Sebulan Baru Kelar 12,5 Persen Duh.., Proyek Jalur Sepeda Di Sudirman-Thamrin Lelet

Pembangunan jalur khusus sepeda di Jalan Sudirman-Thamrin, bisa dibilang lelet. Pasalnya, sejak mulai dibangun 1 Maret lalu, baru terealisasi 12,5 persen dari target.

Dari 4.000 planter box, pembatas beton yang digunakan untuk memproteksi jalur sepeda, baru 500 yang sudah terpasang. Sisanya masih memakai traffic cone, corong mirip terompet yang dipakai untuk penanda lalu lintas.

Berdasarkan pantauan, jalur sepeda sepanjang 11,2 kilometer (km) dengan lebar 2 meter di Jalan Sudirman-Thamrin, hanya sebagian yang sudah memakai planter box. Sisanya masih memakai traffic cone, semacam corong oranye yang dipakai untuk penanda lalu lintas.

Kendati jalur sepeda ini terpisah dari jalur umum, tapi tetap tidak steril. Banyak pengendara sepeda motor, yang nekat melintasi jalur yang berada di sisi paling kiri jalan ini.

Menariknya, sekalipun pesepeda sudah memiliki jalur khusus, namun banyak yang memilih untuk melintasi jalur umum. Terutama, pegowes jenis road bike. Mereka yang biasanya bergerombol dan berkecepatan tinggi lebih nyaman melintas di jalur umum.

Malahan, kalau akhir pekan, tak sedikit mobil pribadi dan sepeda motor yang melintas di luar jalur sepeda Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat. Petugas kepolisian, Dinas Perhubungan (Dishub), serta Satpol PP yang melihat pelanggaran itu selalu berupaya mengarahkan pesepeda agar masuk jalur khusus. Meski begitu, tidak sedikit yang mengabaikan arahan itu dan tetap melintas di luar jalur khusus sepeda .

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Rudi Saptari menjelaskan, planter box belum dipasang semua karena masih menunggu hasil dari kajian uji coba jalur sepeda permanen.

 

Saat ini, Dishub DKI Jakarta bersama Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya sedang mempelajari arus lalu lintas yang terdampak jalur sepeda permanen. Tujuannya agar saat nanti resmi dipasang, jalur sepeda terproteksi dapat dipakai nyaman dan aman oleh para pesepeda.

“Kami masih melakukan kajian agar ketika penerapan bisa berjalan dengan matang dan lancar. Sementara pembatas permanen yang belum dipasang digantikan dengan pembatas jalan kerucut atau traffic cone. Sambil kita melihat bagaimana nih pola pergerakan lalu lintasnya,” papar Rudi di Jakarta, Rabu (31/3).

Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat, Syamsul Mirwan menyesalkan banyak pesepeda yang melintas di luar jalur sepeda khusus.

“Memang jalurnya belum sempurna, tapi dulu kan mereka nuntut jalur sepeda. Ini sekarang sudah kami kasih yang permanen, malah tidak dimanfaatkan,” cetus Syamsul.

Disebutkannya, petugas Dishub DKI Jakarta sudah ditempatkan dan berjaga rutin di sejumlah titik persimpangan jalur sepeda. Petugas juga terus berusaha memastikan jalur sepeda tetap steril dari kendaraan bermotor.

Melaju Kencang

Para pengguna sepeda road bike beralasan enggan menggunakan jalur khusus karena jenis sepeda yang mereka pakai menuntut kecepatan 30 km per jam. Pesepeda lain yang melaju dengan pelan, mengganggu kelancaran laju mereka.

“Kalau santai, lewat jalur sepeda. Kalau lagi ngebut, apalagi barengan, lewat luar jalur. Soalnya di jalur sepeda, ada sepeda lipat yang pelan,” aku seorang pegowes road bike, Hendry.

Namun begitu, dia mengakui, pihaknya menyadari, road bike pun harus masuk jalur khusus. Disarankannya, para pesepeda road bike jika ingin melaju dengan cepat agar tidak menggunakan jalur Sudirman-Thamrin, tetapi wilayah lain.

 

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Sambodo Purnomo Yogo menegaskan, semua pesepeda wajib lewat jalur sepeda, termasuk pengguna jenis road bike.

“Gini, jalur sepeda itu tidak mengenal jenis sepeda. Semua sepeda sama. Artinya, ketika sudah ada jalur sepeda yang permanen, tentu semua sepeda wajib masuk ke lajur sepeda yang disiapkan. Karena undang-undangnya berkata seperti itu. Tidak dibeda-bedakan jenis jalur sepedanya,” terangnya.

Diakuinya, komunitas pesepeda road bike meminta Polda Metro agar pada waktu tertentu tidak harus menggunakan jalur sepeda terproteksi. Mereka minta diberikan dispensasi masuk ke jalur kendaraan bermotor di Jalan Sudirman-Thamrin.

“Sebelum kami melakukan penindakan, kami akan rapat lagi mengundang CJS, kejaksaan, pengadilan, pakar hukum dan sebagainya untuk menentukan aturan mainnya,” ujar Sambodo.

Kepala Sub Direktorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Fahri Siregar menerangkan, para pesepeda wajib masuk lewat jalur khusus. Jika tidak, bisa dikenakan denda Rp 100 ribu atau kurungan selama 15 hari.

“Siapa bilang pesepeda tidak bisa dikenakan sanksi. Ada dalam Undang-Undang kalau mereka bisa dikenakan sanksi,” kata Fahri Siregar, di Jakarta, kemarin.

Aturan tentang pesepeda tertuang di dalam pasal 229 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Dia menambahkan, saat ini pihaknya belum melakukan penindakan terhadap pesepeda yang melanggar aturan.

“Jalur sepeda sudah bisa digunakan. Tapi kita masih uji coba,” pungkasnya. [FAQ]

]]> Pembangunan jalur khusus sepeda di Jalan Sudirman-Thamrin, bisa dibilang lelet. Pasalnya, sejak mulai dibangun 1 Maret lalu, baru terealisasi 12,5 persen dari target.

Dari 4.000 planter box, pembatas beton yang digunakan untuk memproteksi jalur sepeda, baru 500 yang sudah terpasang. Sisanya masih memakai traffic cone, corong mirip terompet yang dipakai untuk penanda lalu lintas.

Berdasarkan pantauan, jalur sepeda sepanjang 11,2 kilometer (km) dengan lebar 2 meter di Jalan Sudirman-Thamrin, hanya sebagian yang sudah memakai planter box. Sisanya masih memakai traffic cone, semacam corong oranye yang dipakai untuk penanda lalu lintas.

Kendati jalur sepeda ini terpisah dari jalur umum, tapi tetap tidak steril. Banyak pengendara sepeda motor, yang nekat melintasi jalur yang berada di sisi paling kiri jalan ini.

Menariknya, sekalipun pesepeda sudah memiliki jalur khusus, namun banyak yang memilih untuk melintasi jalur umum. Terutama, pegowes jenis road bike. Mereka yang biasanya bergerombol dan berkecepatan tinggi lebih nyaman melintas di jalur umum.

Malahan, kalau akhir pekan, tak sedikit mobil pribadi dan sepeda motor yang melintas di luar jalur sepeda Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat. Petugas kepolisian, Dinas Perhubungan (Dishub), serta Satpol PP yang melihat pelanggaran itu selalu berupaya mengarahkan pesepeda agar masuk jalur khusus. Meski begitu, tidak sedikit yang mengabaikan arahan itu dan tetap melintas di luar jalur khusus sepeda .

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Rudi Saptari menjelaskan, planter box belum dipasang semua karena masih menunggu hasil dari kajian uji coba jalur sepeda permanen.

 

Saat ini, Dishub DKI Jakarta bersama Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Metro Jaya sedang mempelajari arus lalu lintas yang terdampak jalur sepeda permanen. Tujuannya agar saat nanti resmi dipasang, jalur sepeda terproteksi dapat dipakai nyaman dan aman oleh para pesepeda.

“Kami masih melakukan kajian agar ketika penerapan bisa berjalan dengan matang dan lancar. Sementara pembatas permanen yang belum dipasang digantikan dengan pembatas jalan kerucut atau traffic cone. Sambil kita melihat bagaimana nih pola pergerakan lalu lintasnya,” papar Rudi di Jakarta, Rabu (31/3).

Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat, Syamsul Mirwan menyesalkan banyak pesepeda yang melintas di luar jalur sepeda khusus.

“Memang jalurnya belum sempurna, tapi dulu kan mereka nuntut jalur sepeda. Ini sekarang sudah kami kasih yang permanen, malah tidak dimanfaatkan,” cetus Syamsul.

Disebutkannya, petugas Dishub DKI Jakarta sudah ditempatkan dan berjaga rutin di sejumlah titik persimpangan jalur sepeda. Petugas juga terus berusaha memastikan jalur sepeda tetap steril dari kendaraan bermotor.

Melaju Kencang

Para pengguna sepeda road bike beralasan enggan menggunakan jalur khusus karena jenis sepeda yang mereka pakai menuntut kecepatan 30 km per jam. Pesepeda lain yang melaju dengan pelan, mengganggu kelancaran laju mereka.

“Kalau santai, lewat jalur sepeda. Kalau lagi ngebut, apalagi barengan, lewat luar jalur. Soalnya di jalur sepeda, ada sepeda lipat yang pelan,” aku seorang pegowes road bike, Hendry.

Namun begitu, dia mengakui, pihaknya menyadari, road bike pun harus masuk jalur khusus. Disarankannya, para pesepeda road bike jika ingin melaju dengan cepat agar tidak menggunakan jalur Sudirman-Thamrin, tetapi wilayah lain.

 

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Sambodo Purnomo Yogo menegaskan, semua pesepeda wajib lewat jalur sepeda, termasuk pengguna jenis road bike.

“Gini, jalur sepeda itu tidak mengenal jenis sepeda. Semua sepeda sama. Artinya, ketika sudah ada jalur sepeda yang permanen, tentu semua sepeda wajib masuk ke lajur sepeda yang disiapkan. Karena undang-undangnya berkata seperti itu. Tidak dibeda-bedakan jenis jalur sepedanya,” terangnya.

Diakuinya, komunitas pesepeda road bike meminta Polda Metro agar pada waktu tertentu tidak harus menggunakan jalur sepeda terproteksi. Mereka minta diberikan dispensasi masuk ke jalur kendaraan bermotor di Jalan Sudirman-Thamrin.

“Sebelum kami melakukan penindakan, kami akan rapat lagi mengundang CJS, kejaksaan, pengadilan, pakar hukum dan sebagainya untuk menentukan aturan mainnya,” ujar Sambodo.

Kepala Sub Direktorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Fahri Siregar menerangkan, para pesepeda wajib masuk lewat jalur khusus. Jika tidak, bisa dikenakan denda Rp 100 ribu atau kurungan selama 15 hari.

“Siapa bilang pesepeda tidak bisa dikenakan sanksi. Ada dalam Undang-Undang kalau mereka bisa dikenakan sanksi,” kata Fahri Siregar, di Jakarta, kemarin.

Aturan tentang pesepeda tertuang di dalam pasal 229 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Dia menambahkan, saat ini pihaknya belum melakukan penindakan terhadap pesepeda yang melanggar aturan.

“Jalur sepeda sudah bisa digunakan. Tapi kita masih uji coba,” pungkasnya. [FAQ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories