Situasi Politik Nasional Masih Cair Golkar Anggap Survei Cuma Alat Pancing Aja .

Partai Golkar menganggap hasil survei saat ini belum bisa dijadikan acuan atau patokan realitas di Pemilu 2024. Sebab, situasi politik nasional masih sangat cair. 

“Hasil survei tidak bisa dijadikan acuan dan belum mencerminkan realita di lapangan,” kata politisi Partai Golkar Azis Samual, seperti dikutip Antara

Menurutnya, Indonesia merupakan negara besar yang berlatar belakang dari berbagai etnis dan agama. Masyarakatnya juga sangat terbuka terhadap berbagai masalah. Karena itu, setiap waktu terjadi perubahan dukungan kepada partai politik maupun figur calon presiden. 

Mengenai berbagai figur baru yang muncul di berbagai lembaga survei, Azis menduga deretan nama yang muncul itu tergantung kepentingan di belakangnya. “Pada intinya ini political teaser, atau cara memancing diskursus di kalangan publik untuk tujuan tertentu,” ujarnya. 

Dia meyakini, ke depan figur ketua umum partai juga bakal mendominasi isu di Pilpres 2024, termasuk Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto. “Pak Airlangga Hartarto adalah kader kami yang terbaik dan beliau menunjukkan hal itu. Dia typical orang tidak mencari popularitas, sehingga wajar tidak melakukan kegiatan atau program khusus yang bertujuan untuk itu,” papar Azis. 

Dalam hal kepemimpinan partai, dia menyebut Airlangga memimpin organisasi secara efektif, cermat mendelegasikan kepemimpinan kepada seluruh fungsi struktural di partai. 

Sementara, pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menjelaskan, hasil survei dipastikan bermanfaat untuk partai politik. “Hasil lembaga survei itu bisa menjadi bahan untuk memetakan situasi politik yang ada. Partai politik bisa memprediksi arah dan kebijakan yang memang sesuai dengan aspirasi rakyat,” kata Emrus. 

Meski demikian, dia tak menampik hasil lembaga survei dijadikan bahan pencitraan bagi kalangan tertentu. “Lembaga survei merupakan potret sesaat, karena politik di Indonesia sangat dinamis. Selalu berubah-ubah. Hari ini partai A menang, seminggu berikutnya partai B yang menang,” terangnya. 

Dia memaklumi, Partai Golkar tidak menjadikan hasil survei sebagai patokan dari realitas politik yang ada saat ini. Apalagi, Pemilu 2024 masih jauh, sehingga peta politik dukungan kepada figur dan partai politik berubah terus. [REN]

]]> .
Partai Golkar menganggap hasil survei saat ini belum bisa dijadikan acuan atau patokan realitas di Pemilu 2024. Sebab, situasi politik nasional masih sangat cair. 

“Hasil survei tidak bisa dijadikan acuan dan belum mencerminkan realita di lapangan,” kata politisi Partai Golkar Azis Samual, seperti dikutip Antara. 

Menurutnya, Indonesia merupakan negara besar yang berlatar belakang dari berbagai etnis dan agama. Masyarakatnya juga sangat terbuka terhadap berbagai masalah. Karena itu, setiap waktu terjadi perubahan dukungan kepada partai politik maupun figur calon presiden. 

Mengenai berbagai figur baru yang muncul di berbagai lembaga survei, Azis menduga deretan nama yang muncul itu tergantung kepentingan di belakangnya. “Pada intinya ini political teaser, atau cara memancing diskursus di kalangan publik untuk tujuan tertentu,” ujarnya. 

Dia meyakini, ke depan figur ketua umum partai juga bakal mendominasi isu di Pilpres 2024, termasuk Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto. “Pak Airlangga Hartarto adalah kader kami yang terbaik dan beliau menunjukkan hal itu. Dia typical orang tidak mencari popularitas, sehingga wajar tidak melakukan kegiatan atau program khusus yang bertujuan untuk itu,” papar Azis. 

Dalam hal kepemimpinan partai, dia menyebut Airlangga memimpin organisasi secara efektif, cermat mendelegasikan kepemimpinan kepada seluruh fungsi struktural di partai. 

Sementara, pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing menjelaskan, hasil survei dipastikan bermanfaat untuk partai politik. “Hasil lembaga survei itu bisa menjadi bahan untuk memetakan situasi politik yang ada. Partai politik bisa memprediksi arah dan kebijakan yang memang sesuai dengan aspirasi rakyat,” kata Emrus. 

Meski demikian, dia tak menampik hasil lembaga survei dijadikan bahan pencitraan bagi kalangan tertentu. “Lembaga survei merupakan potret sesaat, karena politik di Indonesia sangat dinamis. Selalu berubah-ubah. Hari ini partai A menang, seminggu berikutnya partai B yang menang,” terangnya. 

Dia memaklumi, Partai Golkar tidak menjadikan hasil survei sebagai patokan dari realitas politik yang ada saat ini. Apalagi, Pemilu 2024 masih jauh, sehingga peta politik dukungan kepada figur dan partai politik berubah terus. [REN]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories