Sisi Hulu Literasi Perlu Perhatian

Literasi rendah muncul akibat budaya baca yang rendah. Perkembangan jaman membawa tantangan literasi yang berbeda pula. Pada masa sebelum kemerdekaan, tantangan literasi adalah mengentaskan buta aksara. Kini, tantangan literasi adalah bagaimana menumbuhkan sumber daya manusia yang kreatif, inovasi, dan berdaya saing secara bertumbuh.

Demikian disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando, dalam acara Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM), di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (1/4). Syarif menjelaskan, rendahnya literasi mengakibatkan indeks pembangunan manusia (IPM) rendah, daya saing rendah, indeks inovasi rendah, pendapatan per kapita rendah, indeks kebahagiaan rendah, dan rasio gini juga rendah.

“Ini adalah fakta di sisi hilir literasi, yaitu masyarakat belum mampu menolong dirinya sendiri,” ujar Syarif Bando.

Bagaimana dengan kondisi hulu literasi? Menurut Syarif, masih membutuhkan perhatian bersama untuk diperbaiki. Selama ini, masyarakat Indonesia dihakimi karena memiliki budaya baca rendah. Padahal, kondisi yang terjadi di lapangan adalah sisi hulu literasi yang belum terkelola dengan baik, yang ketersediaan buku belum mencukupi kebutuhan.

Perbaikan sisi hulu membutuhkan kehadiran negara, dalam hal ini eksekutif, legistatif, yudikatif, TNI/Polri. Juga akademisi perguruan tinggi, pengarang dan penulis buku yang sesuai kebutuhan masyarakat, penerbit dan perusahaan rekaman untuk menyiapkan buku, penerjemah, regulasi distribusi bahan bacaan untuk memperkecil ketimpangan antarwilayah, dan terutama, anggaran belanja buku. Sesuai standar UNESCO, idealnya setiap setiap orang bisa mengakses tiga buku baru.

Pada masa kini, perpustakaan berperan untuk membangun masyarakat literasi. Perpusnas melakukan hal tersebut melalui program transformasi berbasis inklusi sosial yang menjadikan perpustakaan sebagai pusat transfer ilmu pengetahuan bagi masyarakat untuk meningkatkan kecakapan demi kesejahteraan.

Bupati Magelang Zaenal Arifin menyatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah strategis untuk memfasilitasi dan mendorong pemberdayaan kegemaran membaca dengan menyediakan bahan bacaan bermutu serta sarana dan prasarana perpustakaan yang mudah diakses publik. Dia telah membangun gedung perpustakaan di lahan seluas 8.700 meter persegi dengan anggaran mencapai Rp 21 miliar.

Zaenal menerangkan, jumlah perpustakaan yang berpotensi di Kabupaten Magelang sebanyak 858 unit dan telah memberikan pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat. Pihaknya juga telah menerbitkan surat edaran pengalokasian dana desa untuk pengembangan perpustakaan desa, pengadaan pojok baca, dan donasi buku.

Di Magelang juga diterbitkan kebijakan bagi para pegawai pemerintah daerah yang naik pangkat, naik jabatan, dan pensiun, atau kunjungan kerja, ini mesti mendonasikan buku untuk memaksimalkan perpustakaan yang ada di wilayah Kabupaten Magelang. “Hal ini dilakukan secara bertahap demi mengubah paradigma masyarakat menuju peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Magelang melalui perpustakaan,” terangnya.

Di tempat yang sama, Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) Suliswiyadi menyatakan, perguruan tinggi berkontribusi dalam mendukung peningkatan literasi melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Dia menjelaskan, Unimma telah melakukan beberapa kajian terkait dengan literasi, termasuk rencana melakukan penelitian mengenai indeks literasi masyarakat di Kabupaten Magelang, terlebih pemerintah daerah berencana membangun smart city. “Karena data itu penting dan berperan dalam pengambilan keputusan,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Perpusnas dengan Pemerintah Kabupaten Magelang, Sekolah Tinggi Theologi Magelang, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang, Universitas Tidar Magelang, Politeknik Muhammadiyah Magelang, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al Husain Syubbanul Wathon. Selain itu, dilakukan pengukuhan Bunda Literasi Kabupaten Magelang periode 2021-2024 Christanti Handayani. [USU]

]]> Literasi rendah muncul akibat budaya baca yang rendah. Perkembangan jaman membawa tantangan literasi yang berbeda pula. Pada masa sebelum kemerdekaan, tantangan literasi adalah mengentaskan buta aksara. Kini, tantangan literasi adalah bagaimana menumbuhkan sumber daya manusia yang kreatif, inovasi, dan berdaya saing secara bertumbuh.

Demikian disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando, dalam acara Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat (PILM), di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (1/4). Syarif menjelaskan, rendahnya literasi mengakibatkan indeks pembangunan manusia (IPM) rendah, daya saing rendah, indeks inovasi rendah, pendapatan per kapita rendah, indeks kebahagiaan rendah, dan rasio gini juga rendah.

“Ini adalah fakta di sisi hilir literasi, yaitu masyarakat belum mampu menolong dirinya sendiri,” ujar Syarif Bando.

Bagaimana dengan kondisi hulu literasi? Menurut Syarif, masih membutuhkan perhatian bersama untuk diperbaiki. Selama ini, masyarakat Indonesia dihakimi karena memiliki budaya baca rendah. Padahal, kondisi yang terjadi di lapangan adalah sisi hulu literasi yang belum terkelola dengan baik, yang ketersediaan buku belum mencukupi kebutuhan.

Perbaikan sisi hulu membutuhkan kehadiran negara, dalam hal ini eksekutif, legistatif, yudikatif, TNI/Polri. Juga akademisi perguruan tinggi, pengarang dan penulis buku yang sesuai kebutuhan masyarakat, penerbit dan perusahaan rekaman untuk menyiapkan buku, penerjemah, regulasi distribusi bahan bacaan untuk memperkecil ketimpangan antarwilayah, dan terutama, anggaran belanja buku. Sesuai standar UNESCO, idealnya setiap setiap orang bisa mengakses tiga buku baru.

Pada masa kini, perpustakaan berperan untuk membangun masyarakat literasi. Perpusnas melakukan hal tersebut melalui program transformasi berbasis inklusi sosial yang menjadikan perpustakaan sebagai pusat transfer ilmu pengetahuan bagi masyarakat untuk meningkatkan kecakapan demi kesejahteraan.

Bupati Magelang Zaenal Arifin menyatakan, pihaknya telah melakukan sejumlah langkah strategis untuk memfasilitasi dan mendorong pemberdayaan kegemaran membaca dengan menyediakan bahan bacaan bermutu serta sarana dan prasarana perpustakaan yang mudah diakses publik. Dia telah membangun gedung perpustakaan di lahan seluas 8.700 meter persegi dengan anggaran mencapai Rp 21 miliar.

Zaenal menerangkan, jumlah perpustakaan yang berpotensi di Kabupaten Magelang sebanyak 858 unit dan telah memberikan pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat. Pihaknya juga telah menerbitkan surat edaran pengalokasian dana desa untuk pengembangan perpustakaan desa, pengadaan pojok baca, dan donasi buku.

Di Magelang juga diterbitkan kebijakan bagi para pegawai pemerintah daerah yang naik pangkat, naik jabatan, dan pensiun, atau kunjungan kerja, ini mesti mendonasikan buku untuk memaksimalkan perpustakaan yang ada di wilayah Kabupaten Magelang. “Hal ini dilakukan secara bertahap demi mengubah paradigma masyarakat menuju peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Magelang melalui perpustakaan,” terangnya.

Di tempat yang sama, Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) Suliswiyadi menyatakan, perguruan tinggi berkontribusi dalam mendukung peningkatan literasi melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Dia menjelaskan, Unimma telah melakukan beberapa kajian terkait dengan literasi, termasuk rencana melakukan penelitian mengenai indeks literasi masyarakat di Kabupaten Magelang, terlebih pemerintah daerah berencana membangun smart city. “Karena data itu penting dan berperan dalam pengambilan keputusan,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Perpusnas dengan Pemerintah Kabupaten Magelang, Sekolah Tinggi Theologi Magelang, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang, Universitas Tidar Magelang, Politeknik Muhammadiyah Magelang, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al Husain Syubbanul Wathon. Selain itu, dilakukan pengukuhan Bunda Literasi Kabupaten Magelang periode 2021-2024 Christanti Handayani. [USU]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories