Setneg Diserang Urusan Atta-Aurel Untung, Ada Ngabalin Yang Berani Ngelawan

Sudah tiga hari, Sekretariat Negara alias Setneg ‘diserang’ urusan pernikahan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah. Gara-garanya, Setneg memasang foto Presiden Jokowi yang hadiri pernikahan pasangan selebritis itu. Di saat yang lain tiarap, untung ada Tenaga Ahli Utama Kepala Staf Kepresiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin yang berani melawan.

Kritikan terhadap Presiden Jokowi dan Akun Setneg terjadi sejak Sabtu (3/4), pasca menghadiri pernihaan Atta-Aurel. Kritikan makin pedas, karena akun medsosnya memasang foto Jokowi yang menjadi saksi nikah Atta-Aurel.

Kritikan datang dari pendukung dan oposisi. Menurut pengkritiknya, Jokowi seharusnya tidak perlu datang. Pasalnya beberapa pernikahan banyak dibubarkan.

Wasekjen PKS, Ahmad Fathul Bari mengatakan, sebagai kepala negara, presiden harus menjadi teladan yang baik dalam menerapkan protokol kesehatan. Apalagi, saat ini pandemi belum berakhir.

“Sehingga bukan hanya keteladanan yang dapat beliau contohkan, tetapi juga keadilan pun dapat dirasakan bagi masyarakat,” kata Fathul.

Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika, Ahmad Sahal ikut mengkritik Jokowi. Menurut dia, kehadiran Jokowi ke pernikahan Atta-Aurel nggak bisa dibela. “Meski taat prokes dan sudah divaksin, tetep nggak peka. Akun Setneg yang upload juga ngawur,” bebernya di akun Twitternya, @Sahal_AS.

Sementara, selebtwit dr Tirta mengkritik, akun Setneg tidak perlu memamerkan acara pernikahan Atta dan Aurel lantaran bukan agenda resmi negara. “Yang jadi masalah adalah kenapa Kemensetneg mengupdate acara nikahan Atta? Seolah-olah itu agenda resmi negara,” ujarnya di akun Twitternya @tirta_hudhi.

Harusnya, kata dia, Setneg tidak perlu meng-update itu. “Ini menjadi pelajaran buat juru Setneg agar ke depannya lebih berhati-hati yang di update itu apa,” lanjutnya.

 

Mendengar Jokowi dan Setneg diserang, Ngabalin langsung menangkisnya. Ngabalin mengaku heran terhadap mereka yang mengeritik. Padahal, kehadiran Jokowi di acara pernikahan itu merupakan hal yang biasa dilakukan.

“Kalau soal Presiden datang di acara Aurel dan Atta itu kan bukan saja peristiwa yang pertama, orang sopirnya saja, ajudannya saja menikah beliau datang. Tergantung pada konteks Pak Jokowi hadir secara personal,” kata Ngabalin, kemarin.

Yang paling penting, lanjut Ngabalin, adalah bagaimana protokol kesehatan dijalankan. Acara Atta-Aurel, menurut Ngabalin, sudah menjalankan protokol kesehatan yang baik.

“Inti sebenarnya kan pada protokol kesehatan, karena yang dikhawatirkan itu menimbulkan klaster-klaster baru. Bandingkan saja dengan acara yang ketat protokol kesehatan dibanding kemarin,” tutur Ngabalin.

Terlebih, kata Ngabalin, sebelum acara pernikahan Atta-Aurel seluruh tamu sudah diwajibkan untuk tes polymerase chain reaction alias PCR. Hal ini, menurut Ngabalin, menjadi bukti protokol kesehatan yang sangat baik.

“Itu sudah tes PCR. Orang itu dilakukan dengan sangat ketat, tidak ada kekhawatiran-kekhawatiran,” tegas Ngabalin.

Keberanian ngabalin pasang badan untuk presiden diacungi jempol. Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin mengatakan, Ngabalin memang cocok untuk mengisi jabatan KSP menggantikan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko.

Terlebih, Ngabalin mengaku siap jika diperintahkan Presiden untuk menjabat KSP. “Dia salah satu orang Istana yang banyak pasang badan untuk Jokowi,” kata Ujang. [QAR]

]]> Sudah tiga hari, Sekretariat Negara alias Setneg ‘diserang’ urusan pernikahan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah. Gara-garanya, Setneg memasang foto Presiden Jokowi yang hadiri pernikahan pasangan selebritis itu. Di saat yang lain tiarap, untung ada Tenaga Ahli Utama Kepala Staf Kepresiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin yang berani melawan.

Kritikan terhadap Presiden Jokowi dan Akun Setneg terjadi sejak Sabtu (3/4), pasca menghadiri pernihaan Atta-Aurel. Kritikan makin pedas, karena akun medsosnya memasang foto Jokowi yang menjadi saksi nikah Atta-Aurel.

Kritikan datang dari pendukung dan oposisi. Menurut pengkritiknya, Jokowi seharusnya tidak perlu datang. Pasalnya beberapa pernikahan banyak dibubarkan.

Wasekjen PKS, Ahmad Fathul Bari mengatakan, sebagai kepala negara, presiden harus menjadi teladan yang baik dalam menerapkan protokol kesehatan. Apalagi, saat ini pandemi belum berakhir.

“Sehingga bukan hanya keteladanan yang dapat beliau contohkan, tetapi juga keadilan pun dapat dirasakan bagi masyarakat,” kata Fathul.

Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika, Ahmad Sahal ikut mengkritik Jokowi. Menurut dia, kehadiran Jokowi ke pernikahan Atta-Aurel nggak bisa dibela. “Meski taat prokes dan sudah divaksin, tetep nggak peka. Akun Setneg yang upload juga ngawur,” bebernya di akun Twitternya, @Sahal_AS.

Sementara, selebtwit dr Tirta mengkritik, akun Setneg tidak perlu memamerkan acara pernikahan Atta dan Aurel lantaran bukan agenda resmi negara. “Yang jadi masalah adalah kenapa Kemensetneg mengupdate acara nikahan Atta? Seolah-olah itu agenda resmi negara,” ujarnya di akun Twitternya @tirta_hudhi.

Harusnya, kata dia, Setneg tidak perlu meng-update itu. “Ini menjadi pelajaran buat juru Setneg agar ke depannya lebih berhati-hati yang di update itu apa,” lanjutnya.

 

Mendengar Jokowi dan Setneg diserang, Ngabalin langsung menangkisnya. Ngabalin mengaku heran terhadap mereka yang mengeritik. Padahal, kehadiran Jokowi di acara pernikahan itu merupakan hal yang biasa dilakukan.

“Kalau soal Presiden datang di acara Aurel dan Atta itu kan bukan saja peristiwa yang pertama, orang sopirnya saja, ajudannya saja menikah beliau datang. Tergantung pada konteks Pak Jokowi hadir secara personal,” kata Ngabalin, kemarin.

Yang paling penting, lanjut Ngabalin, adalah bagaimana protokol kesehatan dijalankan. Acara Atta-Aurel, menurut Ngabalin, sudah menjalankan protokol kesehatan yang baik.

“Inti sebenarnya kan pada protokol kesehatan, karena yang dikhawatirkan itu menimbulkan klaster-klaster baru. Bandingkan saja dengan acara yang ketat protokol kesehatan dibanding kemarin,” tutur Ngabalin.

Terlebih, kata Ngabalin, sebelum acara pernikahan Atta-Aurel seluruh tamu sudah diwajibkan untuk tes polymerase chain reaction alias PCR. Hal ini, menurut Ngabalin, menjadi bukti protokol kesehatan yang sangat baik.

“Itu sudah tes PCR. Orang itu dilakukan dengan sangat ketat, tidak ada kekhawatiran-kekhawatiran,” tegas Ngabalin.

Keberanian ngabalin pasang badan untuk presiden diacungi jempol. Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin mengatakan, Ngabalin memang cocok untuk mengisi jabatan KSP menggantikan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko.

Terlebih, Ngabalin mengaku siap jika diperintahkan Presiden untuk menjabat KSP. “Dia salah satu orang Istana yang banyak pasang badan untuk Jokowi,” kata Ujang. [QAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories