA, yang merupakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di AS. Sedangkan izin penggunaan darurat, telah diberikan untuk dua terapi kombinasi dari Eli Lily dan Regeneron.

Kabar peluncuran uji klinis obat Covid ini, disampaikan berbarengan dengan rencana Pfizer memproduksi vaksin baru, dengan menggunakan tekonologi mRNA seperti pada vaksin Covid.

“Teknologi ini terbukti memiliki potensi dan dampak yang dramatis. Kami adalah perusahaan terbaik saat ini, yang mampu membawa teknologi tersebut ke jenjang berikutnya, dengan segenap kemampuan yang kami miliki,” ujar Chief Executive Pfizer, Albert Bourla kepada The Wall Street Journal. [HES]

]]> .
Pfizer Inc telah meluncurkan uji klinis tahap awal, dari obat Covid gejala ringan dalam bentuk pil.

Pfizer yang merupakan pengembang vaksin Covid-19 resmi pertama di AS – bekerja sama dengan BioNTech SE Jerman – mengatakan, kandidat obat antivirus PF-07321332 telah menunjukkan keampuhannya melawan virus dalam studi laboratorium.

Kandidat obat ini masuk dalam kelompok inhibitor protease (agen yang dapat mencegah protease bekerja mengolah dan membelah protein menjadi peptida).

Kelompok obat ini lazim digunakan dalam pengobatan HIV dan hepatitis C. Baik digunakan secara tunggal, ataupun kombinasi dengan obat antivirus lainnya.

PF-07321332 bekerja dengan cara menghambat enzim yang digunakan virus Coron,  untuk mereplikasi diri dalam sel tubuh manusia. Pfizer optimis, jenis molekul ini mampu mengobati Covid dengan baik. Terlebih, terapi yang ada saaat ini juga belum memunculkan masalah keamanan.

“Dalam mengatasi pandemi Covid, kita membutuhkan pencegahan melalui vaksin, serta pengobatan optimal bagi mereka yang terinfeksi,” ujar Chief Scientific Officer Pfizer, Mikael Doltsen dalam pernyataannya, seperti dikutip Daily Mail, Selasa (23/3).

Mengingat lincahnya virus Covid bermutasi dan dampak global Covid yang berkelanjutan, Doltsen menegaskan pentingnya akses terapi, baik untuk saat ini ataupun pasca pandemi.

Uji coba klinis tahap I pil Covid Pfizer dilakukan secara acak, dengan menggunakan metode double-blind.

Dalam hal ini, peneliti maupun peserta penelitian tidak mengetahui siapa di antara para peserta penelitian yang mendapat plasebo atau obat yang akan diteliti. Sehingga, dapat diperoleh hasil penelitian yang obyektif, tanpa dipengaruhi dugaan dokter atau pasien.

Kalau terbukti aman dan efektif, Pfizer akan melangkah ke uji klinis tahap II dan merekrut partisipan dalam jumlah yang lebih besar.

 

Saat ini, Pfizer juga tengah mempelajari kandidat antivirus yang diberikan secara intravena (suntikan atau infus) dalam uji coba tahap awal terhadap pasien Covid yang dirawat di RS.

“Kandidat obat oral dan intravena ini berpotensi menciptakan paradigma pengobatan end-to-end, yang dapat melengkapi vaksinasi. Terutama, pada daerah yang tingkat kerawanannya masih tinggi,” papar Dolsten.

Saat ini, sudah ada dua pendahulu kandidat obat antivirus yang mendahului Pfizer. Kedua kandidat yang masing-masing dikembangkan oleh duet Merck & Co dan Ridgeback Bio, serta Roche Holding dan Atea Pharmaceutical itu, kini tengah berada dalam uji coba tahap pertengahan

Sementara remdesivir produksi Gilead Sciences, telah mendapat lampu hijau dari FDA, yang merupakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di AS. Sedangkan izin penggunaan darurat, telah diberikan untuk dua terapi kombinasi dari Eli Lily dan Regeneron.

Kabar peluncuran uji klinis obat Covid ini, disampaikan berbarengan dengan rencana Pfizer memproduksi vaksin baru, dengan menggunakan tekonologi mRNA seperti pada vaksin Covid.

“Teknologi ini terbukti memiliki potensi dan dampak yang dramatis. Kami adalah perusahaan terbaik saat ini, yang mampu membawa teknologi tersebut ke jenjang berikutnya, dengan segenap kemampuan yang kami miliki,” ujar Chief Executive Pfizer, Albert Bourla kepada The Wall Street Journal. [HES]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories