Sensasi Jamu Ala Kopi, Acaraki Diganjar 2 Penghargaan Muri .

Tren ngopi-ngopi dengan menu milenial tak membuat Kafe Acaraki ikut-ikutan. Mereka justru membuat tebososan dengan menu herbal. Yakni jamu yang diproses layaknya penyajian kopi. Alhasil, Acaraki diganjar 2 penghargaan dari Muri.

Manajer Operasi Acaraki Agus Darwanto menjelaskan, meramu jamu merupakan tradisi ribuan tahun silam. Bahkan pada periode Kerajaan Majapahit, terdapat prasasti  Madhawapura: tukang meracik jamu disebut Acaraki.

Berasal dari bahasa Sanskerta: Acaraki, Acraki, Craki, Craken, Craki. Artinya penjual bahan jamu. Bahan-bahan jamu diambil dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Nusantara, baik itu dari akar, daun, buah, bunga, maupun kulit kayu.

Resep tersebut dimanfaatkan para leluhur untuk perawatan kesehatan hingga kecantikan. Serta ada bukti artefak pada relief dinding candi Borobudur sekitar abad 800-900 yang menggambarkan adanya kegiatan meramu, meracik, membuat jamu atau ramuan obat.

“Tagline kami adalah ‘The Art of Jamu’. Kami lebih fokus untuk mengeksplorasi sisi seni, kultur, dan budaya dari jamu. Karena kami tidak mempunyai pengalaman kedokteran maupun apoteker, makanya kami tidak menjual khasiat dari jamu,” tutur Agus.

Sekadar informasi, kedai Jamu Acaraki didirikan dan mulai beroperasi sejak Juli 2018 di Kota Tua, Jakarta Utara. Outlet kedua Acaraki Table hadir di Kemang Raya Nomor 122, Jakarta Selatan.

Acaraki berupaya untuk menyajikan jamu dari sudut pandang yang berbeda. Dari sisi rasa, cara membuat dengan berbagai teknik penyeduhan: v60, rokpresso, french press, aeropress, dan lainnya secara menarik.

Adapun yang dijual adalah integritas dari bahan-bahan jamu untuk menyediakan menu Acaraki. Kata dia, konsumen dapat secara langsung menyaksikan pembuatan jamu yang dipesan. Apalagi saat ini masih pandemi. Imunitas perlu dijaga, dan salah satunya dengan mengkonsumsi jamu.

“Besar harapan kami agar dapat mengajak semua pihak untuk menjadikan jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Di Acaraki Table, kami menyediakan makanan ringan dan berat dengan memanfaatkan berbagai rempah khas Indonesia untuk mendampingi menu jamu kami,” tutur Agus.

Selain cara penyajian yang berbeda, menu di Acaraki terdiri dalam dua varian. Pertama, tradisional, seperti beras kencur dan kunyit asam. Kedua, kekinian, seperti saranti, golden sparkling, jaman batu, berkesan, rigalize, dutch jamu, bereskrim, vanilla twilight, kuteja, dan the challenger.

Dengan antusiasme yang baru ditemukan dalam kopi, Acaraki ingin mengeksplorasi kemungkinan bagi jamu untuk meniru keberhasilan adopsi budaya kopi di masyarakat.

“Seiring dengan inovasi yang Acaraki buat, kami mendapat 2 rekor Muri. Di antaranya jamu pertama dengan berbagai macam teknik penyeduhan. Dan kedai jamu yang menyajikan teknik penyeduhan terbanyak,” ungkap Agus.

Dia mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk membuktikan bahwa minuman tradisional bisa menjadi modern dan diterima banyak orang. Dengan begitu, jamu bisa menjadi minuman ikonis Indonesia. [MEN]

]]> .
Tren ngopi-ngopi dengan menu milenial tak membuat Kafe Acaraki ikut-ikutan. Mereka justru membuat tebososan dengan menu herbal. Yakni jamu yang diproses layaknya penyajian kopi. Alhasil, Acaraki diganjar 2 penghargaan dari Muri.

Manajer Operasi Acaraki Agus Darwanto menjelaskan, meramu jamu merupakan tradisi ribuan tahun silam. Bahkan pada periode Kerajaan Majapahit, terdapat prasasti  Madhawapura: tukang meracik jamu disebut Acaraki.

Berasal dari bahasa Sanskerta: Acaraki, Acraki, Craki, Craken, Craki. Artinya penjual bahan jamu. Bahan-bahan jamu diambil dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Nusantara, baik itu dari akar, daun, buah, bunga, maupun kulit kayu.

Resep tersebut dimanfaatkan para leluhur untuk perawatan kesehatan hingga kecantikan. Serta ada bukti artefak pada relief dinding candi Borobudur sekitar abad 800-900 yang menggambarkan adanya kegiatan meramu, meracik, membuat jamu atau ramuan obat.

“Tagline kami adalah ‘The Art of Jamu’. Kami lebih fokus untuk mengeksplorasi sisi seni, kultur, dan budaya dari jamu. Karena kami tidak mempunyai pengalaman kedokteran maupun apoteker, makanya kami tidak menjual khasiat dari jamu,” tutur Agus.

Sekadar informasi, kedai Jamu Acaraki didirikan dan mulai beroperasi sejak Juli 2018 di Kota Tua, Jakarta Utara. Outlet kedua Acaraki Table hadir di Kemang Raya Nomor 122, Jakarta Selatan.

Acaraki berupaya untuk menyajikan jamu dari sudut pandang yang berbeda. Dari sisi rasa, cara membuat dengan berbagai teknik penyeduhan: v60, rokpresso, french press, aeropress, dan lainnya secara menarik.

Adapun yang dijual adalah integritas dari bahan-bahan jamu untuk menyediakan menu Acaraki. Kata dia, konsumen dapat secara langsung menyaksikan pembuatan jamu yang dipesan. Apalagi saat ini masih pandemi. Imunitas perlu dijaga, dan salah satunya dengan mengkonsumsi jamu.

“Besar harapan kami agar dapat mengajak semua pihak untuk menjadikan jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Di Acaraki Table, kami menyediakan makanan ringan dan berat dengan memanfaatkan berbagai rempah khas Indonesia untuk mendampingi menu jamu kami,” tutur Agus.

Selain cara penyajian yang berbeda, menu di Acaraki terdiri dalam dua varian. Pertama, tradisional, seperti beras kencur dan kunyit asam. Kedua, kekinian, seperti saranti, golden sparkling, jaman batu, berkesan, rigalize, dutch jamu, bereskrim, vanilla twilight, kuteja, dan the challenger.

Dengan antusiasme yang baru ditemukan dalam kopi, Acaraki ingin mengeksplorasi kemungkinan bagi jamu untuk meniru keberhasilan adopsi budaya kopi di masyarakat.

“Seiring dengan inovasi yang Acaraki buat, kami mendapat 2 rekor Muri. Di antaranya jamu pertama dengan berbagai macam teknik penyeduhan. Dan kedai jamu yang menyajikan teknik penyeduhan terbanyak,” ungkap Agus.

Dia mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk membuktikan bahwa minuman tradisional bisa menjadi modern dan diterima banyak orang. Dengan begitu, jamu bisa menjadi minuman ikonis Indonesia. [MEN]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories