Stok Di Daerah Menipis Doni Pernah “Rampok” Reagen Punya Jerman .

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengungkapkan sulitnya mendapatkan reagen kit untuk tes Covid-19 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) saat awal pandemi. Indonesia sampai harus menyerobot antrean Jerman untuk mendapatkannya.

Hal ini disampaikan Doni saat menanggapi menipisnya stok reagen PCR di laboratoriumlaboratorium pemeriksaan spesimen Covid-19 di Jawa Timur.

Doni mengungkapkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dipimpinnya, kini tak lagi menangani pengadaan reagen. Hal itu urusan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). BNPB mulai berhenti melakukan pengadaan reagen kit sejak Januari 2021.

“Ada proses transisi. Tadinya seluruhnya di-handle oleh BNPB, tetapi nggak mungkin seumur hidup lembaga ad hoc mengurusi urusannya Kemenkes,” ujar Doni dalam Rapat Koordinator Penanganan Covid-19 di Jawa Timur, kemarin.

Barulah setelah itu, Doni menuturkan perjuangan BNPB melakukan pengadaan reagen di awal-awal masa pandemi Corona, tahun 2020.

Saat itu, BNPB sampai terpaksa harus menyerobot antrean Pemerintah Jerman untuk mendapatkan barang tersebut. Doni melobi pabrik reagen di Korea Selatan (Korsel), yang saat itu tengah memproduksi reagen Pemerintah Jerman, agar memberikannya dulu untuk Indonesia.

“Saya minta kepada mereka di-split punya Jerman untuk kita. Setelah itu, punya kita untuk Jerman. Kita bisa, tanda kutip, merampok,” tutur eks Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus itu.

Menipisnya stok reagen PCR di Jawa Timur dikeluhkan Ketua Rumpun Kuratif Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Jawa Timur dr Joni Wahyuhadi. Joni yang juga Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya, menyebut reagen kit mulai sulit didapatkan. Padahal reagen merupakan komponen utama dalam melakukan tes Covid-19.

“Yang kami takutkan di 2021 ini adalah testing-nya,” ungkap Joni. Stok reagen yang tersisa, disebutnya, hanya bisa bertahan selama satu bulan ke depan.

Reagen sulit didapat karena BNPB tak lagi memberi dukungan reagen kepada daerahdaerah. Joni mengaku telah berupaya menyurati Kemenkes, yang kini menangani pengadaan reagen.

Bahan reagen merupakan zat pereaksi kimia yang dibutuhkan untuk mendeteksi virus SARSCoV-2 penyebab Covid-19 dari pengambilan sampel pada orang secara tes usap atau swab test.

Sampel itu berasal dari pasien, tenaga kesehatan, pegawai negeri sipil, dan warga yang punya riwayat kontak dengan pasien Covid-19 dan hasil penelusuran petugas.  [DIR]

]]> .
Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengungkapkan sulitnya mendapatkan reagen kit untuk tes Covid-19 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) saat awal pandemi. Indonesia sampai harus menyerobot antrean Jerman untuk mendapatkannya.

Hal ini disampaikan Doni saat menanggapi menipisnya stok reagen PCR di laboratoriumlaboratorium pemeriksaan spesimen Covid-19 di Jawa Timur.

Doni mengungkapkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dipimpinnya, kini tak lagi menangani pengadaan reagen. Hal itu urusan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). BNPB mulai berhenti melakukan pengadaan reagen kit sejak Januari 2021.

“Ada proses transisi. Tadinya seluruhnya di-handle oleh BNPB, tetapi nggak mungkin seumur hidup lembaga ad hoc mengurusi urusannya Kemenkes,” ujar Doni dalam Rapat Koordinator Penanganan Covid-19 di Jawa Timur, kemarin.

Barulah setelah itu, Doni menuturkan perjuangan BNPB melakukan pengadaan reagen di awal-awal masa pandemi Corona, tahun 2020.

Saat itu, BNPB sampai terpaksa harus menyerobot antrean Pemerintah Jerman untuk mendapatkan barang tersebut. Doni melobi pabrik reagen di Korea Selatan (Korsel), yang saat itu tengah memproduksi reagen Pemerintah Jerman, agar memberikannya dulu untuk Indonesia.

“Saya minta kepada mereka di-split punya Jerman untuk kita. Setelah itu, punya kita untuk Jerman. Kita bisa, tanda kutip, merampok,” tutur eks Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus itu.

Menipisnya stok reagen PCR di Jawa Timur dikeluhkan Ketua Rumpun Kuratif Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Jawa Timur dr Joni Wahyuhadi. Joni yang juga Dirut RSUD dr Soetomo Surabaya, menyebut reagen kit mulai sulit didapatkan. Padahal reagen merupakan komponen utama dalam melakukan tes Covid-19.

“Yang kami takutkan di 2021 ini adalah testing-nya,” ungkap Joni. Stok reagen yang tersisa, disebutnya, hanya bisa bertahan selama satu bulan ke depan.

Reagen sulit didapat karena BNPB tak lagi memberi dukungan reagen kepada daerahdaerah. Joni mengaku telah berupaya menyurati Kemenkes, yang kini menangani pengadaan reagen.

Bahan reagen merupakan zat pereaksi kimia yang dibutuhkan untuk mendeteksi virus SARSCoV-2 penyebab Covid-19 dari pengambilan sampel pada orang secara tes usap atau swab test.

Sampel itu berasal dari pasien, tenaga kesehatan, pegawai negeri sipil, dan warga yang punya riwayat kontak dengan pasien Covid-19 dan hasil penelusuran petugas.  [DIR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories