Shalat Tarawih Dibolehkan Pengurus Masjid Wajib Pastikan Jemaah Taat Prokes .

Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla mendukung langkah pemerin­tah yang mengizinkan pelak­sanaan shalat tarawih selama bulan Ramadan dan shalat Idul Fitri 1442 Hijriyah. Meski be­gitu, pelaksanaan kedua ibadah itu harus menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat.

Untuk itu, JK menyatakan telah membuat surat edaran untuk para pengurus masjid di Nusantara. Dia meminta penjaga masjid atau marbot harus bisa memastikan dan mengawasi pelaksanaan ibadah shalat tarawih dan shalat Idul Fitri berjalan sesuai prokes.

Selain prokes ketat, eks Wakil Presiden (Wapres) itu juga mengingatkan, kebersihan masjid harus dijaga.

“Kami sudah membuat surat edaran ke pengurus masjid di Indonesia terkait pelaksanaan pro­tokol kesehatan secara ketat,” ujar JK, saat bertemu dengan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.

Dalam pertemuan itu, JK juga menyampaikan kesiapan masjid menjadi pusat vaksinasi.

Sementara Muhadjir mengaku, dirinya berkonsultasi dengan JK untuk mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin muncul dari diizinkannya shalat tarawih dan shalat Idul Fitri.

Dia bilang, pemerintah akan terus melakukan sosialisa­si terkait pelaksanaan shalat tarawih dan shalat Idul Fitri.

Eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu juga mengingatkan jemaah untuk menghindari kerumunan. Terlebih, saat akan datang menuju tempat ibadah maupun ketika selesai shalat berjemaah.

Shalat juga dibuat seseder­hana mungkin, sehingga wak­tunya tidak terlalu panjang. “Mengingat dalam kondisi masih darurat ini,” ujarnya.

Terpisah, Epidemiolog dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono menyarankan Pemerintah Daerah (Pemda), khususnya DKI Jakarta, menga­wasi penerapan prokes di masjid-masjid yang menggelar shalat tarawih berjemaah. “Harus dipasti­kan protokol kesehatan dilaksana­kan,” tegas Tri.

Salah satunya, setiap masjid maupun musola yang menyeleng­garakan kegiatan ibadah harus membatasi kapasitasnya maksimal 50 persen. “Kalau sudah penuh 50 persen. Lebih baik warga shalat di rumah,” tuturnya.

Selain itu, protokol keseha­tan 3M, yakni menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun juga wajib diterapkan selama pelaksanaan ibadah.

Penerapan prokes itu penting. Sebab, meski sudah terjadi penurunan, tapi penularan virus ini masih terbilang tinggi di Ibu Kota.

Menurutnya, positivity rate atau rasio positif orang yang tertular Covid-19 masih berkisar 9-10 persen. Sementara standar minimal relaksasi bisa dilaku­kan jika rasio positif di bawah 5 persen. [DIR]

]]> .
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla mendukung langkah pemerin­tah yang mengizinkan pelak­sanaan shalat tarawih selama bulan Ramadan dan shalat Idul Fitri 1442 Hijriyah. Meski be­gitu, pelaksanaan kedua ibadah itu harus menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat.

Untuk itu, JK menyatakan telah membuat surat edaran untuk para pengurus masjid di Nusantara. Dia meminta penjaga masjid atau marbot harus bisa memastikan dan mengawasi pelaksanaan ibadah shalat tarawih dan shalat Idul Fitri berjalan sesuai prokes.

Selain prokes ketat, eks Wakil Presiden (Wapres) itu juga mengingatkan, kebersihan masjid harus dijaga.

“Kami sudah membuat surat edaran ke pengurus masjid di Indonesia terkait pelaksanaan pro­tokol kesehatan secara ketat,” ujar JK, saat bertemu dengan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.

Dalam pertemuan itu, JK juga menyampaikan kesiapan masjid menjadi pusat vaksinasi.

Sementara Muhadjir mengaku, dirinya berkonsultasi dengan JK untuk mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin muncul dari diizinkannya shalat tarawih dan shalat Idul Fitri.

Dia bilang, pemerintah akan terus melakukan sosialisa­si terkait pelaksanaan shalat tarawih dan shalat Idul Fitri.

Eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu juga mengingatkan jemaah untuk menghindari kerumunan. Terlebih, saat akan datang menuju tempat ibadah maupun ketika selesai shalat berjemaah.

Shalat juga dibuat seseder­hana mungkin, sehingga wak­tunya tidak terlalu panjang. “Mengingat dalam kondisi masih darurat ini,” ujarnya.

Terpisah, Epidemiolog dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono menyarankan Pemerintah Daerah (Pemda), khususnya DKI Jakarta, menga­wasi penerapan prokes di masjid-masjid yang menggelar shalat tarawih berjemaah. “Harus dipasti­kan protokol kesehatan dilaksana­kan,” tegas Tri.

Salah satunya, setiap masjid maupun musola yang menyeleng­garakan kegiatan ibadah harus membatasi kapasitasnya maksimal 50 persen. “Kalau sudah penuh 50 persen. Lebih baik warga shalat di rumah,” tuturnya.

Selain itu, protokol keseha­tan 3M, yakni menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun juga wajib diterapkan selama pelaksanaan ibadah.

Penerapan prokes itu penting. Sebab, meski sudah terjadi penurunan, tapi penularan virus ini masih terbilang tinggi di Ibu Kota.

Menurutnya, positivity rate atau rasio positif orang yang tertular Covid-19 masih berkisar 9-10 persen. Sementara standar minimal relaksasi bisa dilaku­kan jika rasio positif di bawah 5 persen. [DIR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories