Sandi Dan BGS, Menteri Baru Berkinerja Paling Moncer .

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, boleh berbangga hati.

Dari 6 menteri baru Kabinet Indonesia Maju yang diangkat Presiden Jokowi pada 22 Desember 2020, Sandi berhasil meraih kepuasan publik dengan angka 25,87 persen. Berdasarkan hasil survei Persepsi Kepuasan Publik Terhadap 6 Menteri Baru Di Kabinet Indonesia Maju, yang dirilis Centre for Indonesia Stratic Actions (CISA) pada 17 April 2021.

Posisi Sandi, dipepet Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS), yang mendulang angka 21,66 persen. Berikut hasil rinci survei tersebut:

  1. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno (25,87 persen)
  2. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin (21,66 persen)
  3. Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas (19,25 persen)
  4. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono (15,74 persen)
  5. Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi (11,85 persen)
  6. Menteri Sosial, Tri Rismaharini (5,63 persen)

Direktur Eksekutif CISA Herry Mendrofa mengatakan, survei ini tidak hanya mengacu pada kinerja. Tetapi juga menyasar pada kapasitas kepemimpinan dan kebijakan.

“Sandi mengungguli semua menteri hasil reshuffle termin 1 Kabinet Indonesia Maju. Publik menilai, Sandi memiliki kemampuan untuk memberikan kontribusi terhadap pergerakan ekonomi kreatif dan juga sektor pariwisata. Terutama, di tengah situasi pandemi Covid-19, yang menuntut setiap stakeholders memiliki terobosan untuk mampu bertahan,” jelas Herry dalam keterangannya, Sabtu (17/4).

Beberapa kebijakan Kemenparekraf yang yang cukup fenomenal di antaranya adalah  Program Stimulus Hibah Pariwisata, Free Covid Corridor atau Travel Corridor Arrangement, Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Program Digitalisasi Ekonomi Kreatif.

Program tersebut menyasar 34 juta masyarakat, yang menggantungkan hidupnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Herry juga mengomentari Menteri Sosial Tri Rismaharini, yang berada di urutan terbawah dalam hasil survei tersebut.

Ia menilai, mantan Walikota Surabaya tersebut belum memenuhi harapan publik. Terutama, dalam konteks peningkatan kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.

“Inovasi di Kementerian Sosial yang sampai sekarang hanya bertumpu pada perbaikan data kemiskinan, menyebabkan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial cenderung diabaikan. Ditambah lagi kontroversialnya kebijakan Kementerian Sosial, yang menghentikan Bantuan Sosial Tunai (BST) yang menyasar pada 9 juta KK miskin,” tutur Herry.

Gaya kepemimpinan Risma yang kurang humanis ketika berada di lapangan, juga dinilai tidak memberikan dampak pada akselerasi kinerja. “Misalnya, saat bencana banjir bandang di NTT. Ketika Risma sempat memarahi Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang hanya menjadi relawan sosial,” sambungnya.

Survei CISA terkait kinerja 6 menteri baru hasil reshuffle Kabinet Indoensia Maju pada 22 Desember 2020, mengambil ampel secara acak sistematis (systematic random sampling).

Sampel terdiri atas 1.600 responden (margin of error 2,5 persen dan tingkat kepercayaan di 95 persen).

Survei yang diselenggarakan pada 12-16 April 2021 ini dilakukan di 34 provinsi di seluruh Indonesia, melalui wawancara langsung, dengan menerapkan protokol kesehatan. [HES]

]]> .
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, boleh berbangga hati.

Dari 6 menteri baru Kabinet Indonesia Maju yang diangkat Presiden Jokowi pada 22 Desember 2020, Sandi berhasil meraih kepuasan publik dengan angka 25,87 persen. Berdasarkan hasil survei Persepsi Kepuasan Publik Terhadap 6 Menteri Baru Di Kabinet Indonesia Maju, yang dirilis Centre for Indonesia Stratic Actions (CISA) pada 17 April 2021.

Posisi Sandi, dipepet Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS), yang mendulang angka 21,66 persen. Berikut hasil rinci survei tersebut:

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno (25,87 persen)
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin (21,66 persen)
Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas (19,25 persen)
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono (15,74 persen)
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi (11,85 persen)
Menteri Sosial, Tri Rismaharini (5,63 persen)

Direktur Eksekutif CISA Herry Mendrofa mengatakan, survei ini tidak hanya mengacu pada kinerja. Tetapi juga menyasar pada kapasitas kepemimpinan dan kebijakan.

“Sandi mengungguli semua menteri hasil reshuffle termin 1 Kabinet Indonesia Maju. Publik menilai, Sandi memiliki kemampuan untuk memberikan kontribusi terhadap pergerakan ekonomi kreatif dan juga sektor pariwisata. Terutama, di tengah situasi pandemi Covid-19, yang menuntut setiap stakeholders memiliki terobosan untuk mampu bertahan,” jelas Herry dalam keterangannya, Sabtu (17/4).

Beberapa kebijakan Kemenparekraf yang yang cukup fenomenal di antaranya adalah  Program Stimulus Hibah Pariwisata, Free Covid Corridor atau Travel Corridor Arrangement, Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Program Digitalisasi Ekonomi Kreatif.

Program tersebut menyasar 34 juta masyarakat, yang menggantungkan hidupnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Herry juga mengomentari Menteri Sosial Tri Rismaharini, yang berada di urutan terbawah dalam hasil survei tersebut.

Ia menilai, mantan Walikota Surabaya tersebut belum memenuhi harapan publik. Terutama, dalam konteks peningkatan kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.

“Inovasi di Kementerian Sosial yang sampai sekarang hanya bertumpu pada perbaikan data kemiskinan, menyebabkan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial cenderung diabaikan. Ditambah lagi kontroversialnya kebijakan Kementerian Sosial, yang menghentikan Bantuan Sosial Tunai (BST) yang menyasar pada 9 juta KK miskin,” tutur Herry.

Gaya kepemimpinan Risma yang kurang humanis ketika berada di lapangan, juga dinilai tidak memberikan dampak pada akselerasi kinerja. “Misalnya, saat bencana banjir bandang di NTT. Ketika Risma sempat memarahi Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang hanya menjadi relawan sosial,” sambungnya.

Survei CISA terkait kinerja 6 menteri baru hasil reshuffle Kabinet Indoensia Maju pada 22 Desember 2020, mengambil ampel secara acak sistematis (systematic random sampling).

Sampel terdiri atas 1.600 responden (margin of error 2,5 persen dan tingkat kepercayaan di 95 persen).

Survei yang diselenggarakan pada 12-16 April 2021 ini dilakukan di 34 provinsi di seluruh Indonesia, melalui wawancara langsung, dengan menerapkan protokol kesehatan. [HES]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories