Stakeholder Jalin Kerja Sama Luncurkan Buku Literasi Tata Kelola Sampah .

Persoalan sampah saat ini semakin serius. Dibutuhkan keterlibatan semua stakeholder agar di tahun 2025 Indonesia bisa menjadi negara bebas sampah sesuai program Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Demikian disampaikan Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dalam acara peluncuran buku “Tata Kelola Persampahan di Indonesia”.

Menurut Novrizal, buku tersebut merupakan rangkuman dari serangkaian agenda diskusi dengan praktisi lingkungan yang dilakukan KLHK bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Dana Mitra Lingkungan (DML).

“Kita siapkan buku literasi untuk seluruh pemerintah daerah dan kota di seluruh Indonesia,” kata Novrizal saat peluncuran buku dan diskusi dengan tema ‘Implementasi Ekonomi Sirkuler Menuju Indonesia Bebas Sampah’, di Shangri-La Hotel, Jakarta, Kamis (22/4).

Novrizal menjelaskan, selama satu tahun terakhir pihaknya membahas tata kelola sampah agar bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.

Di antaranya membahas tentang cara menjadikan sampah sebagai sumber energi hingga pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan hidup masyarakat luas.

Webinar itu, kata dia, menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten dalam bidangnya. Semua ilmu yang tertuang dalam buku itu nantinya akan disebar luas ke seluruh Indonesia. Diharapkan, dapat menjadi acuan pemerintah kota dan kabupaten dalam mengelola sampah di wilayahnya.

“Harapannya buku ini dapat jadi stimulan dalam kelola sampah. Sekaligus literasi bagi mereka dalam mengelola sampah di wilayahnya masing-masing,” harapnya.  

Sementara itu, Direktur Sanitasi Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Prasetyo menggariskan, masalah sampah merupakan urusan semua pihak. Karenanya, buku ini diharapkan bisa bermanfaat bagi semua pihak untuk memberikan kontribusi nyata.

“Karena sampah ini bukan barang buangan saja, ada meterialnya yang punya nilai ekonomi maupun bisa dimanfaatkan untuk energi listrik,” ucap Prasetyo.

Sedangkan Ketua Dewan Pembina Dana Mitra Lingkungan (DML) Agustanzil Sjahroezah mengatakan, semua pihak harus memahami bahwa sampah bukan permasalahan pemerintah saja.

Namun juga menjadi masalah masyarakat umum. Jika tidak segera ditemukan solusinya, maka dia menyebut generasi masa depan akan menjadi pihak yang paling dirugikan. Sebab tak menutup kemungkinan, mereka tak lagi menemukan daerah yang bersih.

“Sampah kalau dikelola dengan sungguh-sungguh, ada peraturannya, anggaran yang dialokasikan untuk pengelolaannya, dan ditunjang dengan teknologi, maka bisa mendapat nilai tambah,” sebutnya.

Oleh karena itu Agustanzil menyebut pihaknya turut mendorong pemerintah tetap konsisten menyelesaikan permasalahan sampah. Salah satunya merangkum seluruh materi dalam webinar menjadi buku rujukan bagi praktisi lingkungan.

“Jangan sampai hasil seminar itu hanya menjadi tumpukan data. Sebab kita perlu rujukan dalam memanfaatkan sampah menjadi sumber penghasilan,” pungkas Agustanzil. [BYU]

]]> .
Persoalan sampah saat ini semakin serius. Dibutuhkan keterlibatan semua stakeholder agar di tahun 2025 Indonesia bisa menjadi negara bebas sampah sesuai program Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Demikian disampaikan Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dalam acara peluncuran buku “Tata Kelola Persampahan di Indonesia”.

Menurut Novrizal, buku tersebut merupakan rangkuman dari serangkaian agenda diskusi dengan praktisi lingkungan yang dilakukan KLHK bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Dana Mitra Lingkungan (DML).

“Kita siapkan buku literasi untuk seluruh pemerintah daerah dan kota di seluruh Indonesia,” kata Novrizal saat peluncuran buku dan diskusi dengan tema ‘Implementasi Ekonomi Sirkuler Menuju Indonesia Bebas Sampah’, di Shangri-La Hotel, Jakarta, Kamis (22/4).

Novrizal menjelaskan, selama satu tahun terakhir pihaknya membahas tata kelola sampah agar bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.

Di antaranya membahas tentang cara menjadikan sampah sebagai sumber energi hingga pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk keberlangsungan hidup masyarakat luas.

Webinar itu, kata dia, menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten dalam bidangnya. Semua ilmu yang tertuang dalam buku itu nantinya akan disebar luas ke seluruh Indonesia. Diharapkan, dapat menjadi acuan pemerintah kota dan kabupaten dalam mengelola sampah di wilayahnya.

“Harapannya buku ini dapat jadi stimulan dalam kelola sampah. Sekaligus literasi bagi mereka dalam mengelola sampah di wilayahnya masing-masing,” harapnya.  

Sementara itu, Direktur Sanitasi Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Prasetyo menggariskan, masalah sampah merupakan urusan semua pihak. Karenanya, buku ini diharapkan bisa bermanfaat bagi semua pihak untuk memberikan kontribusi nyata.

“Karena sampah ini bukan barang buangan saja, ada meterialnya yang punya nilai ekonomi maupun bisa dimanfaatkan untuk energi listrik,” ucap Prasetyo.

Sedangkan Ketua Dewan Pembina Dana Mitra Lingkungan (DML) Agustanzil Sjahroezah mengatakan, semua pihak harus memahami bahwa sampah bukan permasalahan pemerintah saja.

Namun juga menjadi masalah masyarakat umum. Jika tidak segera ditemukan solusinya, maka dia menyebut generasi masa depan akan menjadi pihak yang paling dirugikan. Sebab tak menutup kemungkinan, mereka tak lagi menemukan daerah yang bersih.

“Sampah kalau dikelola dengan sungguh-sungguh, ada peraturannya, anggaran yang dialokasikan untuk pengelolaannya, dan ditunjang dengan teknologi, maka bisa mendapat nilai tambah,” sebutnya.

Oleh karena itu Agustanzil menyebut pihaknya turut mendorong pemerintah tetap konsisten menyelesaikan permasalahan sampah. Salah satunya merangkum seluruh materi dalam webinar menjadi buku rujukan bagi praktisi lingkungan.

“Jangan sampai hasil seminar itu hanya menjadi tumpukan data. Sebab kita perlu rujukan dalam memanfaatkan sampah menjadi sumber penghasilan,” pungkas Agustanzil. [BYU]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories