Soal Anak-anak Boleh Masuk Mall Prof. Zubairi Djoerban: Yang Belum Vaksin, Nanti Dulu

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban yang akrab disapa Prof. Beri, angkat bicara soal dibolehkannya anak usia 12 tahun ke bawah, untuk masuk ke mall atau pusat perbelanjaan.

Pelonggaran ini dilakukan pemerintah dalam masa perpanjangan PPKM pada 21-27 September, seiring membaiknya situasi Covid nasional. Yang antara lain ditandai oleh angka reproduksi di bawah 1, kasus harian di angka 2.000-an, dan kasus aktif yang kini sudah berada di bawah angka 60 ribu.

“Sebaiknya, bertahap saja. Yang sudah vaksin, saya setuju saja. Yang belum, nanti dulu,” papar Prof. Beri.

“Jadi, kalau di mall, pada prinsipnya harus dibatasi jumlahnya. Dihitung, dan harus ada yang mensupervisi. Kalau kemudian terbukti banyak yang positif, ya harus dibuat aturan baru,” jelasnya.

Menurutnya, setiap pembuatan kebijakan baru, harus dimonitor dan dievakuasi. Disesuaikan dengan pandemi yang memang dinamis.

Stop Euforia

Pada kesempatan yang sama, Prof. Beri mengingatkan masyarakat agar tak larut dalam euforia penurunan kasus. 

Maklumlah, saat ini, kondisi pandemi di Indonesia memang sedang mengalami perbaikan signifikan.

“Ini diakui dunia. Problemnya, pengalaman dari semua negara, kondisi seperti ini tetap bisa memunculkan peningkatan kasus.  Contohnya bisa kita lihat di Malaysia, Singapura, , Vietnam, Thailand, dan Filipina, Israel, Sydney,” tutur Prof. Beri.

“Jangan euforia berkebihan. Jangan terlalu bersuka cita, kemudian lepas kendali. Merasa yakin tak tertular karena sudah divaksin. Protokol kesehatan harus tetap dijaga. Pakai masker, menghindari kerumunan, dan sering cuci tangan,” pungkasnya. [SAR]

]]> Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban yang akrab disapa Prof. Beri, angkat bicara soal dibolehkannya anak usia 12 tahun ke bawah, untuk masuk ke mall atau pusat perbelanjaan.

Pelonggaran ini dilakukan pemerintah dalam masa perpanjangan PPKM pada 21-27 September, seiring membaiknya situasi Covid nasional. Yang antara lain ditandai oleh angka reproduksi di bawah 1, kasus harian di angka 2.000-an, dan kasus aktif yang kini sudah berada di bawah angka 60 ribu.

“Sebaiknya, bertahap saja. Yang sudah vaksin, saya setuju saja. Yang belum, nanti dulu,” papar Prof. Beri.

“Jadi, kalau di mall, pada prinsipnya harus dibatasi jumlahnya. Dihitung, dan harus ada yang mensupervisi. Kalau kemudian terbukti banyak yang positif, ya harus dibuat aturan baru,” jelasnya.

Menurutnya, setiap pembuatan kebijakan baru, harus dimonitor dan dievakuasi. Disesuaikan dengan pandemi yang memang dinamis.

Stop Euforia

Pada kesempatan yang sama, Prof. Beri mengingatkan masyarakat agar tak larut dalam euforia penurunan kasus. 

Maklumlah, saat ini, kondisi pandemi di Indonesia memang sedang mengalami perbaikan signifikan.

“Ini diakui dunia. Problemnya, pengalaman dari semua negara, kondisi seperti ini tetap bisa memunculkan peningkatan kasus.  Contohnya bisa kita lihat di Malaysia, Singapura, , Vietnam, Thailand, dan Filipina, Israel, Sydney,” tutur Prof. Beri.

“Jangan euforia berkebihan. Jangan terlalu bersuka cita, kemudian lepas kendali. Merasa yakin tak tertular karena sudah divaksin. Protokol kesehatan harus tetap dijaga. Pakai masker, menghindari kerumunan, dan sering cuci tangan,” pungkasnya. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories