Sekjen Kemendikbud Luncurkan Klub Literasi Sekolah

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Prof Ainun Na’im bersama Direktur SEAMEO QITEP In Language (SEAQIL) Luh Anik Mayani meluncurkan program Klub Literasi Sekolah (KLS), Kamis (18/2). KLS merupakan terobosan yang digagas SEAQIL dalam mendukung kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, khususnya dalam pemajuan literasi di Indonesia melalui sinergi dari berbagai pihak, yakni unit-unit Kemendikbud, Perguruan Tinggi, Dinas Pendidikan Provinsi, Perpustakaan Nasional, sekolah, pegiat literasi, media massa, dan institusi lain yang relevan dengan KLS. 

KLS melibatkan 307 mahasiswa dari 18 perguruan tinggi yang akan mendampingi siswa-siswi sekolah menengah/sederajat yang berada di bawah naungan dinas pendidikan di 12 provinsi di Indonesia. „KLS sinergis dengan strategi dan program Kemendikbud, yaitu Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Pelaksanaan konsep, strategi, dan program tersebut memerlukan sinergi semua pihak, baik Pemerintah, masyarakat, maupun mahasiswa,“ kata Ainun, dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (19/2). 

Ainun menyampaikan penghargaan dan terima kasih ke SEAQIL yang telah bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Al Azhar Indonesia, dan universitas lainnya untuk menyelenggarakan KLS. Ainun kemudian secara resmi meluncurkan program KLS yang ditandai dengan pemutaran video.

KLS merupakan wadah bagi siswa untuk berekspresi dan mengaktualisasi penggunaan bahasa asing dalam konteks kehidupan nyata. KLS juga dapat menjadi alternatif bagi sekolah maupun siswa dalam menunjang kegiatan ekstrakurikuler alternatif siswa selama pandemi Covid-19. 

Secara detail, KLS diharapkan dapat mengintegrasikan tercapainya beberapa tujuan. Pertama, meningkatkan budaya literasi baca-tulis/tutur siswa. Kedua, meningkatkan kemampuan 4C siswa yang dituntut pada abad ke-21, yaitu berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan komunikatif. Ketiga, mengasah kemampuan siswa berbahasa asing. Keempat, mendukung kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka. Kelima, memperluas jejaring kemitraan.

KLS akan dilaksanakan dalam satu siklus yang berdurasi tiga bulan. Siswa anggota KLS akan didampingi guru dan mahasiswa dalam melakukan berbagai aktivitas literasi, seperti membaca satu buku atau menghasilkan suatu karya dengan tema tertentu (karya sastra, pertunjukan seni, karya jurnalistik, poster, dan karya relevan lainnya). Melalui program ini, sekolah akan berperan aktif dalam membentuk KLS; komunitas literasi dan media massa akan berperan aktif dalam melatih mahasiswa menjadi instruktur/pendamping KLS; perguruan tinggi dan mahasiswa akan berperan aktif menjadi pendamping/instruktur KLS; siswa tentu akan berperan aktif dalam meningkatkan minat dan literasi baca-tulis/tutur mereka; sedangkan SEAQIL akan berperan aktif menjadi koordinator dan fasilitator kegiatan KLS.

Dalam implementasinya, KLS akan melibatkan mahasiswa sebagai pendamping. Setelah melalui proses seleksi dan mekanisme pelaksanaan pelatihan bagi pelatih, SEAQIL meluluskan 307 mahasiswa dari 18 perguruan tinggi sebagai mahasiswa pendamping KLS, penggerak literasi di sekolah.

“Sekolah yang telah terdaftar dan siap melaksanakan program KLS berjumlah 69 sekolah menengah/sederajat yang berada di bawah naungan dinas pendidikan di 12 provinsi di Indonesia. Yaitu Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur,” ucap Direktur SEAQIL Luh Anik Mayani.

KLS mendapatkan sambutan sangat baik dari Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Prof Solehuddin. Dia menyampaikan, KLS sangat penting dan besar dampaknya bagi kemajuan bangsa, khususnya terkait dengan pengembangan SDM. 

Menurut Solehuddin, KLS perlu didukung semua pihak. KLS sebagai upaya Merdeka Belajar ini dapat bersinergi dengan kebijakan Kampus Merdeka, yaitu dengan melibatkan civitas akademika, khususnya mahasiswa sebagai pendamping/ penggerak KLS.

Melalui KLS, SEAQIL berharap, tema abstrak literasi, kecakapan abad ke-21, dan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka terealisasi dalam kegiatan konkret (berbasis karya) melalui pelibatan berbagai pemangku kepentingan, yaitu sekolah, guru, siswa, mahasiswa, komunitas literasi, media massa, dan lain-lain. SEAQIL mengajak semua pihak untuk senantiasa bergandeng tangan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia melalui pemajuan literasi menuju Indonesia Emas 2045. [USU]

]]> Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Prof Ainun Na’im bersama Direktur SEAMEO QITEP In Language (SEAQIL) Luh Anik Mayani meluncurkan program Klub Literasi Sekolah (KLS), Kamis (18/2). KLS merupakan terobosan yang digagas SEAQIL dalam mendukung kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, khususnya dalam pemajuan literasi di Indonesia melalui sinergi dari berbagai pihak, yakni unit-unit Kemendikbud, Perguruan Tinggi, Dinas Pendidikan Provinsi, Perpustakaan Nasional, sekolah, pegiat literasi, media massa, dan institusi lain yang relevan dengan KLS. 

KLS melibatkan 307 mahasiswa dari 18 perguruan tinggi yang akan mendampingi siswa-siswi sekolah menengah/sederajat yang berada di bawah naungan dinas pendidikan di 12 provinsi di Indonesia. „KLS sinergis dengan strategi dan program Kemendikbud, yaitu Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Pelaksanaan konsep, strategi, dan program tersebut memerlukan sinergi semua pihak, baik Pemerintah, masyarakat, maupun mahasiswa,“ kata Ainun, dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (19/2). 

Ainun menyampaikan penghargaan dan terima kasih ke SEAQIL yang telah bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Al Azhar Indonesia, dan universitas lainnya untuk menyelenggarakan KLS. Ainun kemudian secara resmi meluncurkan program KLS yang ditandai dengan pemutaran video.

KLS merupakan wadah bagi siswa untuk berekspresi dan mengaktualisasi penggunaan bahasa asing dalam konteks kehidupan nyata. KLS juga dapat menjadi alternatif bagi sekolah maupun siswa dalam menunjang kegiatan ekstrakurikuler alternatif siswa selama pandemi Covid-19. 

Secara detail, KLS diharapkan dapat mengintegrasikan tercapainya beberapa tujuan. Pertama, meningkatkan budaya literasi baca-tulis/tutur siswa. Kedua, meningkatkan kemampuan 4C siswa yang dituntut pada abad ke-21, yaitu berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan komunikatif. Ketiga, mengasah kemampuan siswa berbahasa asing. Keempat, mendukung kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka. Kelima, memperluas jejaring kemitraan.

KLS akan dilaksanakan dalam satu siklus yang berdurasi tiga bulan. Siswa anggota KLS akan didampingi guru dan mahasiswa dalam melakukan berbagai aktivitas literasi, seperti membaca satu buku atau menghasilkan suatu karya dengan tema tertentu (karya sastra, pertunjukan seni, karya jurnalistik, poster, dan karya relevan lainnya). Melalui program ini, sekolah akan berperan aktif dalam membentuk KLS; komunitas literasi dan media massa akan berperan aktif dalam melatih mahasiswa menjadi instruktur/pendamping KLS; perguruan tinggi dan mahasiswa akan berperan aktif menjadi pendamping/instruktur KLS; siswa tentu akan berperan aktif dalam meningkatkan minat dan literasi baca-tulis/tutur mereka; sedangkan SEAQIL akan berperan aktif menjadi koordinator dan fasilitator kegiatan KLS.

Dalam implementasinya, KLS akan melibatkan mahasiswa sebagai pendamping. Setelah melalui proses seleksi dan mekanisme pelaksanaan pelatihan bagi pelatih, SEAQIL meluluskan 307 mahasiswa dari 18 perguruan tinggi sebagai mahasiswa pendamping KLS, penggerak literasi di sekolah.

“Sekolah yang telah terdaftar dan siap melaksanakan program KLS berjumlah 69 sekolah menengah/sederajat yang berada di bawah naungan dinas pendidikan di 12 provinsi di Indonesia. Yaitu Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Riau, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur,” ucap Direktur SEAQIL Luh Anik Mayani.

KLS mendapatkan sambutan sangat baik dari Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Prof Solehuddin. Dia menyampaikan, KLS sangat penting dan besar dampaknya bagi kemajuan bangsa, khususnya terkait dengan pengembangan SDM. 

Menurut Solehuddin, KLS perlu didukung semua pihak. KLS sebagai upaya Merdeka Belajar ini dapat bersinergi dengan kebijakan Kampus Merdeka, yaitu dengan melibatkan civitas akademika, khususnya mahasiswa sebagai pendamping/ penggerak KLS.

Melalui KLS, SEAQIL berharap, tema abstrak literasi, kecakapan abad ke-21, dan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka terealisasi dalam kegiatan konkret (berbasis karya) melalui pelibatan berbagai pemangku kepentingan, yaitu sekolah, guru, siswa, mahasiswa, komunitas literasi, media massa, dan lain-lain. SEAQIL mengajak semua pihak untuk senantiasa bergandeng tangan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia melalui pemajuan literasi menuju Indonesia Emas 2045. [USU]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories