Siapkan Empat Jurus Erick Pede RI Mampu Salip Ekonomi Syariah Malaysia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir ngebet mengalahkan ekonomi syariah Malaysia. Mantan pemilik Klub Inter Milan ini menyiapkan empat langkah untuk mewujudkannya.

Empat jurus/strategi itu yakni melakukan penguatan rantai nilai halal, penguatan ekonomi syariah, penguatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan penguatan pemanfaatan digital. Selain itu, paparnya, pihaknya akan melakukan kolaborasi dengan kelompok berbasis keagamaan untuk menggarap potensi ekono­mi syariah di negeri ini yang sebenarnya sangat besar.

“Untuk mengembangkan po­tensi, dapat melalui kolaborasi pemberdayaan umat bersama komunitas maupun kelompok keagamaan seperti Perhimpunan Pesantren ataupun Dewan Masjid Indonesia membangun keyakinan dan kebutuhan akan ekonomi sya­riah,” jelas Erick yang juga Ketua Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) pada webinar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta, ke­marin.

Erick mengungkapkan, jika dibandingkan dengan Malaysia, pengembangan keuangan sya­riah nasional masih terting­gal. Hal itu terjadi tak lepas dari keterlambatan Indonesia menggarap potensi ekonomi syariah. Indonesia baru memulai sistem ekonomi syariah pada 1991 dengan pendirian Bank Syariah pertama yaitu Bank Muamalat Indonesia.

Sedangkan Malaysia sudah mulai menerapkan sistem ekono­mi syariah sejak tahun 1963.

Meski tertinggal, Erick me­lihat, jasa keuangan syariah di dalam negeri terus mengalami pertumbuhan positif di tengah pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, pemerintah berani menar­getkan Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah dunia pada 2025. Karena pada tahun itu, Erick memproyeksikan jumlah populasi penduduk Muslim dewasa tembus 184 juta dengan lebih dari 50 persen merupakan kalangan menengah ke atas dengan mayoritas pekerja swasta.

 

“Masyarakat Ekonomi Sya­riah mendukung Indonesia menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Hal itu sejalan dengan masterplan ekonomi syariah Indonesia 2019-2024 yang diterbitkan Komite Nasional Ekonomi dan Syariah. Keselarasan ini penting,” katanya.

Erick menjelaskan, pertumbuhan ekonomi syariah sangat besar, baik di sisi perbankan maupun pasar modal. Pertumbuhan aset perbankan syariah pada tahun 2020 meningkat sebesar 10,9 persen. Sementara, bank konven­sional tumbuh 7,7 persen.

Dari sisi industri juga sama. Disebutkannya, potensi pengem­bangan industri syariah Indonesia mencakup 6 sektor yakni keuangan, makanan, fesyen, kosmetik, farmasi, perjalanan dan media.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang juga Ketua ISEI Jakarta Inarno Djajadi meniai, ekonomi dan keuangan syariah dapat mendorong proses pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi.

Menurutnya, dukungan pem­biayaan dari lembaga keuangan syariah dibutuhkan untuk men­jaga pemulihan ekonomi nasion­al. Dukungan pembiayaan itu bias diwujudkan melalui penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk membiayai pem­bangunan prasarana publik dan Green Sukuk untuk mendukung kelestarian lingkungan.

Inarno menambahkan, pem­bentukan Bank Syariah Indo­nesia (BSI) yang secara resmi diluncurkan pada Februari lalu, telah menciptakan kekuatan capital, serta perluasan jang­kauan dan fasilitas.

“BSI bisa menjadi game changer dalam akselerasi im­plementasi ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di Indo­nesia,” jelasnya. [KPJ]

]]> Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir ngebet mengalahkan ekonomi syariah Malaysia. Mantan pemilik Klub Inter Milan ini menyiapkan empat langkah untuk mewujudkannya.

Empat jurus/strategi itu yakni melakukan penguatan rantai nilai halal, penguatan ekonomi syariah, penguatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), dan penguatan pemanfaatan digital. Selain itu, paparnya, pihaknya akan melakukan kolaborasi dengan kelompok berbasis keagamaan untuk menggarap potensi ekono­mi syariah di negeri ini yang sebenarnya sangat besar.

“Untuk mengembangkan po­tensi, dapat melalui kolaborasi pemberdayaan umat bersama komunitas maupun kelompok keagamaan seperti Perhimpunan Pesantren ataupun Dewan Masjid Indonesia membangun keyakinan dan kebutuhan akan ekonomi sya­riah,” jelas Erick yang juga Ketua Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) pada webinar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta, ke­marin.

Erick mengungkapkan, jika dibandingkan dengan Malaysia, pengembangan keuangan sya­riah nasional masih terting­gal. Hal itu terjadi tak lepas dari keterlambatan Indonesia menggarap potensi ekonomi syariah. Indonesia baru memulai sistem ekonomi syariah pada 1991 dengan pendirian Bank Syariah pertama yaitu Bank Muamalat Indonesia.

Sedangkan Malaysia sudah mulai menerapkan sistem ekono­mi syariah sejak tahun 1963.

Meski tertinggal, Erick me­lihat, jasa keuangan syariah di dalam negeri terus mengalami pertumbuhan positif di tengah pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, pemerintah berani menar­getkan Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah dunia pada 2025. Karena pada tahun itu, Erick memproyeksikan jumlah populasi penduduk Muslim dewasa tembus 184 juta dengan lebih dari 50 persen merupakan kalangan menengah ke atas dengan mayoritas pekerja swasta.

 

“Masyarakat Ekonomi Sya­riah mendukung Indonesia menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Hal itu sejalan dengan masterplan ekonomi syariah Indonesia 2019-2024 yang diterbitkan Komite Nasional Ekonomi dan Syariah. Keselarasan ini penting,” katanya.

Erick menjelaskan, pertumbuhan ekonomi syariah sangat besar, baik di sisi perbankan maupun pasar modal. Pertumbuhan aset perbankan syariah pada tahun 2020 meningkat sebesar 10,9 persen. Sementara, bank konven­sional tumbuh 7,7 persen.

Dari sisi industri juga sama. Disebutkannya, potensi pengem­bangan industri syariah Indonesia mencakup 6 sektor yakni keuangan, makanan, fesyen, kosmetik, farmasi, perjalanan dan media.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang juga Ketua ISEI Jakarta Inarno Djajadi meniai, ekonomi dan keuangan syariah dapat mendorong proses pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi.

Menurutnya, dukungan pem­biayaan dari lembaga keuangan syariah dibutuhkan untuk men­jaga pemulihan ekonomi nasion­al. Dukungan pembiayaan itu bias diwujudkan melalui penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk membiayai pem­bangunan prasarana publik dan Green Sukuk untuk mendukung kelestarian lingkungan.

Inarno menambahkan, pem­bentukan Bank Syariah Indo­nesia (BSI) yang secara resmi diluncurkan pada Februari lalu, telah menciptakan kekuatan capital, serta perluasan jang­kauan dan fasilitas.

“BSI bisa menjadi game changer dalam akselerasi im­plementasi ekosistem ekonomi dan keuangan syariah di Indo­nesia,” jelasnya. [KPJ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories