Stop Sementara Ibadah Massal MUI: Masjid Harus Jadi Lokomotif Penyadaran Bahaya Corona

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta para ulama di daerah yang tingkat persebaran Covid-19 tinggi untuk menghentikan sementara (tawaqquf) aktivitas peribadatan massal di masjid sampai situasi dan kondisi betul-betul terkendali.  

Ajakan itu sejalan dengan isi Fatwa MUI nomor 14 Tahun 2020 Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19. Jika instansi yang berwenang menetapkan suatu kawasan sebagai daerah yang tinggi penyebaran Covid-19 dan dirasa perlu untuk diberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat secara ketat, para ulama dan pengurus masjid setempat dapat menganjurkan umat Islam mengambil rukhshah atau dispensasi.

“Yaitu melaksanakan ibadah bersama keluarga inti di rumah masing-masing,” begitu bunyi taushiyah MUI yang ditandatangani oleh Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar dan Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, dan diedarkan Jumat (2/7).  

Dalam tausiyahnya, MUI juga mengingatkan agar pandemi ini menjadi momentum umat Islam menunjukkan keindahan ajaran Islam. Ulama harus menjadikan masjid sebagai lokomotif penyadaran masyarakat tentang bahaya Corona dan pentingnya gerakan bersama menanggulangi Covid-19.  

“Antara lain dengan menegakkan disiplin penegakan secara ketat Protokol Kesehatan (Prokes) di masjid, seperti memakai masker, menjaga jarak antar jamaah, mencuci tangan dan rutin tes suhu tubuh sebelum masuk masjid, membawa alat ibadah dari rumah, dan mempersingkat setiap amalan ibadah di masjid,” tulis taushiyah.

Selain itu, MUI ingin masjid menjadi pelopor lahirnya solidaritas umat untuk saling menjaga dan membantu. Seperti menjadikan masjid untuk mengkoordinasikan donasi ke masyarakat di lingkungan sekitar yang terdampak Covid-19.  

“Sehingga kebutuhan harian masyarakat yang terkena Covid-19 bisa terpenuhi, termasuk masyarakat yang sedang melaksanakan isolasi mandiri. Melalui masjid, kita gerakkan semangat saling bantu memenuhi kebutuhan pokok untuk yang kurang mampu,” ajak MUI.  

MUI juga mengajak umat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Umat diajak meningkatkan keimanan, ketaqwaan, keikhlasan serta berdzikir, dan bermunajat kepada Allah SWT agar pandemi lekas berakhir.  

Terakhir, dalam taushiyahnya, MUI menyerukan kepada pemerintah agar tidak ragu dan harus tegas menghentikan Covid-19. Ketegasan pemerintah itu sangat dibutuhkan untuk menjaga kepatuhan masyarakat sehingga pandemi Covid-19 cepat berakhir. [FAQ]

]]> Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta para ulama di daerah yang tingkat persebaran Covid-19 tinggi untuk menghentikan sementara (tawaqquf) aktivitas peribadatan massal di masjid sampai situasi dan kondisi betul-betul terkendali.  

Ajakan itu sejalan dengan isi Fatwa MUI nomor 14 Tahun 2020 Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19. Jika instansi yang berwenang menetapkan suatu kawasan sebagai daerah yang tinggi penyebaran Covid-19 dan dirasa perlu untuk diberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat secara ketat, para ulama dan pengurus masjid setempat dapat menganjurkan umat Islam mengambil rukhshah atau dispensasi.

“Yaitu melaksanakan ibadah bersama keluarga inti di rumah masing-masing,” begitu bunyi taushiyah MUI yang ditandatangani oleh Ketua Umum MUI KH Miftachul Akhyar dan Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, dan diedarkan Jumat (2/7).  

Dalam tausiyahnya, MUI juga mengingatkan agar pandemi ini menjadi momentum umat Islam menunjukkan keindahan ajaran Islam. Ulama harus menjadikan masjid sebagai lokomotif penyadaran masyarakat tentang bahaya Corona dan pentingnya gerakan bersama menanggulangi Covid-19.  

“Antara lain dengan menegakkan disiplin penegakan secara ketat Protokol Kesehatan (Prokes) di masjid, seperti memakai masker, menjaga jarak antar jamaah, mencuci tangan dan rutin tes suhu tubuh sebelum masuk masjid, membawa alat ibadah dari rumah, dan mempersingkat setiap amalan ibadah di masjid,” tulis taushiyah.

Selain itu, MUI ingin masjid menjadi pelopor lahirnya solidaritas umat untuk saling menjaga dan membantu. Seperti menjadikan masjid untuk mengkoordinasikan donasi ke masyarakat di lingkungan sekitar yang terdampak Covid-19.  

“Sehingga kebutuhan harian masyarakat yang terkena Covid-19 bisa terpenuhi, termasuk masyarakat yang sedang melaksanakan isolasi mandiri. Melalui masjid, kita gerakkan semangat saling bantu memenuhi kebutuhan pokok untuk yang kurang mampu,” ajak MUI.  

MUI juga mengajak umat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Umat diajak meningkatkan keimanan, ketaqwaan, keikhlasan serta berdzikir, dan bermunajat kepada Allah SWT agar pandemi lekas berakhir.  

Terakhir, dalam taushiyahnya, MUI menyerukan kepada pemerintah agar tidak ragu dan harus tegas menghentikan Covid-19. Ketegasan pemerintah itu sangat dibutuhkan untuk menjaga kepatuhan masyarakat sehingga pandemi Covid-19 cepat berakhir. [FAQ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories