Setelah 8 Tahun, Akhirnya Kunjungi Xinjiang Xi Pamer Kebaikan Ke Muslim Uighur

Presiden China, Xi Jinping akhirnya mendatangi Xinjiang. Itu menjadi kunjungan pertamanya sejak delapan tahun lalu. Kedatangan Xi untuk menunjukkan kesolidan dan keterbukaan China kepada kaum minoritas: Muslim Uighur.

Terakhir, Xi mendatangi kawasan yang terletak di barat laut China itu pada 2014. Saat itu, kunjungan Xi dalam rangka memerangi terorisme yang disebut Beijing menyebar di kawasan otonomi tersebut.

Belum lama ini, Xi berada di Xinjiang selama dua hari. Pada kunjungan 12-13 Juli lalu tersebut, Xi melakukan inspeksi ke sebelah barat Ibu Kota Provinsi, Urumqi. Pada kesempatan itu, ia menyerukan untuk memperkuat organisasi partai.

“Presiden Xi Jinping juga menawarkan layanan untuk memberi manfaat bagi penduduk dari semua kelompok etnis,” pernyataan media Xinhua seperti dikutip Bloomberg.

Saat berada di Xinjiang, Xi juga mengunjungi museum dan bertemu para pekerja seni seperti penari, pelukis dan pengrajin tembikar. Dalam perbincangan dengan para pegiat seni di sana, mereka mendesak dilakukannya pelestarian warisan budaya kelompok minoritas dengan lebih baik.

Xi Jinping juga memuji Xinjiang sebagai pusat kerja sama Belt and Road Initiative (BRI) atau Inisiatif Sabuk dan Jalan, program infrastruktur untuk memperluas pengaruh Beijing di luar negeri.

 

BRI merupakan salah satu kebijakan luar negeri dan ekonomi China yang paling ambisius. Kebijakan ini bertujuan memperkuat pengaruh ekonomi Beijing melalui program yang luas dan menyeluruh dalam pembangunan infrastruktur di seluruh negara yang dilewati jalur tersebut.

Kebijakan ini dikeluarkan, mengingat perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS). BRI memiliki dua rincian, yaitu jalur sutra ekonomi darat dan jalur sutra maritim berbasis laut. BRI menghubungkan Asia, Afrika, Oseania dan Eropa dengan berbagai infrastruktur yang dibangun.

Perjalanan Xi Jinping ke Xinjiang dilakukan kurang dari dua pekan, setelah ia melakukan perjalanan ke Hong Kong untuk merayakan ulang tahun ke-25 kembalinya wilayah itu ke China.

Xinjiang menjadi salah satu area bergejolak di China. Di wilayah tersebut kerap dilaporkannya terjadinya sejumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap kaum minoritas, khususnya Muslim Uighur.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah China menempatkan sekitar 1 juta warga Uighur dan etnis minoritas lokal lainnya ke dalam kamp penahanan massal karena pelanggaran sepele. Seperti memiliki janggut atau mengunduh aplikasi tertentu ke ponsel.

AS mengklaim, kamp tersebut adalah kamp kerja paksa yang menjadi bagian dari kampanye genosida terhadap Muslim Uighur. AS bulan lalu memberlakukan Undang-Undang Pencegahan Kerja Paksa Uighur, yang memblokir impor dari Xinjiang. Kecuali perusahaan di sana dapat membuktikan, produk tersebut tidak dibuat pekerja paksa. ■

]]> Presiden China, Xi Jinping akhirnya mendatangi Xinjiang. Itu menjadi kunjungan pertamanya sejak delapan tahun lalu. Kedatangan Xi untuk menunjukkan kesolidan dan keterbukaan China kepada kaum minoritas: Muslim Uighur.

Terakhir, Xi mendatangi kawasan yang terletak di barat laut China itu pada 2014. Saat itu, kunjungan Xi dalam rangka memerangi terorisme yang disebut Beijing menyebar di kawasan otonomi tersebut.

Belum lama ini, Xi berada di Xinjiang selama dua hari. Pada kunjungan 12-13 Juli lalu tersebut, Xi melakukan inspeksi ke sebelah barat Ibu Kota Provinsi, Urumqi. Pada kesempatan itu, ia menyerukan untuk memperkuat organisasi partai.

“Presiden Xi Jinping juga menawarkan layanan untuk memberi manfaat bagi penduduk dari semua kelompok etnis,” pernyataan media Xinhua seperti dikutip Bloomberg.

Saat berada di Xinjiang, Xi juga mengunjungi museum dan bertemu para pekerja seni seperti penari, pelukis dan pengrajin tembikar. Dalam perbincangan dengan para pegiat seni di sana, mereka mendesak dilakukannya pelestarian warisan budaya kelompok minoritas dengan lebih baik.

Xi Jinping juga memuji Xinjiang sebagai pusat kerja sama Belt and Road Initiative (BRI) atau Inisiatif Sabuk dan Jalan, program infrastruktur untuk memperluas pengaruh Beijing di luar negeri.

 

BRI merupakan salah satu kebijakan luar negeri dan ekonomi China yang paling ambisius. Kebijakan ini bertujuan memperkuat pengaruh ekonomi Beijing melalui program yang luas dan menyeluruh dalam pembangunan infrastruktur di seluruh negara yang dilewati jalur tersebut.

Kebijakan ini dikeluarkan, mengingat perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS). BRI memiliki dua rincian, yaitu jalur sutra ekonomi darat dan jalur sutra maritim berbasis laut. BRI menghubungkan Asia, Afrika, Oseania dan Eropa dengan berbagai infrastruktur yang dibangun.

Perjalanan Xi Jinping ke Xinjiang dilakukan kurang dari dua pekan, setelah ia melakukan perjalanan ke Hong Kong untuk merayakan ulang tahun ke-25 kembalinya wilayah itu ke China.

Xinjiang menjadi salah satu area bergejolak di China. Di wilayah tersebut kerap dilaporkannya terjadinya sejumlah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap kaum minoritas, khususnya Muslim Uighur.

Sebelumnya diberitakan, Pemerintah China menempatkan sekitar 1 juta warga Uighur dan etnis minoritas lokal lainnya ke dalam kamp penahanan massal karena pelanggaran sepele. Seperti memiliki janggut atau mengunduh aplikasi tertentu ke ponsel.

AS mengklaim, kamp tersebut adalah kamp kerja paksa yang menjadi bagian dari kampanye genosida terhadap Muslim Uighur. AS bulan lalu memberlakukan Undang-Undang Pencegahan Kerja Paksa Uighur, yang memblokir impor dari Xinjiang. Kecuali perusahaan di sana dapat membuktikan, produk tersebut tidak dibuat pekerja paksa. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories