Sehari, Corona Renggut 1.000 Nyawa Mode Krisis: On, Mode Panik: Off

Amukan Corona di sini semakin menyeramkan. Kasus aktif harian terus naik puluhan ribu dan mencatatkan rekor baru. Begitu juga dengan angka kematian. Dalam sehari, 1.000 nyawa melayang direnggut Corona. Meskipun kondisinya makin genting, masyarakat diminta tenang. Silakan nyalakan mode krisis, tapi matikan mode panik.

Berbagai cara sudah dilakukan pemerintah untuk menekan laju penyebaran Corona. Salah satunya, dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa dan Bali sejak tanggal 3 hingga 20 Juli mendatang. Namun, bukannya melemah, Corona terlihat malah makin perkasa.

Berdasarkan data yang disampaikan Satgas Penanganan Covid-19, kemarin, kasus aktif harian kembali mencetak rekor tertingginya. Ada 34. 373 kasus positif di tingkat nasional. Sehingga, total kasus Corona mencapai 2.379.397.

Sama seperti kasus aktif, angka kematian akibat Corona juga terus nanjak. Kemarin, dalam sehari, kasus orang meninggal karena terinveksi virus asal Wuhan, China itu, mencapai 1.040. Sehingga, total orang Indonesia yang tewas karena terinveksi Corona mencapai 62.908 orang.

Makin banyaknya rakyat yang terpapar Corona membuat kepanikan di masyarakat. Apalagi, mereka yang sudah dinyatakan positif dan perlu mendapat penanganan, tidak berhasil mendapatkan rumah sakit rujukan. Keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) sudah di atas kritis. Pasien harus menunggu antrean untuk bisa dirawat di rumah sakit.

Banyaknya pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah, membuat kebutuhan oksigen meningkat drastis. Akibatnya, hampir di semua wilayah, terjadinya kelangkaan oksigen. Warga harus berjuang keras dan antre hingga berjam-jam demi mendapatkan tabung oksigen dengan harga yang mahal.

Tak hanya oksigen, kebutuhan obat-obatan dan vitamin juga naik tajam. Di sejumlah tempat, apotek selalu rame oleh warga yang ingin beli obat-obatan dan vitamin.

Faheem Younus, dokter asal University of Maryland Amerika Serikat (AS) ikut prihatin dengan kepanikan yang terjadi di Indonesia. Lewat akun Twitter miliknya, @FaheemYounus, dokter spesialis penyakit dalam dan menular ini coba menenangkan rakyat Indonesia. “Indonesia sekarang dalam ‘mode krisis’. Harap hindari ‘mode panik’. Tetap tenang dan dengarkan para ahli. Anda dapat meratakan gelombang ini dalam 3-6 minggu,” ucapnya.

 

Dalam cuitan lainnya, Fahem meminta orang yang terpapar Corona untuk tidak panik. Tidak perlu berburu oksigen maupun obat-obatan lain saat menjalani isolasi mandiri. “Jangan Panik (Stay Calm), >85 persen pasien Corvid-19 tidak membutuhkan oksigen ekstra, antivirus, atau rawat inap. Mereka dapat sembuh di rumah dengan pengobatan simtomatik. Jika Anda berusia di bawah 60 tahun dengan oksimetri nadi >92 persen, kemungkinan besar Anda termasuk di antara 85%,” jelasnya.

Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng Faqih sependapat dengan Faheem Younus. “Iya jangan panik. Tapi kita harus mempercepat shelter-shelter sebagai tambahan tempat perawatan,” jelasnya saat dihubungi, kemarin.

Hal ini bertujuan agar masyarakat yang saat ini sedang sakit bisa mendapatkan tempat perawatan, dan bisa dirawat dengan baik.

Seruan juga datang dari Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito. Dia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan panic buying untuk keperluan isolasi mandiri. Cukup membeli barang yang benar-benar diperlukan.

Menurutnya, ada beberapa barang yang diperlukan pasien Corona selama isolasi mandiri. Yakni, oxymeter untuk mengecek saturasi oksigen, termometer guna mengukur suhu tubuh secara berkala, serta ketersediaan obat-obatan dan vitamin. “Pantau suhu dan saturasi oksigen secara berkala dan pastikan asupan makanan dengan gizi seimbang terpenuhi setiap harinya,” ujar Wiku.

Wiku mengingatkan, jika warga melakukan panic buying, hal ini bisa memicu habisnya stok barang di pasaran. Hingga akhirnya, barang tersebut menjadi langka dan menyebabkan lonjakan harga tajam. Kondisi tersebut, lanjutnya, akan menyulitkan orang yang benar-benar membutuhkan barang tersebut.

“Ingat, penggunaan obat-obatan selama masa pemulihan harus dengan resep dokter,” tegas Wiku.

Sementara itu, Koordinator PPKM Darurat, Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan pemerintah telah siap apabila kasus positif menyentuh angka 40 ribu orang per hari. Menurut Menko Kemaritiman dan Investasi ini, segala fasilitas pendukung seperti rumah sakit, oksigen, hingga obat-obatan sudah dipersiapkan.

 

“Angka ini bisa akan terus naik. Bisa saja bisa sampai 40 ribu atau lebih. Skenario menghadapi itu sudah kita lakukan, baik itu mengenai obat, oksigen, maupun rumah sakit,” kata luhut dalam keterangan persnya, Selasa (6/7).

Pemerintah juga sudah menjalin kerja sama dengan Singapura, China dan Amerika Serikat untuk menyiapkan langkah antisipasi. “Kalau ada yang bilang perlu bantuan dari luar, kita juga sudah komunikasi dengan Singapura, dengan Tiongkok, dan sumber-sumber lain,” tambahnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi menjelaskan lonjakan kasus yang beberapa hari ini terjadi. Menurut dia, lonjakan kasus terjadi karena testing mendekati target. “Harapannya 324.000 (testing) per hari,” ungkapnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Kata dia, penemuan kasus yang diikuti dengan isolasi, kemudian ditindaklanjuti dengan pelacakan dan karantina, merupakan upaya untuk memutus rantai penularan. Sebab, beban fasilitas kesehatan sudah melebihi kapasitas sehingga penularannya perlu diputus dari hulu.

“Makin cepat dan dini kita menemukan kasus maka gejala berat dapat kita kurangi,” beber Juru Bicara Vaksin dari Kemenkes itu.

Di dunia maya, seruan untuk tidak panik juga disampaikan beberapa pengguna media sosial. “Aku yang nggak panik sama sekali aja merasakan sakit seperti ini, apalagi mereka yang panik. Jadi kuncinya saat kita positif adalah nggak usah panik, di terima aja vonis dokter kalo kita positif, lalu isolasi mandiri, makan², minum dan istirahat teratur serta minum vitamin,” tutur @03_nakula.

“Panik justru bikin imun kita turun bisa-bisa drop. Usahakan makan karena biar tambah asupan dan minum air putih hangat,” timpal @ernithea74.

Namun, akun @BrooGallan menilai, panik yang terjadi ini bukan hanya karena lonjakan kasus Corona. “Rakyat miskin panik cari uang buat makan orang kaya panik hamburkan uang buat borong makanan coba di jamin pemerintah nggak akan panik rakyat miskin,” protesnya. [UMM]

]]> Amukan Corona di sini semakin menyeramkan. Kasus aktif harian terus naik puluhan ribu dan mencatatkan rekor baru. Begitu juga dengan angka kematian. Dalam sehari, 1.000 nyawa melayang direnggut Corona. Meskipun kondisinya makin genting, masyarakat diminta tenang. Silakan nyalakan mode krisis, tapi matikan mode panik.

Berbagai cara sudah dilakukan pemerintah untuk menekan laju penyebaran Corona. Salah satunya, dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa dan Bali sejak tanggal 3 hingga 20 Juli mendatang. Namun, bukannya melemah, Corona terlihat malah makin perkasa.

Berdasarkan data yang disampaikan Satgas Penanganan Covid-19, kemarin, kasus aktif harian kembali mencetak rekor tertingginya. Ada 34. 373 kasus positif di tingkat nasional. Sehingga, total kasus Corona mencapai 2.379.397.

Sama seperti kasus aktif, angka kematian akibat Corona juga terus nanjak. Kemarin, dalam sehari, kasus orang meninggal karena terinveksi virus asal Wuhan, China itu, mencapai 1.040. Sehingga, total orang Indonesia yang tewas karena terinveksi Corona mencapai 62.908 orang.

Makin banyaknya rakyat yang terpapar Corona membuat kepanikan di masyarakat. Apalagi, mereka yang sudah dinyatakan positif dan perlu mendapat penanganan, tidak berhasil mendapatkan rumah sakit rujukan. Keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) sudah di atas kritis. Pasien harus menunggu antrean untuk bisa dirawat di rumah sakit.

Banyaknya pasien yang menjalani isolasi mandiri di rumah, membuat kebutuhan oksigen meningkat drastis. Akibatnya, hampir di semua wilayah, terjadinya kelangkaan oksigen. Warga harus berjuang keras dan antre hingga berjam-jam demi mendapatkan tabung oksigen dengan harga yang mahal.

Tak hanya oksigen, kebutuhan obat-obatan dan vitamin juga naik tajam. Di sejumlah tempat, apotek selalu rame oleh warga yang ingin beli obat-obatan dan vitamin.

Faheem Younus, dokter asal University of Maryland Amerika Serikat (AS) ikut prihatin dengan kepanikan yang terjadi di Indonesia. Lewat akun Twitter miliknya, @FaheemYounus, dokter spesialis penyakit dalam dan menular ini coba menenangkan rakyat Indonesia. “Indonesia sekarang dalam ‘mode krisis’. Harap hindari ‘mode panik’. Tetap tenang dan dengarkan para ahli. Anda dapat meratakan gelombang ini dalam 3-6 minggu,” ucapnya.

 

Dalam cuitan lainnya, Fahem meminta orang yang terpapar Corona untuk tidak panik. Tidak perlu berburu oksigen maupun obat-obatan lain saat menjalani isolasi mandiri. “Jangan Panik (Stay Calm), >85 persen pasien Corvid-19 tidak membutuhkan oksigen ekstra, antivirus, atau rawat inap. Mereka dapat sembuh di rumah dengan pengobatan simtomatik. Jika Anda berusia di bawah 60 tahun dengan oksimetri nadi >92 persen, kemungkinan besar Anda termasuk di antara 85%,” jelasnya.

Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng Faqih sependapat dengan Faheem Younus. “Iya jangan panik. Tapi kita harus mempercepat shelter-shelter sebagai tambahan tempat perawatan,” jelasnya saat dihubungi, kemarin.

Hal ini bertujuan agar masyarakat yang saat ini sedang sakit bisa mendapatkan tempat perawatan, dan bisa dirawat dengan baik.

Seruan juga datang dari Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito. Dia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan panic buying untuk keperluan isolasi mandiri. Cukup membeli barang yang benar-benar diperlukan.

Menurutnya, ada beberapa barang yang diperlukan pasien Corona selama isolasi mandiri. Yakni, oxymeter untuk mengecek saturasi oksigen, termometer guna mengukur suhu tubuh secara berkala, serta ketersediaan obat-obatan dan vitamin. “Pantau suhu dan saturasi oksigen secara berkala dan pastikan asupan makanan dengan gizi seimbang terpenuhi setiap harinya,” ujar Wiku.

Wiku mengingatkan, jika warga melakukan panic buying, hal ini bisa memicu habisnya stok barang di pasaran. Hingga akhirnya, barang tersebut menjadi langka dan menyebabkan lonjakan harga tajam. Kondisi tersebut, lanjutnya, akan menyulitkan orang yang benar-benar membutuhkan barang tersebut.

“Ingat, penggunaan obat-obatan selama masa pemulihan harus dengan resep dokter,” tegas Wiku.

Sementara itu, Koordinator PPKM Darurat, Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan pemerintah telah siap apabila kasus positif menyentuh angka 40 ribu orang per hari. Menurut Menko Kemaritiman dan Investasi ini, segala fasilitas pendukung seperti rumah sakit, oksigen, hingga obat-obatan sudah dipersiapkan.

 

“Angka ini bisa akan terus naik. Bisa saja bisa sampai 40 ribu atau lebih. Skenario menghadapi itu sudah kita lakukan, baik itu mengenai obat, oksigen, maupun rumah sakit,” kata luhut dalam keterangan persnya, Selasa (6/7).

Pemerintah juga sudah menjalin kerja sama dengan Singapura, China dan Amerika Serikat untuk menyiapkan langkah antisipasi. “Kalau ada yang bilang perlu bantuan dari luar, kita juga sudah komunikasi dengan Singapura, dengan Tiongkok, dan sumber-sumber lain,” tambahnya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi menjelaskan lonjakan kasus yang beberapa hari ini terjadi. Menurut dia, lonjakan kasus terjadi karena testing mendekati target. “Harapannya 324.000 (testing) per hari,” ungkapnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Kata dia, penemuan kasus yang diikuti dengan isolasi, kemudian ditindaklanjuti dengan pelacakan dan karantina, merupakan upaya untuk memutus rantai penularan. Sebab, beban fasilitas kesehatan sudah melebihi kapasitas sehingga penularannya perlu diputus dari hulu.

“Makin cepat dan dini kita menemukan kasus maka gejala berat dapat kita kurangi,” beber Juru Bicara Vaksin dari Kemenkes itu.

Di dunia maya, seruan untuk tidak panik juga disampaikan beberapa pengguna media sosial. “Aku yang nggak panik sama sekali aja merasakan sakit seperti ini, apalagi mereka yang panik. Jadi kuncinya saat kita positif adalah nggak usah panik, di terima aja vonis dokter kalo kita positif, lalu isolasi mandiri, makan², minum dan istirahat teratur serta minum vitamin,” tutur @03_nakula.

“Panik justru bikin imun kita turun bisa-bisa drop. Usahakan makan karena biar tambah asupan dan minum air putih hangat,” timpal @ernithea74.

Namun, akun @BrooGallan menilai, panik yang terjadi ini bukan hanya karena lonjakan kasus Corona. “Rakyat miskin panik cari uang buat makan orang kaya panik hamburkan uang buat borong makanan coba di jamin pemerintah nggak akan panik rakyat miskin,” protesnya. [UMM]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories