Soal Kibarkan Bendera Putih Gerakan Di Malaysia Mulai Menular Ke Sini .

Gerakan mengibarkan bendera putih, yang awalnya muncul di Malaysia, mulai menular ke Indonesia. Sejumlah pedagang pasar serta pengusaha hotel dan restoran di sejumlah daerah yang usahanya terpuruk, ikutan menggelar aksi tersebut. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang diberlakukan untuk melawan Covid-19, dianggap bikin mereka mati pelan-pelan.

Kebijakan lockdown di Malaysia, awal Juli lalu, memicu krisis sosial. Banyak warga miskin di sana kelaparan lantaran tak punya lagi bahan makanan. Atas kondisi tersebut, muncul kampanye mengibarkan bendera putih. Warga yang tak punya bahan makanan diminta mengibarkan bendera putih sebagai tanda permintaan tolong. Ribuan warga pun mengibarkan bendera putih. Kampanye ini lumayan efektif. Warga, artis, dan pengusaha ramai-ramai memberikan bantuan.

Gerakan itu rupanya menular ke Tanah Air. Sejak akhir pekan lalu, aksi mengibarkan bendera putih mulai muncul di sejumlah daerah. Pertama kali terpantau dipasang para PKL yang berjualan di sepanjang Jalan Cikapundung Barat, Bandung, akhir pekan lalu.

Mereka memasang bendera putih di ujung bambu di depan kios. Tak hanya bendera putih, spanduk dan baliho berisi pesan bernada ratapan bertebaran di sepanjang jalan tersebut. Dalam salah satu spanduk dituliskan keluhan atas PPKM Darurat yang membuat mereka seperti mati perlahan-lahan. “Tolong selamatkan kami. Berikan kami solusi untuk bertahan,” bunyi spanduk tersebut.

Juru Bicara Paguyuban PKL Cikapundung Barat, Sukmayadi mengatakan, aksi tersebut sebagai ungkapan kesedihan para pedagang. Kata dia, di lokasi itu, ada 104 pedagang yang berjualan kuliner, buku dan majalah, serta stempel. Sejak peraturan PPKM Darurat, mayoritas pedagang terdampak, terutama para pedagang makanan. Dagangan mereka tak laku karena akses ditutup.

Ate, sapaan Sukmayadi, menceritakan, pihaknya sudah berkeluh kesah kepada pemerintah. Namun, tak kunjung mendapat solusi. Akhirnya, mereka berinisiatif memasang bendera putih. “Kami sudah bingung. Seperti tidak ada lagi jalan untuk esok atau lusa mencari sesuap nasi,” keluhnya.

Para pengusaha hotel dan restoran di Garut, Jawa Barat, juga merasakan hal serupa. Mereka pun ikut aksi mengibarkan bendera putih. Setidaknya, ada 30 hotel dan restoran yang tergabung dalam Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), yang ikut aksi ini. Bendera putih yang dikibarkan agak berbeda. Bendera yang dipasang tidak polos, tapi disertai gambar ikon emosi menangis.

Ketua PHRI Garut, Deden Rohim mengatakan, pengibaran bendera putih ini adalah refleksi pengusaha hotel dan restoran yang terpuruk dan menangis dengan keadaan. PHRI Garut sudah melakukan audiensi dengan pemerintah daerah. Namun, hingga kini belum ada solusi yang nyata. “Kami bingung harus bagaimana lagi. Makanya kami pasang bendera itu,” ucap Deden.

Para pedagang pasar juga mengalami nasib serupa. Penjualan mereka anjlok. Menurut Bidang Kajian Penelitian dan Pengembangan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Badrussalam, kebijakan PPKM Darurat benar-benar membuat pedagang pasar terpuruk. Ada sekitar 5 juta dari 12 juta pedagang pasar tradisional di berbagai daerah terpaksa tutup. Sisanya, sekitar 6,7 juta pedagang pasar masih beroperasi, tetapi sudah mengalami penurunan pendapatan sekitar 70-90 persen. 

 

Karena itu, ia berharap pemerintah mengevaluasi kebijakan. “Agar kami para pedagang pasar sebagai penggerak ekonomi tak semakin kesulitan dan tak berdaya,” ucapnya.

Bagaimana tanggapan pemerintah atas hal ini? Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyatakan telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 2,4 triliun untuk program pemulihan ekonomi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di semua daerah. Mereka yang akan mendapat bantuan, termasuk para pelaku UMKM di bidang parekraf yang sudah mengibarkan bendera putih karena sangat terdampak pandemi dan PPKM Darurat.

“Kita pastikan ketepatan sasaran program dan akuntabilitasnya terjaga. Kita ingin secepatnya membantu pelaku UMKM yang sudah banyak mengibarkan bendera putih. Mudah-mudahan bisa segera terlaksana,” kata Menparekraf Sandiaga Uno, dalam Weekly Press Briefing secara virtual, Senin lalu.

Di dunia maya, kabar pengibaran bendera putih ini jadi perhatian warganet. Sebagian netizen mengaku sedih melihat dampak pandemi yang begitu nyata terhadap pada pedagang.

Akun @wikowik meminta para pejabat, termasuk Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, turun ke lapangan, melihat rakyat yang sedang kesulitan. “Aduh, aduh, Kang Emil bagaimana ini banyak berudak ceurik geuningan,” ujarnya.

Akun @jetsilvers mengajak follower-nya untuk ikut dalam gerakan bendera putih ini. “Kibarkan bendera putih bagi yang sudah tidak punya daya,” ajaknya.

Akun @azwasiregar mengajak kampanye serupa. Ia berharap mudah-mudahan muncul solidaritas untuk saling membantu.

Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Jimly Asshiddiqie mengajak semua pihak untuk meningkatkan solidaritas dan kepedulian. “Selamat menguatkan spirit untuk caring, sharing dan giving, jangan cuma sibuk dan rebutan mengambil dan menikmati dari negara apa saja bisa dinikmati,” tulisnya, di akun @JimlyAs. [BCG]

]]> .
Gerakan mengibarkan bendera putih, yang awalnya muncul di Malaysia, mulai menular ke Indonesia. Sejumlah pedagang pasar serta pengusaha hotel dan restoran di sejumlah daerah yang usahanya terpuruk, ikutan menggelar aksi tersebut. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang diberlakukan untuk melawan Covid-19, dianggap bikin mereka mati pelan-pelan.
Kebijakan lockdown di Malaysia, awal Juli lalu, memicu krisis sosial. Banyak warga miskin di sana kelaparan lantaran tak punya lagi bahan makanan. Atas kondisi tersebut, muncul kampanye mengibarkan bendera putih. Warga yang tak punya bahan makanan diminta mengibarkan bendera putih sebagai tanda permintaan tolong. Ribuan warga pun mengibarkan bendera putih. Kampanye ini lumayan efektif. Warga, artis, dan pengusaha ramai-ramai memberikan bantuan.
Gerakan itu rupanya menular ke Tanah Air. Sejak akhir pekan lalu, aksi mengibarkan bendera putih mulai muncul di sejumlah daerah. Pertama kali terpantau dipasang para PKL yang berjualan di sepanjang Jalan Cikapundung Barat, Bandung, akhir pekan lalu.
Mereka memasang bendera putih di ujung bambu di depan kios. Tak hanya bendera putih, spanduk dan baliho berisi pesan bernada ratapan bertebaran di sepanjang jalan tersebut. Dalam salah satu spanduk dituliskan keluhan atas PPKM Darurat yang membuat mereka seperti mati perlahan-lahan. “Tolong selamatkan kami. Berikan kami solusi untuk bertahan,” bunyi spanduk tersebut.
Juru Bicara Paguyuban PKL Cikapundung Barat, Sukmayadi mengatakan, aksi tersebut sebagai ungkapan kesedihan para pedagang. Kata dia, di lokasi itu, ada 104 pedagang yang berjualan kuliner, buku dan majalah, serta stempel. Sejak peraturan PPKM Darurat, mayoritas pedagang terdampak, terutama para pedagang makanan. Dagangan mereka tak laku karena akses ditutup.
Ate, sapaan Sukmayadi, menceritakan, pihaknya sudah berkeluh kesah kepada pemerintah. Namun, tak kunjung mendapat solusi. Akhirnya, mereka berinisiatif memasang bendera putih. “Kami sudah bingung. Seperti tidak ada lagi jalan untuk esok atau lusa mencari sesuap nasi,” keluhnya.
Para pengusaha hotel dan restoran di Garut, Jawa Barat, juga merasakan hal serupa. Mereka pun ikut aksi mengibarkan bendera putih. Setidaknya, ada 30 hotel dan restoran yang tergabung dalam Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), yang ikut aksi ini. Bendera putih yang dikibarkan agak berbeda. Bendera yang dipasang tidak polos, tapi disertai gambar ikon emosi menangis.
Ketua PHRI Garut, Deden Rohim mengatakan, pengibaran bendera putih ini adalah refleksi pengusaha hotel dan restoran yang terpuruk dan menangis dengan keadaan. PHRI Garut sudah melakukan audiensi dengan pemerintah daerah. Namun, hingga kini belum ada solusi yang nyata. “Kami bingung harus bagaimana lagi. Makanya kami pasang bendera itu,” ucap Deden.
Para pedagang pasar juga mengalami nasib serupa. Penjualan mereka anjlok. Menurut Bidang Kajian Penelitian dan Pengembangan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Badrussalam, kebijakan PPKM Darurat benar-benar membuat pedagang pasar terpuruk. Ada sekitar 5 juta dari 12 juta pedagang pasar tradisional di berbagai daerah terpaksa tutup. Sisanya, sekitar 6,7 juta pedagang pasar masih beroperasi, tetapi sudah mengalami penurunan pendapatan sekitar 70-90 persen. 

 

Karena itu, ia berharap pemerintah mengevaluasi kebijakan. “Agar kami para pedagang pasar sebagai penggerak ekonomi tak semakin kesulitan dan tak berdaya,” ucapnya.
Bagaimana tanggapan pemerintah atas hal ini? Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menyatakan telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 2,4 triliun untuk program pemulihan ekonomi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di semua daerah. Mereka yang akan mendapat bantuan, termasuk para pelaku UMKM di bidang parekraf yang sudah mengibarkan bendera putih karena sangat terdampak pandemi dan PPKM Darurat.
“Kita pastikan ketepatan sasaran program dan akuntabilitasnya terjaga. Kita ingin secepatnya membantu pelaku UMKM yang sudah banyak mengibarkan bendera putih. Mudah-mudahan bisa segera terlaksana,” kata Menparekraf Sandiaga Uno, dalam Weekly Press Briefing secara virtual, Senin lalu.
Di dunia maya, kabar pengibaran bendera putih ini jadi perhatian warganet. Sebagian netizen mengaku sedih melihat dampak pandemi yang begitu nyata terhadap pada pedagang.
Akun @wikowik meminta para pejabat, termasuk Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, turun ke lapangan, melihat rakyat yang sedang kesulitan. “Aduh, aduh, Kang Emil bagaimana ini banyak berudak ceurik geuningan,” ujarnya.
Akun @jetsilvers mengajak follower-nya untuk ikut dalam gerakan bendera putih ini. “Kibarkan bendera putih bagi yang sudah tidak punya daya,” ajaknya.
Akun @azwasiregar mengajak kampanye serupa. Ia berharap mudah-mudahan muncul solidaritas untuk saling membantu.
Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Jimly Asshiddiqie mengajak semua pihak untuk meningkatkan solidaritas dan kepedulian. “Selamat menguatkan spirit untuk caring, sharing dan giving, jangan cuma sibuk dan rebutan mengambil dan menikmati dari negara apa saja bisa dinikmati,” tulisnya, di akun @JimlyAs. [BCG]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories