Soal Nanggala KSAL Jangan Lempar Batu Sembunyi Tangan!

Penyebab tenggelamnya kapal selam KRI Nenggala-402 di kedalaman 838 meter, di Laut Utara Bali, belum diketahui pasti. Investigasi baru bisa dilakukan TNI AL setelah bangkai kapal yang terbelah menjadi 3 bagian itu, diangkat ke permukaan. Namun, desakan agar Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Yudo Margono bertanggung jawab mulai disuarakan. KSAL diminta jangan lempar batu sembunyi tangan hanya dengan menyalahkan faktor alam.

Kritikan pertama datang dari kalangan DPR. Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin meminta Yudo Margono bertanggung jawab. Sambil menunggu tanggung jawab KSAL, politisi senior Banteng ini akan mencari tahu penyebab kecalakaan yang menelan korban hingga 53 orang.

“KSAL Laksamana TNI Yudo Margono harus bertanggung jawab atas tragedi ini,” ujar Hasanuddin di Komplek Parlemen, Jakarta, kemarin.

Eks calon Gubernur Jawa Barat ini menuturkan, Nanggala-402 adalah kapal selam yang sudah berumur. Usianya telah melampaui batas operasional.

“Nanggala-402 ini sudah tergolong cukup tua. Mengingat sebuah kapal selam biasanya hanya bertahan 25 tahun. Tapi ini masih digunakan,” ungkap purnawirawan TNI Angkatan Darat itu.

Dia lantas mengungkapkan fakta baru. Kata dia, Hiu Kencana-402 itu sudah melewati batas waktu pemeliharaan selama tiga tahun. Informasi serupa juga dia dapatkan dari media Korea Selatan, Hankookilbo, 22 April 2021 lalu. Media itu melaporkan, kapal selam buatan Jerman tersebut menjalani overhaul kali terakhir pada 2012 lalu di perusahaan kapal Korsel, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) Co., Ltd.

“Butuh waktu dua tahun untuk pemeliharaan dan peningkatan senjatanya. Berdasarkan jadwal, kapal selam seharusnya melakukan pemeliharaan setiap enam tahun untuk dinyatakan layak, apalagi bila usia kapal sudah tua,” ungkapnya.

Untuk itu, dia mendesak Panglima TNI dan Kementerian Pertahanan segera melakukan investigasi atas tragedi tersebut. Informasi kalau Nanggala tidak kunjung mendapatkan perawatan dari tahun 2012 hingga sekarang, harus bisa dibuktikan.

“Kalau memang benar, ini sangat keterlaluan,” tegas saudara kandung Jaksa Agung Sanitiar Burhanudin itu.

Hal senada juga disampaikan pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati. Nuning, sapaan akrabnya, menilai Yudo-lah yang paling bertanggung jawab dengan kejadian yang berhasil menguras emosi 275 juta penduduk Indonesia itu. “KSAL harus bertanggung jawab,” ucap Nuning kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dia geram jika kejadian nahas ini dihubung-hubungkan dengan faktor alam. “Tidak bisa mengatakan ini faktor alam. Toh, ini kan jelas kapal selamnya bermasalah! Sudah diingatkan pula sama salah seorang perwira bahwa ini kapal tidak layak operasi,” cetusnya.

Apalagi dalam kurun waktu kurang dari setahun, dua kapal milik TNI AL tenggelam. Pertama, KRI Teluk Jakarta-541 tenggelam di perairan Timur Laut Pulau Kangean, Jawa Timur, Selasa (14/7) tahun lalu. Selanjutnya, alias yang teranyar KRI Nanggala-402, tenggelam bersama 53 awaknya di perairan Bali saat akan melakukan latihan uji rudal, Rabu (21/4) lalu.

 

“Belum setahun sudah dua KRI alami kecelakaan,” tekan Nuning.

Eks anggota DPR ini juga mengkritik terkait waktu persiapan kapal dan awaknya sebelum melakukan latihan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, jelang keberangkatan KRI Nanggala-402 ke perairan Bali, hanya melakukan persiapan selama dua minggu. “Kalau mau matang, persiapannya itu dua bulan. Lho, ini hanya seminggu, kan tidak paripurna,” cecarnya.

Karenanya, Nuning mendesak pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh. “Kejadian ini harus menjadi peluit peringatan agar pemerintah mengevaluasi alutsista yang kita miliki, sistem perawatan (MRO),” sebut Nuning.

Apa tanggapan TNI AL? Kepala Dinas Penerangan AL (Kadispenal), Laksamana Pertama Julius Widjojono menuturkan, musibah kapal selam bukan kali pertama terjadi di dunia. Negara besar seperti Rusia, Amerika Serikat, pernah beberapa kali mengalami kecelakaan kapal selam. Sedangkan Indonesia setelah puluhan tahun baru kali ini terjadi.

“Asrena dan ahli gelombang laut telah mengemukakan hal yang terjadi jika penyelam statis lalu kena pusaran laut. Jadi dimungkinkan karena faktor alam,” bebernya saat dimintai penjelasan oleh Rakyat Merdeka, kemarin.

Sebelumnya, Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) KSAL Laksda Muhammad Ali menjelaskan, pada saat kapal selam menyelam, faktor yang paling berpengaruh adalah faktor arus bawah laut yang berbeda tergantung kondisinya. Artinya, awak kapal selam sebelum beroperasi mesti melihat panduan untuk menyampaikan kondisi daerah yang dituju, seperti faktor oseanografi maupun hidrografi.

Sayangnya, menurut Julius, alasan ini tidak akan bisa diterima jika amatan segelintir orang punya tujuan tertentu. Apa itu?

“Saya pribadi prihatin, sangat prihatin, adanya individu tertentu yang sangat sengaja dan tidak proporsional apalagi profesional melakukan analisa terhadap musibah ini, justru dibawa ke arah suksesi Panglima TNI,” sambarnya.

Padahal, kata dia, Yudo bukan tipikal orang yang ambisius mencari jabatan, apalagi memaksakan untuk menduduki jabatan tertentu. “Berkali-kali disampaikan ‘aku anak petani’ jadi KSAL saja sudah hebat,” tutur Julius menirukan ucapan Yudo.

Dia berharap hal-hal semacam ini disudahi. Sebab bosnya itu tidak akan lempar batu sembunyi tangan. “Jangan lagi diarahkan ke personal sehingga dipaksakan kapal selam seperti angkot, dipaksakan kesalahan ke KSAL,” imbuhnya.

Apakah ada yang disanksi dari kejadian ini? Julius mempersilakan publik untuk mengawasinya. “Tunggu hasil evaluasi. KSAL sangat jelas blak-blakan ayo bicara sampaikan jangan takut. Kasarannya koboy, objektif proporsional dan profesional,” pungkasnya. [UMM]

]]> Penyebab tenggelamnya kapal selam KRI Nenggala-402 di kedalaman 838 meter, di Laut Utara Bali, belum diketahui pasti. Investigasi baru bisa dilakukan TNI AL setelah bangkai kapal yang terbelah menjadi 3 bagian itu, diangkat ke permukaan. Namun, desakan agar Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Yudo Margono bertanggung jawab mulai disuarakan. KSAL diminta jangan lempar batu sembunyi tangan hanya dengan menyalahkan faktor alam.

Kritikan pertama datang dari kalangan DPR. Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin meminta Yudo Margono bertanggung jawab. Sambil menunggu tanggung jawab KSAL, politisi senior Banteng ini akan mencari tahu penyebab kecalakaan yang menelan korban hingga 53 orang.

“KSAL Laksamana TNI Yudo Margono harus bertanggung jawab atas tragedi ini,” ujar Hasanuddin di Komplek Parlemen, Jakarta, kemarin.

Eks calon Gubernur Jawa Barat ini menuturkan, Nanggala-402 adalah kapal selam yang sudah berumur. Usianya telah melampaui batas operasional.

“Nanggala-402 ini sudah tergolong cukup tua. Mengingat sebuah kapal selam biasanya hanya bertahan 25 tahun. Tapi ini masih digunakan,” ungkap purnawirawan TNI Angkatan Darat itu.

Dia lantas mengungkapkan fakta baru. Kata dia, Hiu Kencana-402 itu sudah melewati batas waktu pemeliharaan selama tiga tahun. Informasi serupa juga dia dapatkan dari media Korea Selatan, Hankookilbo, 22 April 2021 lalu. Media itu melaporkan, kapal selam buatan Jerman tersebut menjalani overhaul kali terakhir pada 2012 lalu di perusahaan kapal Korsel, Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering (DSME) Co., Ltd.

“Butuh waktu dua tahun untuk pemeliharaan dan peningkatan senjatanya. Berdasarkan jadwal, kapal selam seharusnya melakukan pemeliharaan setiap enam tahun untuk dinyatakan layak, apalagi bila usia kapal sudah tua,” ungkapnya.

Untuk itu, dia mendesak Panglima TNI dan Kementerian Pertahanan segera melakukan investigasi atas tragedi tersebut. Informasi kalau Nanggala tidak kunjung mendapatkan perawatan dari tahun 2012 hingga sekarang, harus bisa dibuktikan.

“Kalau memang benar, ini sangat keterlaluan,” tegas saudara kandung Jaksa Agung Sanitiar Burhanudin itu.

Hal senada juga disampaikan pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati. Nuning, sapaan akrabnya, menilai Yudo-lah yang paling bertanggung jawab dengan kejadian yang berhasil menguras emosi 275 juta penduduk Indonesia itu. “KSAL harus bertanggung jawab,” ucap Nuning kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dia geram jika kejadian nahas ini dihubung-hubungkan dengan faktor alam. “Tidak bisa mengatakan ini faktor alam. Toh, ini kan jelas kapal selamnya bermasalah! Sudah diingatkan pula sama salah seorang perwira bahwa ini kapal tidak layak operasi,” cetusnya.

Apalagi dalam kurun waktu kurang dari setahun, dua kapal milik TNI AL tenggelam. Pertama, KRI Teluk Jakarta-541 tenggelam di perairan Timur Laut Pulau Kangean, Jawa Timur, Selasa (14/7) tahun lalu. Selanjutnya, alias yang teranyar KRI Nanggala-402, tenggelam bersama 53 awaknya di perairan Bali saat akan melakukan latihan uji rudal, Rabu (21/4) lalu.

 

“Belum setahun sudah dua KRI alami kecelakaan,” tekan Nuning.

Eks anggota DPR ini juga mengkritik terkait waktu persiapan kapal dan awaknya sebelum melakukan latihan. Berdasarkan informasi yang diterimanya, jelang keberangkatan KRI Nanggala-402 ke perairan Bali, hanya melakukan persiapan selama dua minggu. “Kalau mau matang, persiapannya itu dua bulan. Lho, ini hanya seminggu, kan tidak paripurna,” cecarnya.

Karenanya, Nuning mendesak pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh. “Kejadian ini harus menjadi peluit peringatan agar pemerintah mengevaluasi alutsista yang kita miliki, sistem perawatan (MRO),” sebut Nuning.

Apa tanggapan TNI AL? Kepala Dinas Penerangan AL (Kadispenal), Laksamana Pertama Julius Widjojono menuturkan, musibah kapal selam bukan kali pertama terjadi di dunia. Negara besar seperti Rusia, Amerika Serikat, pernah beberapa kali mengalami kecelakaan kapal selam. Sedangkan Indonesia setelah puluhan tahun baru kali ini terjadi.

“Asrena dan ahli gelombang laut telah mengemukakan hal yang terjadi jika penyelam statis lalu kena pusaran laut. Jadi dimungkinkan karena faktor alam,” bebernya saat dimintai penjelasan oleh Rakyat Merdeka, kemarin.

Sebelumnya, Asisten Perencanaan dan Anggaran (Asrena) KSAL Laksda Muhammad Ali menjelaskan, pada saat kapal selam menyelam, faktor yang paling berpengaruh adalah faktor arus bawah laut yang berbeda tergantung kondisinya. Artinya, awak kapal selam sebelum beroperasi mesti melihat panduan untuk menyampaikan kondisi daerah yang dituju, seperti faktor oseanografi maupun hidrografi.

Sayangnya, menurut Julius, alasan ini tidak akan bisa diterima jika amatan segelintir orang punya tujuan tertentu. Apa itu?

“Saya pribadi prihatin, sangat prihatin, adanya individu tertentu yang sangat sengaja dan tidak proporsional apalagi profesional melakukan analisa terhadap musibah ini, justru dibawa ke arah suksesi Panglima TNI,” sambarnya.

Padahal, kata dia, Yudo bukan tipikal orang yang ambisius mencari jabatan, apalagi memaksakan untuk menduduki jabatan tertentu. “Berkali-kali disampaikan ‘aku anak petani’ jadi KSAL saja sudah hebat,” tutur Julius menirukan ucapan Yudo.

Dia berharap hal-hal semacam ini disudahi. Sebab bosnya itu tidak akan lempar batu sembunyi tangan. “Jangan lagi diarahkan ke personal sehingga dipaksakan kapal selam seperti angkot, dipaksakan kesalahan ke KSAL,” imbuhnya.

Apakah ada yang disanksi dari kejadian ini? Julius mempersilakan publik untuk mengawasinya. “Tunggu hasil evaluasi. KSAL sangat jelas blak-blakan ayo bicara sampaikan jangan takut. Kasarannya koboy, objektif proporsional dan profesional,” pungkasnya. [UMM]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories