Soal Presiden Dari Jawa, Endang Tirtana Sebut Bukan Untuk Dipolitisasi

Menteri BUMN Erick Thohir berbicara peluang presiden Indonesia setelah kepemimpinan Joko Widodo (Widodo). Dia mengungkapkan, presiden yang nantinya terpilih pasti orang Jawa.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjitan pun pernah bicara soal orang dari luar Jawa harus sadar diri jika berpikiran untuk maju sebagai presiden dalam Pemilu 2024.

Direktur Indonesia Watch For Democracy (IWD), Endang Tirtana menilai, pernyataan Erick dan Luhut merupakan realita politik. Sehingga pihak yang mempolitisir pernyataan tersebut malah menumbuhkan bibit polarisasi di Indonesia.

Dia menjelaskan, upaya untuk mengubah paradigma jawasentris telah dilakukan Jokowi. Di mana Jokowi berupaya membangun Indonesiasentris, dengan penyebaran pertumbuhan ekonomi ke luar Jawa hingga daerah perbatasan, pinggiran, dan pulau-pulau terluar.

“Tidak menutup kemungkinan kita akan memiliki banyak tokoh dari semua kalangan. Seperti dulu saat pendiri bangsa berkumpul untuk menyatakan sumpah bahwa kita adalah satu bangsa, satu tanah air, dan memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia,” katanya.

Endang menerangkan, selama ini elite politik selalu menggunakan konsep politik aliran yang mengombinasikan tokoh nasionalis (aristokrasi jawa) dengan Islam (saudagar/islamic entrepeneur).

“Kombinasi tersebut dianggap sebagai gagasan ideal pemimpin Indonesia. Dengan mengasumsikan bahwa jumlah pemilih terbesar terkonsentrasi di Pulau Jawa. Padahal tidak berarti bahwa pemimpin hanya lahir dari Jawa,” jelasnya.

Dia mengingatkan, banyak tokoh juga berdarah campuran. Sebagai contoh Soekarno, di mana ibunya berasal dari Bali, kemudian M Hatta yang berasal dari Minang.

“Megawati dari Minang, Habibie orang Pare Pare, Gus Dur ada keturunan Tionghoa. Di DKI yang merupakan ibukota negara pernah dipimpin keturunan Ahok yang merupakan keturunan Tionghoa dan Anies Baswedan dari Arab,” tutupnya.

]]> Menteri BUMN Erick Thohir berbicara peluang presiden Indonesia setelah kepemimpinan Joko Widodo (Widodo). Dia mengungkapkan, presiden yang nantinya terpilih pasti orang Jawa.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjitan pun pernah bicara soal orang dari luar Jawa harus sadar diri jika berpikiran untuk maju sebagai presiden dalam Pemilu 2024.

Direktur Indonesia Watch For Democracy (IWD), Endang Tirtana menilai, pernyataan Erick dan Luhut merupakan realita politik. Sehingga pihak yang mempolitisir pernyataan tersebut malah menumbuhkan bibit polarisasi di Indonesia.

Dia menjelaskan, upaya untuk mengubah paradigma jawasentris telah dilakukan Jokowi. Di mana Jokowi berupaya membangun Indonesiasentris, dengan penyebaran pertumbuhan ekonomi ke luar Jawa hingga daerah perbatasan, pinggiran, dan pulau-pulau terluar.

“Tidak menutup kemungkinan kita akan memiliki banyak tokoh dari semua kalangan. Seperti dulu saat pendiri bangsa berkumpul untuk menyatakan sumpah bahwa kita adalah satu bangsa, satu tanah air, dan memiliki bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia,” katanya.

Endang menerangkan, selama ini elite politik selalu menggunakan konsep politik aliran yang mengombinasikan tokoh nasionalis (aristokrasi jawa) dengan Islam (saudagar/islamic entrepeneur).

“Kombinasi tersebut dianggap sebagai gagasan ideal pemimpin Indonesia. Dengan mengasumsikan bahwa jumlah pemilih terbesar terkonsentrasi di Pulau Jawa. Padahal tidak berarti bahwa pemimpin hanya lahir dari Jawa,” jelasnya.

Dia mengingatkan, banyak tokoh juga berdarah campuran. Sebagai contoh Soekarno, di mana ibunya berasal dari Bali, kemudian M Hatta yang berasal dari Minang.

“Megawati dari Minang, Habibie orang Pare Pare, Gus Dur ada keturunan Tionghoa. Di DKI yang merupakan ibukota negara pernah dipimpin keturunan Ahok yang merupakan keturunan Tionghoa dan Anies Baswedan dari Arab,” tutupnya.
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories