Sektor Pertanian Jadi Andalan Pangan Komisi IV Harap Anggaran Kementan Ditambah Lagi

Senayan mengingatkan pentingnya penambahan anggaran sektor pertanian. Pasalnya, realokasi dan refocusing anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) berujung penghematan yang berdampak ke petani.

Anggota Komisi IV DPR Charles Meikyansah mengatakan, masih banyak tantangan serius yang dihadapi Pemerintah di sektor pertanian. Tantangan tersebut di antaranya, terus menurunnya jumlah angkatan petani lantaran petani saat ini didominasi angkatan tua dengan tingkat pendidikan rendah.

Sementara, banyak generasi muda lebih memilih terjun ke sektor lain karena menganggap dunia pertanian tidak menjanjikan.

“Image petani semakin terdegradasi sehingga menyulitkan terciptanya regenerasi petani secara masif,” katanya.

Selain itu, sambung dia, jumlah petani gurem atau petani dengan pengguna lahan yang menguasai kurang dari 0,5 juga hektare semakin meningkat. Jika pada Tahun 2014 mencapai 14,25 juta rumah tangga, kini jumlahnya naik signifikan menjadi 16,25 juta rumah tangga.

Sayangnya, besarnya tantangan di sektor pertanian ini tidak dibarengi dengan dukungan anggaran. Sebab, pada tahun ini, Pemerintah kembali memangkas anggaran Kementan sebesar Rp 6,3 triliun, dari alokasi Rp 21 triliun lebih. Sehingga pagu anggaran belanja untuk Kementan menjadi Rp 15,21 triliun.

“Ini yang kemudian kami di Komisi IV sangat heran dengan sikap Pemerintah. Untuk pe­menuhan pangan 207 juta penduduk kita, tapi dilakukan refocussing anggaran sangat besar dan sama dengan periode lalu,” katanya.

Politisi Fraksi Nasdem ini juga mendorong penambahan anggaran pupuk bersubsidi bagi petani. Berdasarkan data Sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK), kebutuhan pupuk 23,2 juta ton atau senilai Rp 67,182 triliun. Sedangkan pagu anggaran pupuk bersubsidi hanya Rp 25,76 triliun. Terjadi kekurangan anggaran sebesar Rp 41,9 triliun.

“Tahun lalu saya rasa banyak keluhan susahnya dapat alokasi pupuk subsidi, akar masalahnya anggaran sangat terbatas untuk pemenuhan alokasi pupuk subsidi,” katanya.

Sementara, Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan, pandemi Covid-19 ini memberikan dampak luar biasa bagi masyarakat. Tidak hanya berpengaruh pada kesehatan tapi juga sosial ekonomi dan perilaku masyarakat.

“Kita lihat seluruh lapisan masyarakat kena dampak mulai dari rumah tangga, usaha mikro, kecil dan menengah hingga kor­porasi,” katanya.

Survei yang dilakukan BPS, sambung Suhariyanto, menunjukkan bahwa dampak pandemi ini justru sangat dirasakan oleh masyarakat paling bawah. Dari 10 responden, tujuh menyatakan mengalami penurunan pendapatan.

Sementara bagi masyarakat menengah ke atas, dari 10 responden, tiga mengalami penurunan.

Begitu juga di sektor pertanian. Sepanjang Tahun 2020 untuk pertama kalinya pertumbuhan ekonomi dalam negeri alami kontraksi minus 2,07 persen. Kontraksi ini adalah yang pertama kali dialami sesudah krisis moneter 1998 lalu di mana ekonomi minus 13 persen.

“Indonesia tidak sendiri, banyak negara juga mengalami kontraksi karena pandemi. Seperti Amerika Serikat minus 3,5 persen, Singapura minus 5,8, Uni Eropa minus 6,4 persen. Hanya China dan Vietnam yang survive dengan tumbuh 3,5 persen dan 2,9 persen,” tuturnya. [KAL]

]]> Senayan mengingatkan pentingnya penambahan anggaran sektor pertanian. Pasalnya, realokasi dan refocusing anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) berujung penghematan yang berdampak ke petani.

Anggota Komisi IV DPR Charles Meikyansah mengatakan, masih banyak tantangan serius yang dihadapi Pemerintah di sektor pertanian. Tantangan tersebut di antaranya, terus menurunnya jumlah angkatan petani lantaran petani saat ini didominasi angkatan tua dengan tingkat pendidikan rendah.

Sementara, banyak generasi muda lebih memilih terjun ke sektor lain karena menganggap dunia pertanian tidak menjanjikan.

“Image petani semakin terdegradasi sehingga menyulitkan terciptanya regenerasi petani secara masif,” katanya.

Selain itu, sambung dia, jumlah petani gurem atau petani dengan pengguna lahan yang menguasai kurang dari 0,5 juga hektare semakin meningkat. Jika pada Tahun 2014 mencapai 14,25 juta rumah tangga, kini jumlahnya naik signifikan menjadi 16,25 juta rumah tangga.

Sayangnya, besarnya tantangan di sektor pertanian ini tidak dibarengi dengan dukungan anggaran. Sebab, pada tahun ini, Pemerintah kembali memangkas anggaran Kementan sebesar Rp 6,3 triliun, dari alokasi Rp 21 triliun lebih. Sehingga pagu anggaran belanja untuk Kementan menjadi Rp 15,21 triliun.

“Ini yang kemudian kami di Komisi IV sangat heran dengan sikap Pemerintah. Untuk pe­menuhan pangan 207 juta penduduk kita, tapi dilakukan refocussing anggaran sangat besar dan sama dengan periode lalu,” katanya.

Politisi Fraksi Nasdem ini juga mendorong penambahan anggaran pupuk bersubsidi bagi petani. Berdasarkan data Sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK), kebutuhan pupuk 23,2 juta ton atau senilai Rp 67,182 triliun. Sedangkan pagu anggaran pupuk bersubsidi hanya Rp 25,76 triliun. Terjadi kekurangan anggaran sebesar Rp 41,9 triliun.

“Tahun lalu saya rasa banyak keluhan susahnya dapat alokasi pupuk subsidi, akar masalahnya anggaran sangat terbatas untuk pemenuhan alokasi pupuk subsidi,” katanya.

Sementara, Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto mengatakan, pandemi Covid-19 ini memberikan dampak luar biasa bagi masyarakat. Tidak hanya berpengaruh pada kesehatan tapi juga sosial ekonomi dan perilaku masyarakat.

“Kita lihat seluruh lapisan masyarakat kena dampak mulai dari rumah tangga, usaha mikro, kecil dan menengah hingga kor­porasi,” katanya.

Survei yang dilakukan BPS, sambung Suhariyanto, menunjukkan bahwa dampak pandemi ini justru sangat dirasakan oleh masyarakat paling bawah. Dari 10 responden, tujuh menyatakan mengalami penurunan pendapatan.

Sementara bagi masyarakat menengah ke atas, dari 10 responden, tiga mengalami penurunan.

Begitu juga di sektor pertanian. Sepanjang Tahun 2020 untuk pertama kalinya pertumbuhan ekonomi dalam negeri alami kontraksi minus 2,07 persen. Kontraksi ini adalah yang pertama kali dialami sesudah krisis moneter 1998 lalu di mana ekonomi minus 13 persen.

“Indonesia tidak sendiri, banyak negara juga mengalami kontraksi karena pandemi. Seperti Amerika Serikat minus 3,5 persen, Singapura minus 5,8, Uni Eropa minus 6,4 persen. Hanya China dan Vietnam yang survive dengan tumbuh 3,5 persen dan 2,9 persen,” tuturnya. [KAL]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories