Siapa Kuasai Perang Digital, Dia Menang Di 2024 .

Keberhasilan pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul di perolehan suara nasional KPU ini merupakan kerja keras seluruh komponen dalam Tim Kampanye Nasional (TKN). Tak terkecuali Tim Media Sosial yang sangat gencar mengkampanyekan Paslon Jokowi-Ma’ruf Amin.

Pengamat komunikasi publik, Sony Subrata mengatakan, berkaca dari gelaran Pilpres 2019, siapa yang bisa menguasai pertarungan digital, kemungkinan besar akan menjadi pemenang di 2024 mendatang.

Hal tersebut dikatakan Sony saat  menghadiri acara peluncuran buku Tarung Digital, Propaganda Komputasional di Berbagai Negara karangan Anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo secara virtual di Jakarta, Kamis (8/4).

“Propaganda komputasional adalah kunci keberhasilan atau kegagalan kandidat Pilpres di 2024. Kita bisa belajar dari berbagai negara mengenai pemanfaatan dan penyalahgunaan berbagai platform media sosial untuk kebutuhan kampanye politik,” ujar Sony.

Dalam pandangan Sony, hal ini relevan dengan kasus dimana dua perusahaan raksasa digital Amerika Serikat, yakni Google dan Facebook telah diintervensi oleh negara lain untuk melakukan operasi propaganda komputasional yang berhasil memengaruhi pemilu di AS. Dampaknya memecah belah bangsa.

Menurut dia, investigasi Komite Senat AS membuktikan bahwa Rusia sengaja mencampuri Pemilu AS 2016 guna memenangkan Donald Trump dengan menyebarkan disinformasi tentang rival politiknya melalui Facebook, YouTube, Twitter, dan platform media sosial lain. 

“Investigasi yang sama juga mengungkapkan skandal penyalahgunaan data puluhan juta pengguna Facebook untuk melakukan kampanye politik microtargeting yang dilakukan perusahaan konsultan kampanye bernama Cambridge Analytica,” lanjut Sony.

Atas dasar inilah, Sony juga menilai, kontroversi tentang media sosial juga kerap terjadi di Indonesia. Bahkan sampai begitu gawatnya permasalahan media sosial di Indonesia hingga membuat Presiden Jokowi menyampaikan keprihatinannya secara terbuka beberapa kali.

“Keprihatinan Presiden Jokowi merujuk pada penggunaan media sosial untuk menyebarkan sikap antipati serta kebencian berdimensi politik dan agama yang sering kali terjadi di Indonesia belakangan ini,” tambah Sony.

Oleh karena itu, Sony menyebut perlu adanya perhatian dari pemerintah untuk menyikapi dengan tegas segala bentuk penyalahgunaan platform media sosial yang sering kali terjadi di Indonesia. Sony juga menambahkan, propaganda komputasional dengan mudah memengaruhi pikiran dan pilihan politik banyak orang, dan bagaimana bisa berdampak terhadap kehidupan publik.

“Jika tidak ada perhatian pemerintah dengan segera, politik di era digital akan menjadi penuh dengan pembiaran rekayasa dan penyebaran kebohongan beserta semua dampaknya. Tentu saja hal ini kontraproduktif bagi demokrasi, juga bagi bangsa Indonesia secara khusus,” tutup Sony. [DIT]

]]> .
Keberhasilan pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul di perolehan suara nasional KPU ini merupakan kerja keras seluruh komponen dalam Tim Kampanye Nasional (TKN). Tak terkecuali Tim Media Sosial yang sangat gencar mengkampanyekan Paslon Jokowi-Ma’ruf Amin.

Pengamat komunikasi publik, Sony Subrata mengatakan, berkaca dari gelaran Pilpres 2019, siapa yang bisa menguasai pertarungan digital, kemungkinan besar akan menjadi pemenang di 2024 mendatang.

Hal tersebut dikatakan Sony saat  menghadiri acara peluncuran buku Tarung Digital, Propaganda Komputasional di Berbagai Negara karangan Anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo secara virtual di Jakarta, Kamis (8/4).

“Propaganda komputasional adalah kunci keberhasilan atau kegagalan kandidat Pilpres di 2024. Kita bisa belajar dari berbagai negara mengenai pemanfaatan dan penyalahgunaan berbagai platform media sosial untuk kebutuhan kampanye politik,” ujar Sony.

Dalam pandangan Sony, hal ini relevan dengan kasus dimana dua perusahaan raksasa digital Amerika Serikat, yakni Google dan Facebook telah diintervensi oleh negara lain untuk melakukan operasi propaganda komputasional yang berhasil memengaruhi pemilu di AS. Dampaknya memecah belah bangsa.

Menurut dia, investigasi Komite Senat AS membuktikan bahwa Rusia sengaja mencampuri Pemilu AS 2016 guna memenangkan Donald Trump dengan menyebarkan disinformasi tentang rival politiknya melalui Facebook, YouTube, Twitter, dan platform media sosial lain. 

“Investigasi yang sama juga mengungkapkan skandal penyalahgunaan data puluhan juta pengguna Facebook untuk melakukan kampanye politik microtargeting yang dilakukan perusahaan konsultan kampanye bernama Cambridge Analytica,” lanjut Sony.

Atas dasar inilah, Sony juga menilai, kontroversi tentang media sosial juga kerap terjadi di Indonesia. Bahkan sampai begitu gawatnya permasalahan media sosial di Indonesia hingga membuat Presiden Jokowi menyampaikan keprihatinannya secara terbuka beberapa kali.

“Keprihatinan Presiden Jokowi merujuk pada penggunaan media sosial untuk menyebarkan sikap antipati serta kebencian berdimensi politik dan agama yang sering kali terjadi di Indonesia belakangan ini,” tambah Sony.

Oleh karena itu, Sony menyebut perlu adanya perhatian dari pemerintah untuk menyikapi dengan tegas segala bentuk penyalahgunaan platform media sosial yang sering kali terjadi di Indonesia. Sony juga menambahkan, propaganda komputasional dengan mudah memengaruhi pikiran dan pilihan politik banyak orang, dan bagaimana bisa berdampak terhadap kehidupan publik.

“Jika tidak ada perhatian pemerintah dengan segera, politik di era digital akan menjadi penuh dengan pembiaran rekayasa dan penyebaran kebohongan beserta semua dampaknya. Tentu saja hal ini kontraproduktif bagi demokrasi, juga bagi bangsa Indonesia secara khusus,” tutup Sony. [DIT]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories