Soksi Independen, Sama Aja Lari Dari Sejarah Partai Golkar

Ketua DPP Golkar Bidang Kerjasama Ormas Sabil Rachman menegaskan bahwa Soksi (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) merupakan bagian dari Partai Golkar dan terikat oleh komitmen moral politik dalam menjalankan misi dan agenda- agenda Golkar.

Untuk itu, kata Sabil, Soksi harus ikut mengamankan dan melaksanakan serta mendukung seluruh hasil- hasil Musyawarah Nasional Golkar tahun 2019.

Termasuk soal Calon Presiden dari Golkar dalam Pilpres 2024 yang menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua Umum Golkar untuk menentukan langkah- langkahnya.

“Pertanyaan saya sangat sederhana yakni bagaimanakah Soksi menegaskan posisi politiknya atas hasil Munas tersebut jika kemudian bersifat independen? Itulah pentingnya klarifikasi yang kami nantikan dari Ketua Umum Soksi, senior kami Pak Ahmadi Noor Supit atas pernyataanya,” tutur Ketua DPP Golkar Bidang Kerjasama Ormas, M. Sabil Rachman dalam keterangan tertulisnya, sabtu (29/5/2021).

Sabil mengaku harus mengklarifikasi soal pernyataan Ketua Umum SOKSI Ahmadi Noor Supit dalam pidato HUT Soksi bahwa Soksi adalah ormas independen.

“Karena bisa jadi Pak Noor Supit agak sulit menemukan diksi saat menyampaikan pernyataan. Sebagai senior Soksi dan Golkar maka menurut saya terlalu naif jika Ketua Umum Soksi ini menyatakan pandangan yang menurut saya sangat Ahistoris dan lari dari sejarah,” imbuhnya.

Sabil mengingatkan, Soksi bersama Kosgoro (Kosgoro 1957) dan MKGR (Ormas MKGR) yang membidani kelahiran Golkar tahun 1964 sebagai fakta sejarah yang tidak terbantahkan.

“Dalam AD ART Golkar itu yang tegas disebut sebagai organisasi pendiri Golkar. Jika kemudian ia independen maka relasi historis itu ternodai dan saya kira adalah tidak mungkin Soksi menodai sejarah itu,” katanya.

Namun demikian jika benar ia bersifat independen maka tentu membawa konsekuensi serius untuk mengatakan bahwa SOKSI dengan sistematik telah menodai sendiri hubungan historisnya dengan Golkar.

“Pernyataan itu akan menjadi ujian sejarah apakah Soksi memiliki kekuatan permanen sebagai organisasi independen sementara kadernya harus diakui cukup banyak dalam kepengurusan Golkar baik di Pusat maupun di Daerah,” kata Sabil.

Dalam konteks itulah lanjutnya, maka bagi Golkar tentu akan melihat bagaimana reaksi kader Soksi atas pernyataan Ketua Umum Soksi Ahmadi Noor Supit.

“Sebagai bagian dari Golkar maka Soksi juga terikat oleh komitmen moral politik dalam menjalankan misi dan agenda- agenda Golkar,” tutup Sabil. [FAZ]

]]> Ketua DPP Golkar Bidang Kerjasama Ormas Sabil Rachman menegaskan bahwa Soksi (Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia) merupakan bagian dari Partai Golkar dan terikat oleh komitmen moral politik dalam menjalankan misi dan agenda- agenda Golkar.

Untuk itu, kata Sabil, Soksi harus ikut mengamankan dan melaksanakan serta mendukung seluruh hasil- hasil Musyawarah Nasional Golkar tahun 2019.

Termasuk soal Calon Presiden dari Golkar dalam Pilpres 2024 yang menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua Umum Golkar untuk menentukan langkah- langkahnya.

“Pertanyaan saya sangat sederhana yakni bagaimanakah Soksi menegaskan posisi politiknya atas hasil Munas tersebut jika kemudian bersifat independen? Itulah pentingnya klarifikasi yang kami nantikan dari Ketua Umum Soksi, senior kami Pak Ahmadi Noor Supit atas pernyataanya,” tutur Ketua DPP Golkar Bidang Kerjasama Ormas, M. Sabil Rachman dalam keterangan tertulisnya, sabtu (29/5/2021).

Sabil mengaku harus mengklarifikasi soal pernyataan Ketua Umum SOKSI Ahmadi Noor Supit dalam pidato HUT Soksi bahwa Soksi adalah ormas independen.

“Karena bisa jadi Pak Noor Supit agak sulit menemukan diksi saat menyampaikan pernyataan. Sebagai senior Soksi dan Golkar maka menurut saya terlalu naif jika Ketua Umum Soksi ini menyatakan pandangan yang menurut saya sangat Ahistoris dan lari dari sejarah,” imbuhnya.

Sabil mengingatkan, Soksi bersama Kosgoro (Kosgoro 1957) dan MKGR (Ormas MKGR) yang membidani kelahiran Golkar tahun 1964 sebagai fakta sejarah yang tidak terbantahkan.

“Dalam AD ART Golkar itu yang tegas disebut sebagai organisasi pendiri Golkar. Jika kemudian ia independen maka relasi historis itu ternodai dan saya kira adalah tidak mungkin Soksi menodai sejarah itu,” katanya.

Namun demikian jika benar ia bersifat independen maka tentu membawa konsekuensi serius untuk mengatakan bahwa SOKSI dengan sistematik telah menodai sendiri hubungan historisnya dengan Golkar.

“Pernyataan itu akan menjadi ujian sejarah apakah Soksi memiliki kekuatan permanen sebagai organisasi independen sementara kadernya harus diakui cukup banyak dalam kepengurusan Golkar baik di Pusat maupun di Daerah,” kata Sabil.

Dalam konteks itulah lanjutnya, maka bagi Golkar tentu akan melihat bagaimana reaksi kader Soksi atas pernyataan Ketua Umum Soksi Ahmadi Noor Supit.

“Sebagai bagian dari Golkar maka Soksi juga terikat oleh komitmen moral politik dalam menjalankan misi dan agenda- agenda Golkar,” tutup Sabil. [FAZ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories