Suara Presiden 3 Periode Bukan Suaranya Istana

Pihak Istana mengomentari wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi 3 periode yang makin panas sepekan terakhir. Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Faldo Maldini menegaskan, suara penundaan pemilu dan presiden 3 periode bukan suaranya Istana.

Hasil survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) rupanya bikin Istana gerah. Bagaimana tidak, survei tersebut menyebutkan bahwa kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Jokowi turun gara-gara wacana penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden.

Selain itu, survei SMRC menyebutkan keinginan Jokowi 3 periode hanya segelintir elite saja. Bukan keinginan rakyat banyak. Soalnya, dari survei diketahui sebanyak 78 persen responden ingin Pemilu tetap digelar pada 2024.

Menanggapi survei tersebut, Faldo Maldini memberikan tanggapannya. Kata dia, masalah perpanjangan masa jabatan presiden jangan semuanya dikaitkan dengan keinginan presiden. Kata dia, dalam konstitusi sudah jelas masa jabatan presiden hanya 5 tahun dan maksimal 2 periode.

“Kita punya sistem dan ketatanegaraan yang berjalan, konstitusi yang menjadi acuan kita dalam bernegara. Di situ saja, tidak usah kita kembang-kembangkan,” kata Faldo, melalui pesan tertulis kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Soal kemunculan wacana penundaan pemilu dan keinginan untuk memperpanjang masa jabatan presiden, Faldo bilang biarkan saja sebagai bagian dinamika dalam demokrasi.

“Sikap dan opini tiap orang harus dilindungi oleh negara. Sikapnya sejalan atau tidak dengan pemerintah, itu urusan lain. Tugas negara melindungi hak berpendapat setiap warga negara,” ujarnya.

Soal hasil survei yang menyebut kepuasan publik menurun, Faldo bilang, pemerintah tentu tidak diam saja. Kata dia, pemerintah tentu selalu memperhatikan opini publik dalam bekerja. Ia sadar betul, apapun yang dikerjakan pemerintah dampaknya terhadap opini publik.

Tapi, kata dia, bukan itu tujuan utama pemerintah bekerja. Opini publik hanya dampak. “Tujuan utama kami tentu menyelesaikan persoalan kebutuhan masyarakat untuk bangkit dari pandemi ini. Artinya, harus kerja lebih keras,” tuntasnya.

 

Klarifikasi Faldo ini tak membuat kritikan terhadap Istana mereda. Kritikan teranyar disampaikan oleh Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, Amien Rais. Seperti biasa, kritikan eks Ketua MPR ini selalu nyelekit dan tajam.

Menurut Amien, wacana penundaan pemilu dan presiden 3 periode yang bergulir hampir dua bulan ini, tak lepas dari duet Jokowi-Luhut. Dan, cara yang dilakukan mereka tidak berbobot. Karena menggerakkan perangkat yang ada di lingkungan. Seperti asosiasi perangkat desa atau APDESI.

Mungkin kata dia, nanti ada asosiasi petani, nelayan, buruh, pegawai negeri, pensiunan ini pensiunan ini, yang kembali digerakkan untuk menyuarakan 3 periode.

“Tapi ini suara abal-abal, tidak ada bobotnya. Karena apa? Karena ini sangat artifisial, ya seperti balon. Kelihatannya besar, tapi jika terkena jarum kecil saja udah kempis,” lanjutnya.

Amien menjelaskan, pemimpin yang baik itu adalah yang harus tahu persis kapan dia harus mundur. Apalagi dalam UUD 45 sudah jelas sekali dikatakan presiden hanya bisa dipilih dua kali saja.

Soal kritikan ini, Faldo kembali mengklarifikasi. Dia mengaku tak kaget dengan kritikan tajam Amien. Sejak dulu memang begitu. Namun menurut dia, apa yang disampaikan Amien ini seperti kehebohan di medsos. Hanya mengomentari gosip politik.

“Silakan berpendapat, publik sudah paham mana yang sentimen personal dan mana yang argumen rasional,” ujarnya.

Sementara itu, pakar hukum tata negara Prof Jimly Asshiddiqie memberikan pencerahan mengenai isi amandemen konstitusi. Dia minta publik tidak usah percaya tentang perubahan UUD perpanjangan masa jabatan 3 periode.

“Ide ini tidak boleh karena menyimpang dari amanat reformasi dan langgar UUD. Amandemen tidak mungkin terjadi karena mayoritas parpol dan DPD pasti nolak. Dan tidak akan terjadi, karena tahapan pemilu sudah akan dimulai, tidak ada waktu lagi untuk perubahan,” kata Jimly, di akun Twitter miliknya, kemarin. [BCG]

]]> Pihak Istana mengomentari wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi 3 periode yang makin panas sepekan terakhir. Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Faldo Maldini menegaskan, suara penundaan pemilu dan presiden 3 periode bukan suaranya Istana.

Hasil survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) rupanya bikin Istana gerah. Bagaimana tidak, survei tersebut menyebutkan bahwa kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Jokowi turun gara-gara wacana penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden.

Selain itu, survei SMRC menyebutkan keinginan Jokowi 3 periode hanya segelintir elite saja. Bukan keinginan rakyat banyak. Soalnya, dari survei diketahui sebanyak 78 persen responden ingin Pemilu tetap digelar pada 2024.

Menanggapi survei tersebut, Faldo Maldini memberikan tanggapannya. Kata dia, masalah perpanjangan masa jabatan presiden jangan semuanya dikaitkan dengan keinginan presiden. Kata dia, dalam konstitusi sudah jelas masa jabatan presiden hanya 5 tahun dan maksimal 2 periode.

“Kita punya sistem dan ketatanegaraan yang berjalan, konstitusi yang menjadi acuan kita dalam bernegara. Di situ saja, tidak usah kita kembang-kembangkan,” kata Faldo, melalui pesan tertulis kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Soal kemunculan wacana penundaan pemilu dan keinginan untuk memperpanjang masa jabatan presiden, Faldo bilang biarkan saja sebagai bagian dinamika dalam demokrasi.

“Sikap dan opini tiap orang harus dilindungi oleh negara. Sikapnya sejalan atau tidak dengan pemerintah, itu urusan lain. Tugas negara melindungi hak berpendapat setiap warga negara,” ujarnya.

Soal hasil survei yang menyebut kepuasan publik menurun, Faldo bilang, pemerintah tentu tidak diam saja. Kata dia, pemerintah tentu selalu memperhatikan opini publik dalam bekerja. Ia sadar betul, apapun yang dikerjakan pemerintah dampaknya terhadap opini publik.

Tapi, kata dia, bukan itu tujuan utama pemerintah bekerja. Opini publik hanya dampak. “Tujuan utama kami tentu menyelesaikan persoalan kebutuhan masyarakat untuk bangkit dari pandemi ini. Artinya, harus kerja lebih keras,” tuntasnya.

 

Klarifikasi Faldo ini tak membuat kritikan terhadap Istana mereda. Kritikan teranyar disampaikan oleh Ketua Majelis Syuro Partai Ummat, Amien Rais. Seperti biasa, kritikan eks Ketua MPR ini selalu nyelekit dan tajam.

Menurut Amien, wacana penundaan pemilu dan presiden 3 periode yang bergulir hampir dua bulan ini, tak lepas dari duet Jokowi-Luhut. Dan, cara yang dilakukan mereka tidak berbobot. Karena menggerakkan perangkat yang ada di lingkungan. Seperti asosiasi perangkat desa atau APDESI.

Mungkin kata dia, nanti ada asosiasi petani, nelayan, buruh, pegawai negeri, pensiunan ini pensiunan ini, yang kembali digerakkan untuk menyuarakan 3 periode.

“Tapi ini suara abal-abal, tidak ada bobotnya. Karena apa? Karena ini sangat artifisial, ya seperti balon. Kelihatannya besar, tapi jika terkena jarum kecil saja udah kempis,” lanjutnya.

Amien menjelaskan, pemimpin yang baik itu adalah yang harus tahu persis kapan dia harus mundur. Apalagi dalam UUD 45 sudah jelas sekali dikatakan presiden hanya bisa dipilih dua kali saja.

Soal kritikan ini, Faldo kembali mengklarifikasi. Dia mengaku tak kaget dengan kritikan tajam Amien. Sejak dulu memang begitu. Namun menurut dia, apa yang disampaikan Amien ini seperti kehebohan di medsos. Hanya mengomentari gosip politik.

“Silakan berpendapat, publik sudah paham mana yang sentimen personal dan mana yang argumen rasional,” ujarnya.

Sementara itu, pakar hukum tata negara Prof Jimly Asshiddiqie memberikan pencerahan mengenai isi amandemen konstitusi. Dia minta publik tidak usah percaya tentang perubahan UUD perpanjangan masa jabatan 3 periode.

“Ide ini tidak boleh karena menyimpang dari amanat reformasi dan langgar UUD. Amandemen tidak mungkin terjadi karena mayoritas parpol dan DPD pasti nolak. Dan tidak akan terjadi, karena tahapan pemilu sudah akan dimulai, tidak ada waktu lagi untuk perubahan,” kata Jimly, di akun Twitter miliknya, kemarin. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories