Sinergi Dengan Kementerian BUMN Teten Percepat Penyerapan Produk UMKM Oleh Perusahaan Pelat Merah .

Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) bersinergi dengan  Kementerian BUMN, demi mempercepat  penyerapan produk UMKM oleh perusahaan pelat merah. Menurut Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, ada dua skema implementasi penyerapan produk UMKM oleh BUMN yang disiapkan kedua kementerian. Yakni melalui pasar digital dan rantai nilai BUMN.

“Sesuai dengan arahan presiden, kemitraan antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan Kementerian BUMN dalam dua hal tadi supaya dikonkretkan,” kata Teten saat melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri BUMN I Pahala N Mansury, Selasa (9/3).

Ia mengatakan, pasokan produk UMKM dalam global value chain baru mencapai 4,1 persen. Diharapkan kemitraan kedua kementerian berjalan baik, sehingga bisa mendorong persentase produk-produk UMKM Indonesia masuk ke global value chain lebih besar lagi.

“Kami belum bisa memperkirakan targetnya berapa, mau dikembangkan dulu. Kami mau mencari peluang-peluangnya dulu, karena yang diharapkan adalah integrasi produk UMKM dalam rantai pasok, itu dimulai dari BUMN,” ujarnya.

Untuk mendorong peningkatan persentase produk-produk UMKM Indonesia masuk ke global value chain, Kementerian Koperasi dan UKM juga menjalin kemitraan dengan pihak swasta. Terutama dalam hal meningkatkan mutu produk UMKM.

Ia mengakui selama ini sudah ada produk UMKM yang dipasok untuk rem kereta api. Atau UMKM yang menyediakan produk untuk jaringan transmisi PLN. Produk-produk tersebut tengah diupayakan untuk dikembangkan.

“Akan dikembangkan juga sektor pangan, yaitu koperasi pangan, bisa memasok untuk bahan baku Kimia Farma, Bio Farma, dan lain-lain,” kata Teten.

Pihaknya juga sedang mendorong UMKM memproduksi komponen-komponen sparepart dalam jangka panjang, yang bisa membangun UMKM berbasis pada pengembangan teknologi yang dibutuhkan industri.

“Selain BUMN, kami juga ingin kembangkan dengan swasta agar sebagian sparepart mobil dan motor itu tidak hanya dikerjakan industri besar saja, tapi disubkontrakkan dengan UMKM. Dengan begitu akan ada transfer teknologi, transfer pengetahuan, dan UMKM dituntut memenuhi standar,” lanjut Teten.

Wamen BUMN I Pahala N Mansuri menambahkan, Kementerian BUMN banyak membutuhkan komponen-komponen maupun sparepart. Di sini nanti yang menjadi offtaker bagi Kimia Farma dan Biofarma.

“Salah satu yang dikembangkan adalah industri herbal. Bahan-bahan herbal tadi diproduksi oleh koperasi. Inilah contoh kerja sama kemitraan. BUMN yang lain juga membutuhkan bahan baku yang diproduksi oleh UMKM. seperti Pertamina dan Pindad,” kata Pahala.

Menurut Pahala, peluang usaha ini akan didorong supaya masuk ke global value chain. Khusus pengadaan produk UMKM difokuskan supaya menyambung dengan mata rantai strategis tadi. “Produksinya akan berulang dan memerlukan jumlah yang banyak,” tutup mantan Direktur Utama BTN itu. [DWI]

]]> .
Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) bersinergi dengan  Kementerian BUMN, demi mempercepat  penyerapan produk UMKM oleh perusahaan pelat merah. Menurut Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, ada dua skema implementasi penyerapan produk UMKM oleh BUMN yang disiapkan kedua kementerian. Yakni melalui pasar digital dan rantai nilai BUMN.

“Sesuai dengan arahan presiden, kemitraan antara Kementerian Koperasi dan UKM dengan Kementerian BUMN dalam dua hal tadi supaya dikonkretkan,” kata Teten saat melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri BUMN I Pahala N Mansury, Selasa (9/3).

Ia mengatakan, pasokan produk UMKM dalam global value chain baru mencapai 4,1 persen. Diharapkan kemitraan kedua kementerian berjalan baik, sehingga bisa mendorong persentase produk-produk UMKM Indonesia masuk ke global value chain lebih besar lagi.

“Kami belum bisa memperkirakan targetnya berapa, mau dikembangkan dulu. Kami mau mencari peluang-peluangnya dulu, karena yang diharapkan adalah integrasi produk UMKM dalam rantai pasok, itu dimulai dari BUMN,” ujarnya.

Untuk mendorong peningkatan persentase produk-produk UMKM Indonesia masuk ke global value chain, Kementerian Koperasi dan UKM juga menjalin kemitraan dengan pihak swasta. Terutama dalam hal meningkatkan mutu produk UMKM.

Ia mengakui selama ini sudah ada produk UMKM yang dipasok untuk rem kereta api. Atau UMKM yang menyediakan produk untuk jaringan transmisi PLN. Produk-produk tersebut tengah diupayakan untuk dikembangkan.

“Akan dikembangkan juga sektor pangan, yaitu koperasi pangan, bisa memasok untuk bahan baku Kimia Farma, Bio Farma, dan lain-lain,” kata Teten.

Pihaknya juga sedang mendorong UMKM memproduksi komponen-komponen sparepart dalam jangka panjang, yang bisa membangun UMKM berbasis pada pengembangan teknologi yang dibutuhkan industri.

“Selain BUMN, kami juga ingin kembangkan dengan swasta agar sebagian sparepart mobil dan motor itu tidak hanya dikerjakan industri besar saja, tapi disubkontrakkan dengan UMKM. Dengan begitu akan ada transfer teknologi, transfer pengetahuan, dan UMKM dituntut memenuhi standar,” lanjut Teten.

Wamen BUMN I Pahala N Mansuri menambahkan, Kementerian BUMN banyak membutuhkan komponen-komponen maupun sparepart. Di sini nanti yang menjadi offtaker bagi Kimia Farma dan Biofarma.

“Salah satu yang dikembangkan adalah industri herbal. Bahan-bahan herbal tadi diproduksi oleh koperasi. Inilah contoh kerja sama kemitraan. BUMN yang lain juga membutuhkan bahan baku yang diproduksi oleh UMKM. seperti Pertamina dan Pindad,” kata Pahala.

Menurut Pahala, peluang usaha ini akan didorong supaya masuk ke global value chain. Khusus pengadaan produk UMKM difokuskan supaya menyambung dengan mata rantai strategis tadi. “Produksinya akan berulang dan memerlukan jumlah yang banyak,” tutup mantan Direktur Utama BTN itu. [DWI]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories