Sering Ketemu 4 Mata, Shalat Disiapin Sajadah, Datang Dimasakin, Pulang Dikasih Pepaya Jokowi-Mega Lagi Mesra-mesranya

Hubungan Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sedang mesra-mesranya. “Ibu banteng” dan “anak banteng” ini rutin ketemuan membahas masalah-masalah penting. 

Pertemuan teranyar Jokowi-Mega dilakukan awal bulan ini. Pertemuan berlangsung sangat hangat. Bahkan, saat Jokowi pulang, Mega memberi oleh-oleh berupa buah-buahan dan buku.

“Ibu Mega memberi buah pepaya yang beliau tanam sendiri dan menyerahkan buku ‘Merawat Pertiwi’,” cerita Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Dalam banyak kesempatan, Hasto melihat Mega kerap menunjukkan diri sebagai sosok ibu bagi Jokowi. Setiap akan bertemu Jokowi, Mega selalu bela-belain menyiapkan menu makanan khusus bagi kadernya yang kini menjadi orang nomor 1 di negeri ini.

“Bahkan, ketika Pak Jokowi mau shalat pun, Ibu Mega yang menyiapkan sajadahnya,” cerita Hasto.

Meskipun lebih senior, tidak melulu Mega yang dikunjungi Jokowi. Bos banteng ini juga tidak keberatan “menghadap” Jokowi di Istana. Seringnya di Istana Bogor. Selain itu, keduanya juga kerap bertemu di Istana Batu Tulis dan rumah lama Mega di Kebagusan, Jakarta Selatan.

“Semua lokasi pertemuan bersifat khusus dan memungkinkan untuk berdialog secara jernih,” sambungnya.

Pertemuan tertutup dan dilakukan di tempat-tempat khusus ini, jelas Hasto, sengaja dipilih untuk mendapatkan suasana kebatinan yang kontemplatif. Agar bisa menyerap seluruh kehendak rakyat.

Untuk pertemuan teranyar, kata Hasto, Jokowi dan Mega bicara mengenai keberadaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepada Jokowi, Mega meminta agar lembaga itu tetap dipertahankan, di tengah perubahan nomenklatur Kementerian Ristek dan Teknologi yang akan dilebur dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Selain itu, Mega juga meminta agar BRIN diperkuat. Langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Bukan lagi di bawah kementerian tertentu. Dengan begitu, BRIN bisa langsung mengeksekusi setiap kebijakan penelitian dan terobosan inovasi.

 

Hasto menerangkan, BRIN merupakan salah satu “deal” antara Mega dengan Jokowi pada 2018, ketika mantan Gubernur DKI Jakarta itu, hendak diusung kembali oleh PDIP sebagai Presiden di periode kedua. Bagi Mega, lembaga riset ini sangat penting di tengah mentalitas Indonesia yang doyan impor. Lembaga ini adalah syarat penting agar Indonesia bisa berdikari, sebagaimana pernah digelorakan Bung Karno. 

Mega yakin, dengan BRIN, Indonesia bisa melahirkan banyak inovasi dan menghasilkan produk sendiri. “Karena itulah, mengapa Ibu Mega selalu mengusulkan pentingnya anggaran riset dan inovasi tersebut,” terang Hasto.

Sejauh ini, Hasto menangkap setiap pikiran dan langkah politik Mega konsisten dengan yang diperjuangkan Bung Karno. Ia teringat ketika bosnya berseloroh jika ada pikiran-pikiran yang merugikan Indonesia, “Bisa dimarahi Bapak, saya ini.” 

Apakah membahas juga reshuffle? Hasto mengaku tidak tahu persis. Sebab, pertemuan tersebut dilakukan tertutup. Hanya empat mata. “Terkait apakah pertemuan tersebut membahas reshuffle atau tidak, saya tidak tahu,” imbuhnya.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menduga, ada dua hal yang dibicarakan dalam pertemuan Mega dan Jokowi itu. Bisa mengenai reshuffle kabinet, atau membahas siapa suksesor Mega di PDIP. 

“Tapi (soal suksesor Mega) saya nggak begitu yakin. Karena sesungguhnya itu wilayah Bu Mega sebagai ketua umum. Tetapi, ya barangkali ada saran-saran,” ulasnya, saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Untuk reshuffle kabinet, Qodari melihat tanda-tandanya sangat nyata. Apalagi Hasto sudah bicara mengenai peleburan BRIN secara gamblang.

Jika reshuffle jadi, kata Qodari, ada indikasi Jokowi akan memasukkan PAN dalam kabinet. Maka, sebelum itu terlaksana, Jokowi harus berbicara dulu dengan para ketua umum partai politik. Khususnya partai besar koalisi, yakni PDIP. “Jadi, saya membaca, berita mengenai pertemuan ini dalam kerangka reshuffle besar, dan masuknya PAN ke dalam kabinet,” analisanya.

Dengan pertemuan ini, lanjut Qodari, saat PAN benar-benar masuk kabinet, tidak ada spekulasi liar. Publik sudah diberi pesan bahwa hal ini sudah dibicarakan dengan PDIP dan disetujui Mega. [SAR/MEN]

]]> Hubungan Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri sedang mesra-mesranya. “Ibu banteng” dan “anak banteng” ini rutin ketemuan membahas masalah-masalah penting. 

Pertemuan teranyar Jokowi-Mega dilakukan awal bulan ini. Pertemuan berlangsung sangat hangat. Bahkan, saat Jokowi pulang, Mega memberi oleh-oleh berupa buah-buahan dan buku.

“Ibu Mega memberi buah pepaya yang beliau tanam sendiri dan menyerahkan buku ‘Merawat Pertiwi’,” cerita Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.

Dalam banyak kesempatan, Hasto melihat Mega kerap menunjukkan diri sebagai sosok ibu bagi Jokowi. Setiap akan bertemu Jokowi, Mega selalu bela-belain menyiapkan menu makanan khusus bagi kadernya yang kini menjadi orang nomor 1 di negeri ini.

“Bahkan, ketika Pak Jokowi mau shalat pun, Ibu Mega yang menyiapkan sajadahnya,” cerita Hasto.

Meskipun lebih senior, tidak melulu Mega yang dikunjungi Jokowi. Bos banteng ini juga tidak keberatan “menghadap” Jokowi di Istana. Seringnya di Istana Bogor. Selain itu, keduanya juga kerap bertemu di Istana Batu Tulis dan rumah lama Mega di Kebagusan, Jakarta Selatan.

“Semua lokasi pertemuan bersifat khusus dan memungkinkan untuk berdialog secara jernih,” sambungnya.

Pertemuan tertutup dan dilakukan di tempat-tempat khusus ini, jelas Hasto, sengaja dipilih untuk mendapatkan suasana kebatinan yang kontemplatif. Agar bisa menyerap seluruh kehendak rakyat.

Untuk pertemuan teranyar, kata Hasto, Jokowi dan Mega bicara mengenai keberadaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepada Jokowi, Mega meminta agar lembaga itu tetap dipertahankan, di tengah perubahan nomenklatur Kementerian Ristek dan Teknologi yang akan dilebur dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Selain itu, Mega juga meminta agar BRIN diperkuat. Langsung bertanggung jawab kepada Presiden. Bukan lagi di bawah kementerian tertentu. Dengan begitu, BRIN bisa langsung mengeksekusi setiap kebijakan penelitian dan terobosan inovasi.

 

Hasto menerangkan, BRIN merupakan salah satu “deal” antara Mega dengan Jokowi pada 2018, ketika mantan Gubernur DKI Jakarta itu, hendak diusung kembali oleh PDIP sebagai Presiden di periode kedua. Bagi Mega, lembaga riset ini sangat penting di tengah mentalitas Indonesia yang doyan impor. Lembaga ini adalah syarat penting agar Indonesia bisa berdikari, sebagaimana pernah digelorakan Bung Karno. 

Mega yakin, dengan BRIN, Indonesia bisa melahirkan banyak inovasi dan menghasilkan produk sendiri. “Karena itulah, mengapa Ibu Mega selalu mengusulkan pentingnya anggaran riset dan inovasi tersebut,” terang Hasto.

Sejauh ini, Hasto menangkap setiap pikiran dan langkah politik Mega konsisten dengan yang diperjuangkan Bung Karno. Ia teringat ketika bosnya berseloroh jika ada pikiran-pikiran yang merugikan Indonesia, “Bisa dimarahi Bapak, saya ini.” 

Apakah membahas juga reshuffle? Hasto mengaku tidak tahu persis. Sebab, pertemuan tersebut dilakukan tertutup. Hanya empat mata. “Terkait apakah pertemuan tersebut membahas reshuffle atau tidak, saya tidak tahu,” imbuhnya.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari menduga, ada dua hal yang dibicarakan dalam pertemuan Mega dan Jokowi itu. Bisa mengenai reshuffle kabinet, atau membahas siapa suksesor Mega di PDIP. 

“Tapi (soal suksesor Mega) saya nggak begitu yakin. Karena sesungguhnya itu wilayah Bu Mega sebagai ketua umum. Tetapi, ya barangkali ada saran-saran,” ulasnya, saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Untuk reshuffle kabinet, Qodari melihat tanda-tandanya sangat nyata. Apalagi Hasto sudah bicara mengenai peleburan BRIN secara gamblang.

Jika reshuffle jadi, kata Qodari, ada indikasi Jokowi akan memasukkan PAN dalam kabinet. Maka, sebelum itu terlaksana, Jokowi harus berbicara dulu dengan para ketua umum partai politik. Khususnya partai besar koalisi, yakni PDIP. “Jadi, saya membaca, berita mengenai pertemuan ini dalam kerangka reshuffle besar, dan masuknya PAN ke dalam kabinet,” analisanya.

Dengan pertemuan ini, lanjut Qodari, saat PAN benar-benar masuk kabinet, tidak ada spekulasi liar. Publik sudah diberi pesan bahwa hal ini sudah dibicarakan dengan PDIP dan disetujui Mega. [SAR/MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories