Sebelum Wafat Di Malaysia Azyumardi Nulis, “Asia Bisa Jadi Pusat Peradaban Dunia”

Indonesia berduka. Kemarin, Ketua Dewan Pers yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof Azyumardi Azra, wafat di Malaysia. Sebelum wafat, cendekiawan Muslim ini “mewariskan” tulisan yang sangat bermakna, berjudul “Asia Bisa Jadi Pusat Peradaban Dunia”. Tulisan ini merupakan bahan presentasi Azra pada Konferensi Internasional Kosmopolitan Islam di Selangor, Malaysia, Sabtu (17/9).

Azra terbang ke Malaysia Jumat (16/9). Saat pesawat lepas landas di Bandara Soekarno-Hatta, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini tampak sehat-sehat saja. Namun, menjelang pesawat mendarat di Malaysia, Azra mengalami sesak napas. Setelah mendarat, Azra langsung dilarikan ke Rumah Sakit Selangor, dan mendapat penanganan intensif di Coronary Care Unit (CCU), ruangan yang biasa digunakan untuk merawat pasien Covid-19.

Para dokter berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Azra. Namun, takdir berkata lain. Kemarin, Azra dinyatakan meninggal dunia. Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Hermono mengungkapkan, Azra meninggal karena serangan jantung. “Jadi tertulis dalam surat tersebut penyebabnya acute inferior myocardial infarction,” katanya.

Jenazah Azra diperiksakan akan sampai ke Tanah Air hari ini. Dari Bandara Soekarno-Hatta, jenazah akan dibawa terlebih dahulu ke UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang Selatan. Siangnya, jenazah akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Azra memang belum sempat memaparkan materi yang ditulisnya itu, di Konferensi Internasional Kosmopolitan Islam. Namun, tulisan Azra itu sudah menyebar ke publik. Judulnya: “Nusantara Untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme Dan Peran Umat Muslim Asia Tenggara”.

Dalam tulisan itu, Azra berpandangan bahwa Asia, termasuk ASEAN yang memiliki penduduk Muslim terbesar, berpotensi kembali menjadi pusat peradaban dunia. Hal itu dikarenakan Amerika Serikat dan Eropa tengah berada dalam tren kemunduran.

Secara demografis, terang dia, kaum Muslimin terus bertambah. Diperkirakan jumlahnya lebih dari 1,9 miliar jiwa. Jumlah penganut agama terbesar kedua setelah Kristianitas (Katolik dan Protestan digabung). Dengan jumlah itu, potensi yang dimiliki semakin tinggi pula. Tidak hanya untuk membangun peradaban Muslim, tetapi juga peradaban dunia secara keseluruhan.

Menurut Azra, telah cukup lama, pemerintahan berbagai Muslim di Asia Barat dan Asia Selatan memberikan perhatian khusus dan menaruh harapan pada kaum Muslim Asia Tenggara. Fenomena ini misalnya terlihat dari ‘Suara dari Asia’, persisnya Asia Tenggara. “Kian banyak harapan yang ditumpukan kepada negara-negara Asia Tenggara—khususnya Indonesia dan Malaysia, yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia Muslim untuk memainkan peran lebih proaktif dalam membantu berbagai masalah di dunia,” tulis Azra.

 

Untuk menjawab itu, lanjut Azra, perlu beberapa prasyarat bagi kebangkitan peradaban yang kontributif bagi peradaban dunia secara keseluruhan. Prasyarat utama adalah stabilitas politik. “Demokrasi Indonesia yang telah diadopsi dan dipraktikkan sejak 1999 masih perlu dikonsolidasikan dalam tiga hal: basis konstitusional-legal, kelembagaan (parpol, legislatif dan eksekutif), dan budaya politik. Hanya dengan konsolidasi lebih lanjut dapat ditegakkan good governance, penegakan hukum, dan kohesi sosial,” tulisnya lagi.

Pada akhir tulisannya, Azra menekankan, Muslimin di Asia Tenggara perlu memberi contoh tentang penerapan Islamisitas atau nilai-nilai Islam secara aktual dalam penyelamatan alam lingkungan dan sumber daya alam. “Di sini, kaum Muslim harus memperkuat integritas diri pribadi dan komunitas, sehingga dapat mengaktualkan ‘Islam rahmatan lil ‘alamin’ dengan peradaban yang juga menjadi blessing bagi alam semesta,” tutupnya.

Untaian Doa Untuk Azra

Kabar meninggalnya Azra membuat para tokoh di negeri ini ikut berduka. Wapres ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) merasa sangat kehilangan. Sebab, selama dua kali menjabat Wapres RI, Azra pernah mendampinginya sebagai Deputi Politik dan Staf Khusus.

“Di samping sebagai professor, beliau juga pernah menjadi Deputi dan Staf Khusus selama 10 tahun saya menjadi Wapres. Begitu banyak jasa beliau kepada kita semua, pada umat, kepada bangsa dan dunia internasional,” ucap JK, di kediamannya, Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kemarin.

Ia mengenang Azra sebagai salah satu sosok yang sangat dihormati di kalangan intelektual dunia, dengan segala keilmuan yang dimilikinya. Karenanya, almarhum menjadi WNI pertama yang mendapat gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) atau Sir dari Kerajaan Inggris.

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy juga berduka atas wafatnya Azra. Muhadjir menyebut, kepergian cendekiawan Muslim itu, sangat mengejutkan.

Muhadjir menyatakan, Azra adalah sahabatnya yang juga bergabung di Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS). Sejatinya, Azra akan mendapat giliran menjabat menjadi ketua umum HIPIIS.

“Kami bersahabat, kebetulan umurnya sebaya, sama-sama bergabung di HIPIIS (Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial). Mestinya, beliau mendapat giliran untuk menjabat sebagai ketua umum HIPIIS,” ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai, Azra merupakan tokoh yang memiliki integritas. Almarhum juga dikenal sebagai sosok yang konsisten dalam menyampaikan pendapat. Bahkan, pendapat atau pandangannya itu tak disukai atau berseberangan dengan penguasa.

“Beliau tidak segan untuk melontarkan pandangan’-pandangan walaupun belum tentu pandangan itu disuka oleh Pemerintah, tapi beliau memilih untuk selalu berada sebagai penjaga demokrasi,” ungkap Anies.

Tak tertulis lagi di sini beragam ucapan duka, pujian dan doa untuk Azra. Namun, semua yakin, Prof Azra wafat dalam keadaan husnul khatimah. Amin. [MEN]

]]> Indonesia berduka. Kemarin, Ketua Dewan Pers yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof Azyumardi Azra, wafat di Malaysia. Sebelum wafat, cendekiawan Muslim ini “mewariskan” tulisan yang sangat bermakna, berjudul “Asia Bisa Jadi Pusat Peradaban Dunia”. Tulisan ini merupakan bahan presentasi Azra pada Konferensi Internasional Kosmopolitan Islam di Selangor, Malaysia, Sabtu (17/9).

Azra terbang ke Malaysia Jumat (16/9). Saat pesawat lepas landas di Bandara Soekarno-Hatta, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini tampak sehat-sehat saja. Namun, menjelang pesawat mendarat di Malaysia, Azra mengalami sesak napas. Setelah mendarat, Azra langsung dilarikan ke Rumah Sakit Selangor, dan mendapat penanganan intensif di Coronary Care Unit (CCU), ruangan yang biasa digunakan untuk merawat pasien Covid-19.

Para dokter berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan Azra. Namun, takdir berkata lain. Kemarin, Azra dinyatakan meninggal dunia. Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Hermono mengungkapkan, Azra meninggal karena serangan jantung. “Jadi tertulis dalam surat tersebut penyebabnya acute inferior myocardial infarction,” katanya.

Jenazah Azra diperiksakan akan sampai ke Tanah Air hari ini. Dari Bandara Soekarno-Hatta, jenazah akan dibawa terlebih dahulu ke UIN Syarif Hidayatullah di Ciputat, Tangerang Selatan. Siangnya, jenazah akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Azra memang belum sempat memaparkan materi yang ditulisnya itu, di Konferensi Internasional Kosmopolitan Islam. Namun, tulisan Azra itu sudah menyebar ke publik. Judulnya: “Nusantara Untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme Dan Peran Umat Muslim Asia Tenggara”.

Dalam tulisan itu, Azra berpandangan bahwa Asia, termasuk ASEAN yang memiliki penduduk Muslim terbesar, berpotensi kembali menjadi pusat peradaban dunia. Hal itu dikarenakan Amerika Serikat dan Eropa tengah berada dalam tren kemunduran.

Secara demografis, terang dia, kaum Muslimin terus bertambah. Diperkirakan jumlahnya lebih dari 1,9 miliar jiwa. Jumlah penganut agama terbesar kedua setelah Kristianitas (Katolik dan Protestan digabung). Dengan jumlah itu, potensi yang dimiliki semakin tinggi pula. Tidak hanya untuk membangun peradaban Muslim, tetapi juga peradaban dunia secara keseluruhan.

Menurut Azra, telah cukup lama, pemerintahan berbagai Muslim di Asia Barat dan Asia Selatan memberikan perhatian khusus dan menaruh harapan pada kaum Muslim Asia Tenggara. Fenomena ini misalnya terlihat dari ‘Suara dari Asia’, persisnya Asia Tenggara. “Kian banyak harapan yang ditumpukan kepada negara-negara Asia Tenggara—khususnya Indonesia dan Malaysia, yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia Muslim untuk memainkan peran lebih proaktif dalam membantu berbagai masalah di dunia,” tulis Azra.

 

Untuk menjawab itu, lanjut Azra, perlu beberapa prasyarat bagi kebangkitan peradaban yang kontributif bagi peradaban dunia secara keseluruhan. Prasyarat utama adalah stabilitas politik. “Demokrasi Indonesia yang telah diadopsi dan dipraktikkan sejak 1999 masih perlu dikonsolidasikan dalam tiga hal: basis konstitusional-legal, kelembagaan (parpol, legislatif dan eksekutif), dan budaya politik. Hanya dengan konsolidasi lebih lanjut dapat ditegakkan good governance, penegakan hukum, dan kohesi sosial,” tulisnya lagi.

Pada akhir tulisannya, Azra menekankan, Muslimin di Asia Tenggara perlu memberi contoh tentang penerapan Islamisitas atau nilai-nilai Islam secara aktual dalam penyelamatan alam lingkungan dan sumber daya alam. “Di sini, kaum Muslim harus memperkuat integritas diri pribadi dan komunitas, sehingga dapat mengaktualkan ‘Islam rahmatan lil ‘alamin’ dengan peradaban yang juga menjadi blessing bagi alam semesta,” tutupnya.

Untaian Doa Untuk Azra

Kabar meninggalnya Azra membuat para tokoh di negeri ini ikut berduka. Wapres ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) merasa sangat kehilangan. Sebab, selama dua kali menjabat Wapres RI, Azra pernah mendampinginya sebagai Deputi Politik dan Staf Khusus.

“Di samping sebagai professor, beliau juga pernah menjadi Deputi dan Staf Khusus selama 10 tahun saya menjadi Wapres. Begitu banyak jasa beliau kepada kita semua, pada umat, kepada bangsa dan dunia internasional,” ucap JK, di kediamannya, Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kemarin.

Ia mengenang Azra sebagai salah satu sosok yang sangat dihormati di kalangan intelektual dunia, dengan segala keilmuan yang dimilikinya. Karenanya, almarhum menjadi WNI pertama yang mendapat gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) atau Sir dari Kerajaan Inggris.

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy juga berduka atas wafatnya Azra. Muhadjir menyebut, kepergian cendekiawan Muslim itu, sangat mengejutkan.

Muhadjir menyatakan, Azra adalah sahabatnya yang juga bergabung di Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS). Sejatinya, Azra akan mendapat giliran menjabat menjadi ketua umum HIPIIS.

“Kami bersahabat, kebetulan umurnya sebaya, sama-sama bergabung di HIPIIS (Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial). Mestinya, beliau mendapat giliran untuk menjabat sebagai ketua umum HIPIIS,” ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai, Azra merupakan tokoh yang memiliki integritas. Almarhum juga dikenal sebagai sosok yang konsisten dalam menyampaikan pendapat. Bahkan, pendapat atau pandangannya itu tak disukai atau berseberangan dengan penguasa.

“Beliau tidak segan untuk melontarkan pandangan’-pandangan walaupun belum tentu pandangan itu disuka oleh Pemerintah, tapi beliau memilih untuk selalu berada sebagai penjaga demokrasi,” ungkap Anies.

Tak tertulis lagi di sini beragam ucapan duka, pujian dan doa untuk Azra. Namun, semua yakin, Prof Azra wafat dalam keadaan husnul khatimah. Amin. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories