Serang Gedung Capitol, Bunuh 1 Polisi Teroris Amerika Lebih Gila .

Aksi teroris tak hanya terjadi di sini. Di Negara Adikuasa seperti Amerika Serikat juga, teroris berulah. Bahkan lebih gila. Kalau di sini, si teroris nyerang rumah ibadah dan Mabes Polri, di AS, si teroris nekat nyerang ke Gedung Capitol di Washington DC, salah satu tempat maha penting di AS, dan menewaskan 1 polisi.

Penyerangan itu terjadi pada Jumat (2/4), sekitar pukul 13.00 WIB. Sebuah mobil sedan sengaja menabrak pos berikade utara Gedung Capitol.

Dua polisi yang sedang bertugas, jadi korban dalam aksi tersebut. Salah satunya, veteran polisi bernama William Evans yang sudah 18 tahun bekerja di Gedung Capitol, tewas. Sedangkan korban lainnya mengalami luka-luka.

Bukan hanya menabrak, pelaku yang keluar dari mobilnya langsung mengeluarkan pisau dan menyerang dua polisi. Namun, aksinya itu gagal.

Petugas keamanan melumpuhkan pelaku dengan memberikan hadiah timah panas kepada pelaku.

Dari hasil penyelidikan, pihak kepolisian mengidentifikasi bahwa pelaku tunggal itu bernama Noah Green. Lelaki berusia 25 tahun berasal dari Indiana ini, diduga pengikut Nation of Islam. Namun belum dijelaskan secara detail mengenai motif penyerangan tersebut.

Akibat insiden tersebut, Gedung Capitol sempat diisolasi untuk sementara waktu. Seluruh pegawai tidak diperkenankan keluar masuk. Namun, beberapa jam kemudian, larangan itu dicabut setelah petugas memastikan tidak ada ancaman lain. Belum diketahui pasti apakah insiden ini berkaitan dengan kerusuhan 6 Januari lalu, saat warga AS pro-Donald Trump menolak hasil Pilpres.

Gedung Capitol biasa digunakan sebagai tempat pertemuan Kongres AS. Bangunan ini telah dibangun sejak tahun 1800.

Gedung Capitol kini adalah versi renovasi dan lebih luas daripada ketika dibangun dulu. Pada 1850, kubah besar dan sayap gedung ditambahkan di gedung tersebut. Di gedung ini, Joe Biden kemarin dilantik sebagai presiden terpilih AS.

Pelaksana Kepala Polisi Capitol, Yogananda Pittman menyebut pelaku tidak dalam radar kepolisian setempat. Namun, serangan dipastikan tidak terkait terorisme.

 

Dia juga membantah pelaku memiliki keterkaitan langsung dengan demo yang berujung rusuh di Gedung Capitol saat anggota Senat menggelar sidang pengesahan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden AS pada Januari lalu.

Penyelidik sampai saat ini masih mendalami latar belakang Green, termasuk apakah dia memiliki riwayat masalah kesehatan mental. Namun, dalam akun Facebook Green, petugas mendapati ia diduga terlibat dalam gerakan Nation of Islam, yang merupakan gerakan nasionalis-religius kulit hitam dan berjuang untuk kaum Afrika-Amerika. Ia juga berulang kali ikut mempromosikan gerakan antisemitisme.

Green terlihat beberapa kali mengunggah pidato dan artikel yang ditulis mantan pemimpin Nation of Islam, Louis Farrakhan dan Elijah Muhammad. Kedua orang ini pernah memimpin Nation of Islam dari tahun 1934 hingga 1975, dan membahas tentang kemunduran Amerika.

Garda Nasional AS langsung meluncurkan Pasukan Respons Segera (IRF) ke Gedung Capitol usai kejadian itu untuk membantu polisi Capitol.

“Mengingat keamanan operasional, kami tidak dapat berbicara detail mengenai IRF,” terang Garda Nasional AS melalui akun Twitternya.

Sementara itu, Presiden AS, Joe Biden berkata, hatinya hancur mendengar serangan ini. Dia menyampaikan belasungkawa kepada para korban dari kepolisian. Dia pun telah memerintahkan bendera di Gedung Putih diturunkan setengah tiang. “Semua orang berduka atas kehilangannya (Evans),” ucapnya.

Senada dengan Biden, Ketua DPR Amerika, Nancy Pelosi mengutuk aksi teroris ini. Kata dia, Evans telah berjasa menyelamatkan Amerika dari aksi terorisme.

“Saya sedih atas kematian petugas polisi dan berutang budi kepada Kepolisian Capitol,” imbuhnya.

Sedangkan Ketua Fraksi Partai Republik di DPR, Mitch McConnel berdoa agar petugas kepolisian yang meninggal diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. [UMM]

]]> .
Aksi teroris tak hanya terjadi di sini. Di Negara Adikuasa seperti Amerika Serikat juga, teroris berulah. Bahkan lebih gila. Kalau di sini, si teroris nyerang rumah ibadah dan Mabes Polri, di AS, si teroris nekat nyerang ke Gedung Capitol di Washington DC, salah satu tempat maha penting di AS, dan menewaskan 1 polisi.

Penyerangan itu terjadi pada Jumat (2/4), sekitar pukul 13.00 WIB. Sebuah mobil sedan sengaja menabrak pos berikade utara Gedung Capitol.

Dua polisi yang sedang bertugas, jadi korban dalam aksi tersebut. Salah satunya, veteran polisi bernama William Evans yang sudah 18 tahun bekerja di Gedung Capitol, tewas. Sedangkan korban lainnya mengalami luka-luka.

Bukan hanya menabrak, pelaku yang keluar dari mobilnya langsung mengeluarkan pisau dan menyerang dua polisi. Namun, aksinya itu gagal.

Petugas keamanan melumpuhkan pelaku dengan memberikan hadiah timah panas kepada pelaku.

Dari hasil penyelidikan, pihak kepolisian mengidentifikasi bahwa pelaku tunggal itu bernama Noah Green. Lelaki berusia 25 tahun berasal dari Indiana ini, diduga pengikut Nation of Islam. Namun belum dijelaskan secara detail mengenai motif penyerangan tersebut.

Akibat insiden tersebut, Gedung Capitol sempat diisolasi untuk sementara waktu. Seluruh pegawai tidak diperkenankan keluar masuk. Namun, beberapa jam kemudian, larangan itu dicabut setelah petugas memastikan tidak ada ancaman lain. Belum diketahui pasti apakah insiden ini berkaitan dengan kerusuhan 6 Januari lalu, saat warga AS pro-Donald Trump menolak hasil Pilpres.

Gedung Capitol biasa digunakan sebagai tempat pertemuan Kongres AS. Bangunan ini telah dibangun sejak tahun 1800.

Gedung Capitol kini adalah versi renovasi dan lebih luas daripada ketika dibangun dulu. Pada 1850, kubah besar dan sayap gedung ditambahkan di gedung tersebut. Di gedung ini, Joe Biden kemarin dilantik sebagai presiden terpilih AS.

Pelaksana Kepala Polisi Capitol, Yogananda Pittman menyebut pelaku tidak dalam radar kepolisian setempat. Namun, serangan dipastikan tidak terkait terorisme.

 

Dia juga membantah pelaku memiliki keterkaitan langsung dengan demo yang berujung rusuh di Gedung Capitol saat anggota Senat menggelar sidang pengesahan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden AS pada Januari lalu.

Penyelidik sampai saat ini masih mendalami latar belakang Green, termasuk apakah dia memiliki riwayat masalah kesehatan mental. Namun, dalam akun Facebook Green, petugas mendapati ia diduga terlibat dalam gerakan Nation of Islam, yang merupakan gerakan nasionalis-religius kulit hitam dan berjuang untuk kaum Afrika-Amerika. Ia juga berulang kali ikut mempromosikan gerakan antisemitisme.

Green terlihat beberapa kali mengunggah pidato dan artikel yang ditulis mantan pemimpin Nation of Islam, Louis Farrakhan dan Elijah Muhammad. Kedua orang ini pernah memimpin Nation of Islam dari tahun 1934 hingga 1975, dan membahas tentang kemunduran Amerika.

Garda Nasional AS langsung meluncurkan Pasukan Respons Segera (IRF) ke Gedung Capitol usai kejadian itu untuk membantu polisi Capitol.

“Mengingat keamanan operasional, kami tidak dapat berbicara detail mengenai IRF,” terang Garda Nasional AS melalui akun Twitternya.

Sementara itu, Presiden AS, Joe Biden berkata, hatinya hancur mendengar serangan ini. Dia menyampaikan belasungkawa kepada para korban dari kepolisian. Dia pun telah memerintahkan bendera di Gedung Putih diturunkan setengah tiang. “Semua orang berduka atas kehilangannya (Evans),” ucapnya.

Senada dengan Biden, Ketua DPR Amerika, Nancy Pelosi mengutuk aksi teroris ini. Kata dia, Evans telah berjasa menyelamatkan Amerika dari aksi terorisme.

“Saya sedih atas kematian petugas polisi dan berutang budi kepada Kepolisian Capitol,” imbuhnya.

Sedangkan Ketua Fraksi Partai Republik di DPR, Mitch McConnel berdoa agar petugas kepolisian yang meninggal diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. [UMM]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories