Soal Sekolah Tatap Muka Putusannya, Pekan Depan Ya!

Pemerintah mewacanakan pembelajaran tatap muka bagi sekolah Juli mendatang. Jadi atau tidaknya wacana itu, akan diumumkan pekan depan.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito menyatakan, pemerintah tengah menyusun surat keputusan bersama (SKB) antar kementerian dan lembaga, perihal pembelajaran tatap muka. Jika tak ada aral melintang, pekan depan SKB tersebut diumumkan. “Akan diumumkan segera,” ujar Wiku dalam keterangan persnya, kemarin.

Sempat dikabarkan, SKB akan diterbitkan kemarin Rabu (24/3). Wiku menyebut, sampai saat ini, kementerian-kementerian itu masih berkoordinasi. Mereka masih mempelajari berbagai masukan, bahkan sampai hal yang mendetail. Termasuk, standar operasional yang bakal diterapkan nantinya.

“SKB tersebut dalam tahap finalisasi dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga,” imbuhnya.

Empat menteri yang terlibat dalam pembahasan SKB ini adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem, Menteri Agama Yaqut Cholil Choumas, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Pemerintah berhati-hati. Sebab, persoalan pembukaan sekolah ini sangat krusial, mengingat anak-anak gemar berkerumun dan mudah lalai terhadap protokol kesehatan. “Pengawasan yang dilakukan terkait dengan pembelajaran tatap muka akan mengacu pada surat keputusan bersama tersebut,” kata Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia itu.

Menurut Wiku, pada prinsipnya aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro jilid 4 sudah membolehkan kegiatan pembelajaran tatap muka dilakukan bertahap. Dimulai dari institusi percontohan, yakni universitas dan perguruan tinggi. Jika berhasil, akan dilanjutkan ke tingkat sekolah.

Terpisah, Juru Bicara Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Masduki Baidlowi menekankan prinsip kehati-hatian jika pembelajaran tatap muka kembali dibuka. Sesuai arahan wapres, dia meminta guru-guru tetap menjaga protokol kesehatan meskipun telah melaksanakan vaksinasi. “Tetap kalau kita tidak hati-hati, itu juga bisa kena atau positif Covid,” ucapnya.

Masduki juga mengingatkan, pembukaan sekolah tatap muka harus sejalan dengan target di bidang kesehatan. Jangan sampai desakan buka sekolah ini justru memicu peningkatan kasus Covid-19 nantinya.

Hal ini, dinilai bisa mengganggu upaya pembentukan kekebalan kelompok alias herd immunity. Karena itu, setiap keputusan akan diambil dengan sangat hati-hati.

“Makanya sampai sekarang mudik saja belum diputuskan. Sekolah juga. Sudah ada tim yang sedang berjalan terus melihat dan mengevaluasi apakah itu dijalankan atau tidak,” tegas    Masduki. [JAR]

]]> Pemerintah mewacanakan pembelajaran tatap muka bagi sekolah Juli mendatang. Jadi atau tidaknya wacana itu, akan diumumkan pekan depan.

Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito menyatakan, pemerintah tengah menyusun surat keputusan bersama (SKB) antar kementerian dan lembaga, perihal pembelajaran tatap muka. Jika tak ada aral melintang, pekan depan SKB tersebut diumumkan. “Akan diumumkan segera,” ujar Wiku dalam keterangan persnya, kemarin.

Sempat dikabarkan, SKB akan diterbitkan kemarin Rabu (24/3). Wiku menyebut, sampai saat ini, kementerian-kementerian itu masih berkoordinasi. Mereka masih mempelajari berbagai masukan, bahkan sampai hal yang mendetail. Termasuk, standar operasional yang bakal diterapkan nantinya.

“SKB tersebut dalam tahap finalisasi dengan melibatkan berbagai kementerian dan lembaga,” imbuhnya.

Empat menteri yang terlibat dalam pembahasan SKB ini adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makariem, Menteri Agama Yaqut Cholil Choumas, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian.

Pemerintah berhati-hati. Sebab, persoalan pembukaan sekolah ini sangat krusial, mengingat anak-anak gemar berkerumun dan mudah lalai terhadap protokol kesehatan. “Pengawasan yang dilakukan terkait dengan pembelajaran tatap muka akan mengacu pada surat keputusan bersama tersebut,” kata Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia itu.

Menurut Wiku, pada prinsipnya aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro jilid 4 sudah membolehkan kegiatan pembelajaran tatap muka dilakukan bertahap. Dimulai dari institusi percontohan, yakni universitas dan perguruan tinggi. Jika berhasil, akan dilanjutkan ke tingkat sekolah.

Terpisah, Juru Bicara Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Masduki Baidlowi menekankan prinsip kehati-hatian jika pembelajaran tatap muka kembali dibuka. Sesuai arahan wapres, dia meminta guru-guru tetap menjaga protokol kesehatan meskipun telah melaksanakan vaksinasi. “Tetap kalau kita tidak hati-hati, itu juga bisa kena atau positif Covid,” ucapnya.

Masduki juga mengingatkan, pembukaan sekolah tatap muka harus sejalan dengan target di bidang kesehatan. Jangan sampai desakan buka sekolah ini justru memicu peningkatan kasus Covid-19 nantinya.

Hal ini, dinilai bisa mengganggu upaya pembentukan kekebalan kelompok alias herd immunity. Karena itu, setiap keputusan akan diambil dengan sangat hati-hati.

“Makanya sampai sekarang mudik saja belum diputuskan. Sekolah juga. Sudah ada tim yang sedang berjalan terus melihat dan mengevaluasi apakah itu dijalankan atau tidak,” tegas    Masduki. [JAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories