Selama Ramadan Dan Idul Fitri, Pengendalian Harga Pangan Dinilai Baik

Sepanjang Ramadan dan Idul Fitri 1443 Hijriyah, sejumlah harga kebutuhan bahan pokok (bapok) relatif terkendali. Pemerintah dinilai berhasil mengendalikan harga pangan.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Syafuan Rozi Soebhan mengatakan, tidak mudah bagi pemerintah di bebeberapa negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Uni Emirat, menahan lonjakan harga kebutuhan pokok.

“Karena terjadi pergeseran pola konsumsi yang cenderung meningkat ketika umat Muslim sedang berpuasa. Semakin banyak yang berpuasa, maka semakin banyak permintaan kebutuhan pokok dan kuliner, semakin tinggi harga komoditas tersebut,” ujar Syafuan, Minggu (8/5). 

Menurutnya, hukum ekonomi permintaan dan penawaran barang kebutuhan pokok dan kuliner relatif memiliki kemiripan di berbagai negara. Maka, peran negara mendorong peningkatan ketersediaan komoditas tersebut dari waktu ke waktu, karena cenderung memiliki pola berulang yang teratur.

“Keberhasilannya sangat ditentukan oleh pola perilaku dalam berpuasa, faktor cuaca, faktor distribusi barang, dan kapasitas kementerian terkait dalam mengantisipasi pola konsumsi yang berkaitan dengan momen besar keagamaan di suatu negara,” jelasnya.

Syafuan juga menyebut, kondisi Indonesia relatif moderat tahun ini.

Geliat Mudik

Syafuan juga memberi catatan khusus ketersediaan dan harga minyak goreng, daging, bahan bakar perlu mendapat perhatian, agar tidak berulang stagnan atau kian memburuk di tahun mendatang. Dinamika krisis dunia harus diantisipasi. 

Kabar baiknya, walaupun dunia sedang dilanda pendemi menuju endemi, negara dan masyarakat Indonesia relatif mampu bertahan dan melakukan adaptasi terhadap fluktuasi perekonomian domestik di tengah pengaruh perang Rusia-Ukraina. 

“Semoga badai cepat berlalu, di balik awan gelap pada waktunya akan bergeser dan alam semesta kembali seimbang,” tuturnya.

Sementara, Anggota Komisi VI DPR Mohamad Idris Laena mengatakan, kondisi ekonomi masyarakat cukup baik saat memperingati Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah/2022. 

Terbukti, kata dia, warga yang mudik Lebaran mengalami lonjakan fantastis. Sehingga, berimplikasi pada tujuan wisata domestik.

“Alhamdulillah, harga-harga kebutuhan Lebaran tidak mengalami lonjakan yang berarti dan relatif aman,” kata Idris di kesempatan terpisah.

Soal stabilitas harga, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi sebelumnya juga menegaskan, pihaknya berupaya keras menstabilkan harga bapok dan pasokannya.

Harga bahan pokok, berdasarkan pantauan Kemendag, per 5 Mei 2022, mengalami penurunan tipis dibanding sehari sebelumnya.

Misalnya, harga daging sapi paha belakang turun 0,77 persen menjadi Rp 142.600/kg; dan daging ayam ras turun 0,98 persen menjadi Rp 40.400/kg. 

Sedang cabe merah besar turun 4,24 persen menjadi Rp40.400/kg; cabe merah keriting turun 5,47 persen menjadi Rp 46.700/kg. Sementara bawang merah juga turun 1,83 persen menjadi Rp 37.500/kg; serta bawang putih honan turun 0,98 persen menjadi Rp 30.400/kg.

Sementara, Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan mengingatkan agar pemerintah segera mempersiapkan dan mengantisipasi ketersediaan pasokan bapok di pasar pasca Idul Fitri. Sekaligus fokus pada upaya distribusi secara merata di pasar. 

Reynaldi menanti upaya pemerintah, utamanya Kemendag terhadap proses pendistribusian pasokan bapok dan Kementan menyiapkan keberadaan produksi di lokal.

Dirinya juga mewanti-wanti, kesalahan pada upaya ini bakal membuat lonjakan bahkan disparitas harga yang cukup tinggi pada komoditas pangan ke depan. [REN]

]]> Sepanjang Ramadan dan Idul Fitri 1443 Hijriyah, sejumlah harga kebutuhan bahan pokok (bapok) relatif terkendali. Pemerintah dinilai berhasil mengendalikan harga pangan.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Syafuan Rozi Soebhan mengatakan, tidak mudah bagi pemerintah di bebeberapa negara dengan mayoritas penduduk Muslim seperti Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Uni Emirat, menahan lonjakan harga kebutuhan pokok.

“Karena terjadi pergeseran pola konsumsi yang cenderung meningkat ketika umat Muslim sedang berpuasa. Semakin banyak yang berpuasa, maka semakin banyak permintaan kebutuhan pokok dan kuliner, semakin tinggi harga komoditas tersebut,” ujar Syafuan, Minggu (8/5). 

Menurutnya, hukum ekonomi permintaan dan penawaran barang kebutuhan pokok dan kuliner relatif memiliki kemiripan di berbagai negara. Maka, peran negara mendorong peningkatan ketersediaan komoditas tersebut dari waktu ke waktu, karena cenderung memiliki pola berulang yang teratur.

“Keberhasilannya sangat ditentukan oleh pola perilaku dalam berpuasa, faktor cuaca, faktor distribusi barang, dan kapasitas kementerian terkait dalam mengantisipasi pola konsumsi yang berkaitan dengan momen besar keagamaan di suatu negara,” jelasnya.

Syafuan juga menyebut, kondisi Indonesia relatif moderat tahun ini.

Geliat Mudik

Syafuan juga memberi catatan khusus ketersediaan dan harga minyak goreng, daging, bahan bakar perlu mendapat perhatian, agar tidak berulang stagnan atau kian memburuk di tahun mendatang. Dinamika krisis dunia harus diantisipasi. 

Kabar baiknya, walaupun dunia sedang dilanda pendemi menuju endemi, negara dan masyarakat Indonesia relatif mampu bertahan dan melakukan adaptasi terhadap fluktuasi perekonomian domestik di tengah pengaruh perang Rusia-Ukraina. 

“Semoga badai cepat berlalu, di balik awan gelap pada waktunya akan bergeser dan alam semesta kembali seimbang,” tuturnya.

Sementara, Anggota Komisi VI DPR Mohamad Idris Laena mengatakan, kondisi ekonomi masyarakat cukup baik saat memperingati Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriyah/2022. 

Terbukti, kata dia, warga yang mudik Lebaran mengalami lonjakan fantastis. Sehingga, berimplikasi pada tujuan wisata domestik.

“Alhamdulillah, harga-harga kebutuhan Lebaran tidak mengalami lonjakan yang berarti dan relatif aman,” kata Idris di kesempatan terpisah.

Soal stabilitas harga, Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi sebelumnya juga menegaskan, pihaknya berupaya keras menstabilkan harga bapok dan pasokannya.

Harga bahan pokok, berdasarkan pantauan Kemendag, per 5 Mei 2022, mengalami penurunan tipis dibanding sehari sebelumnya.

Misalnya, harga daging sapi paha belakang turun 0,77 persen menjadi Rp 142.600/kg; dan daging ayam ras turun 0,98 persen menjadi Rp 40.400/kg. 

Sedang cabe merah besar turun 4,24 persen menjadi Rp40.400/kg; cabe merah keriting turun 5,47 persen menjadi Rp 46.700/kg. Sementara bawang merah juga turun 1,83 persen menjadi Rp 37.500/kg; serta bawang putih honan turun 0,98 persen menjadi Rp 30.400/kg.

Sementara, Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan mengingatkan agar pemerintah segera mempersiapkan dan mengantisipasi ketersediaan pasokan bapok di pasar pasca Idul Fitri. Sekaligus fokus pada upaya distribusi secara merata di pasar. 

Reynaldi menanti upaya pemerintah, utamanya Kemendag terhadap proses pendistribusian pasokan bapok dan Kementan menyiapkan keberadaan produksi di lokal.

Dirinya juga mewanti-wanti, kesalahan pada upaya ini bakal membuat lonjakan bahkan disparitas harga yang cukup tinggi pada komoditas pangan ke depan. [REN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories