Sehari 150 Ribu Ton Limbah Medis Jangan Sampai Bikin Masalah .

Pandemi Covid-19 berdampak pada melonjaknya limbah me­dis. Jumlahnya meningkat berkali-kali lipat sejak virus itu hinggap di Indonesia. Per hari, lebih dari 150 ribu ton sampah medis dihasilkan. Kalau tak mau ada masalah baru, limbah medis ini mesti diolah dengan maksimal.

Sub Bidang Limbah Medis dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Muslina Handayani mengungkapkan, jumlah limbah medis yang di­hasilkan pasien Covid-19 per harinya mencapai 158.498 ton per hari.

Jumlah itu dihitung berdasar­kan jumlah pasien harian Covid-19 per kemarin yang tercatat sebanyak 158 ribu.

Berdasarkan World Health Organization (WHO), kata Muslina, satu pasien Covid-19 menghasilkan satu kilogram limbah.

Angka itu belum ditambah dengan limbah medis dari pasien non Covid-19. Limbah me­dis dari kategori ini mencapai 294,66 ton per hari.

“Jadi total ada 453,15 ton per hari,” beber Muslina, dalam diskusi virtual bertajuk ‘Pekan Peduli Limbah Masker’, ke­marin.

Itu belum mencakup keseluruhan. Menurut Muslina, masih banyak sampah yang tak terpantau. Misalnya, limbah dari pasien isolasi mandiri, baik di hotel maupun yang dirawat di rumah.

“Saya membaca laporan setiap bulan bisa jadi ada 129 miliar sampah masker selama pan­demi,” tuturnya.

Selain masker, limbah medis yang banyak ditemukan adalah Alat Pelindung Diri (APD), alat Polymerase Chain Reaction (PCR), alat kelengkapan vaksi­nasi spesimen dari yang pasien dan lainnya.

Bahkan, saat ini, kemasan bekas makanan minuman pasien Covid-19 juga sudah dianggap bahaya. Sehingga kemasan ma­kanan dan minuman termasuk limbah medis.

 

Dia mengingatkan, limbah medis membutuhkan penanganan khusus. Soalnya, limbah medis pasien Covid-19, berpo­tensi menjadi perantara penu­laran virus. Terutama, sampah masker. “Peningkatan sampah infeksius mencapai 30 persen,” ujarnya.

Limbah harian itu sebetul­nya masih bisa diolah melalui teknologi incinerator dan auto­clave. Kapasitas pengolahan itu mampu menampung 455,65 ton per hari.

Tapi jumlah mesin pengolah masih belum merata di seluruh daerah. Ini tidak bisa dihindari, terjadi penumpukan di beberapa wilayah.

Menurutnya limbah medis harus mendapat perhatian serius. Dimulai, dari pencatatan data. “Masih sulit untuk mendapatkan yang valid,” keluhnya.

Untuk mengurangi sampah medis, Muslina menyarankan masyarakat yang sehat tidak menggunakan masker medis. Cukup masker kain.

Sementara, untuk menghindari penularan virus, masyarakat, khususnya yang tengah men­jalani isolasi, perlu melakukan disinfektasi terhadap alat medis yang akan dibuang.

“Tidak perlu menggunakan antiseptik yang mahal. Cukup menggunakan klorin,” saran Muslina.

Kemudian, sisa makanan dari pasien Covid-19 yang sedang melakukan isolasi mandiri, se­baiknya dikubur atau diolah menjadi pupuk kompos.

Terpisah, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko) PMK Muhadjir Effendy mengungkap­kan, dalam pandemi Covid-19, limbah medis naik hingga empat kali lipat.

Menurutnya, mesti ada keseriusan dalam pengolahan lim­bah medis ini. Salah satu yang bisa dilakukan, adalah dengan memperbanyak dan memberikan kemudahan pendirian pabrik pengolahan limbah. [JAR]

]]> .
Pandemi Covid-19 berdampak pada melonjaknya limbah me­dis. Jumlahnya meningkat berkali-kali lipat sejak virus itu hinggap di Indonesia. Per hari, lebih dari 150 ribu ton sampah medis dihasilkan. Kalau tak mau ada masalah baru, limbah medis ini mesti diolah dengan maksimal.

Sub Bidang Limbah Medis dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Muslina Handayani mengungkapkan, jumlah limbah medis yang di­hasilkan pasien Covid-19 per harinya mencapai 158.498 ton per hari.

Jumlah itu dihitung berdasar­kan jumlah pasien harian Covid-19 per kemarin yang tercatat sebanyak 158 ribu.

Berdasarkan World Health Organization (WHO), kata Muslina, satu pasien Covid-19 menghasilkan satu kilogram limbah.

Angka itu belum ditambah dengan limbah medis dari pasien non Covid-19. Limbah me­dis dari kategori ini mencapai 294,66 ton per hari.

“Jadi total ada 453,15 ton per hari,” beber Muslina, dalam diskusi virtual bertajuk ‘Pekan Peduli Limbah Masker’, ke­marin.

Itu belum mencakup keseluruhan. Menurut Muslina, masih banyak sampah yang tak terpantau. Misalnya, limbah dari pasien isolasi mandiri, baik di hotel maupun yang dirawat di rumah.

“Saya membaca laporan setiap bulan bisa jadi ada 129 miliar sampah masker selama pan­demi,” tuturnya.

Selain masker, limbah medis yang banyak ditemukan adalah Alat Pelindung Diri (APD), alat Polymerase Chain Reaction (PCR), alat kelengkapan vaksi­nasi spesimen dari yang pasien dan lainnya.

Bahkan, saat ini, kemasan bekas makanan minuman pasien Covid-19 juga sudah dianggap bahaya. Sehingga kemasan ma­kanan dan minuman termasuk limbah medis.

 

Dia mengingatkan, limbah medis membutuhkan penanganan khusus. Soalnya, limbah medis pasien Covid-19, berpo­tensi menjadi perantara penu­laran virus. Terutama, sampah masker. “Peningkatan sampah infeksius mencapai 30 persen,” ujarnya.

Limbah harian itu sebetul­nya masih bisa diolah melalui teknologi incinerator dan auto­clave. Kapasitas pengolahan itu mampu menampung 455,65 ton per hari.

Tapi jumlah mesin pengolah masih belum merata di seluruh daerah. Ini tidak bisa dihindari, terjadi penumpukan di beberapa wilayah.

Menurutnya limbah medis harus mendapat perhatian serius. Dimulai, dari pencatatan data. “Masih sulit untuk mendapatkan yang valid,” keluhnya.

Untuk mengurangi sampah medis, Muslina menyarankan masyarakat yang sehat tidak menggunakan masker medis. Cukup masker kain.

Sementara, untuk menghindari penularan virus, masyarakat, khususnya yang tengah men­jalani isolasi, perlu melakukan disinfektasi terhadap alat medis yang akan dibuang.

“Tidak perlu menggunakan antiseptik yang mahal. Cukup menggunakan klorin,” saran Muslina.

Kemudian, sisa makanan dari pasien Covid-19 yang sedang melakukan isolasi mandiri, se­baiknya dikubur atau diolah menjadi pupuk kompos.

Terpisah, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko) PMK Muhadjir Effendy mengungkap­kan, dalam pandemi Covid-19, limbah medis naik hingga empat kali lipat.

Menurutnya, mesti ada keseriusan dalam pengolahan lim­bah medis ini. Salah satu yang bisa dilakukan, adalah dengan memperbanyak dan memberikan kemudahan pendirian pabrik pengolahan limbah. [JAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories