Sambut Musim Tanam Pupuk Indonesia Siapkan 1,5 Juta Ton Pupuk Subsidi

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi mengunjungi Pupuk Sriwidjaja Palembang (PSP) di Palembang, Sumatera Selatan, kemarin. Kunjungan tersebut untuk memastikan kesiapan produksi dan stok pupuk subsidi menyambut musim tanam kedua tahun ini.

“Saya senang bahwa apa yang disampaikan oleh direksi sesuai. Ketersediaan pupuk subsidi di Pusri dapat mendukung kebutuhan petani,” ujarnya, melalui siaran pers, Jumat (9/4). 

Sebelumnya, Harvick juga telah mengunjungi tiga produsen pupuk anggota holding Pupuk Indonesia lainnya, mulai dari Pupuk Kujang, Petrokimia Gresik, dan Pupuk Kalimantan Timur.

Di kesempatan yang sama, Direktur Keuangan & Investasi Pupuk Indonesia, Eko Taufik Wibowo menjelaskan, stok pupuk subsidi telah disiapkan di gudang lini 1 (produsen) sampai dengan lini 4 (kios resmi) sebanyak 1,5 juta ton. Menurutnya, jumlah ini cukup untuk alokasi selama enam minggu ke depan.

Selain itu, stok pupuk subsidi ini tersebar di seluruh Indonesia, terdiri dari pupuk Urea 689 ribu ton, NPK Phonska 304 ribu ton, ZA 198 ribu ton, SP-36 172 ribu ton, dan pupuk organik Petroganik 145 ribu ton. 

“Kami selalu berusaha memastikan penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan aturan pemerintah. Stok tersebut dua hingga tiga kali lipat lebih banyak dari stok minimum ketentuan pemerintah,” katanya.

Ia menambahkan, untuk membantu kelancaran penyaluran pupuk subsidi, pihaknya didukung jaringan distribusi yang luas, yaitu memiliki sembilan unit pengantongan, enam unit Distribution Center (DC), 203 kapal laut, 6.000 lebih truk, 595 gudang dengan kapasitas 3,1 juta ton, dan memiliki jaringan distributor sebanyak 1.200 dengan 29.000 lebih kios resmi.

“Pupuk Indonesia juga telah menerapkan teknologi digital 4.0 dalam pendistribusian pupuk, melalui sistem Distribution Planning and Control System (DPCS) yang dapat memonitor posisi pengiriman barang, dan memantau stok hingga ke level kios secara real time,” terangnya.  

Sebagai produsen, Pupuk Indonesia berkewajiban untuk menyalurkan pupuk subsidi sesuai alokasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Di mana pada tahun 2021 alokasi pupuk subsidi dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 49 Tahun 2020 sebesar 9,04 juta ton dan 1,5 juta liter pupuk organik cair.

Selain kewajiban menyalurkan pupuk subsidi, Pupuk Indonesia juga menyediakan stok pupuk non-subsidi yang saat ini berjumlah 834 ribu ton. “Upaya ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan petani yang belum ter-cover dalam skema pupuk subsidi,” akunya. 

Sementara itu, untuk memperkuat struktur bisnis perusahaan, Pupuk Indonesia melalui Pupuk Sriwidjaja Palembang akan melakukan revitalisasi pabrik Pusri IIIB, yang akan menggantikan pabrik pupuk urea Pusri III dan Pusri IV yang telah beroperasi sejak tahun 1976. 

“Tujuan revitalisasi pabrik ini adalah untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan,” katanya. 

Rencananya, pabrik Pusri IIIB akan beroperasi pada tahun 2024 dan memiliki kapasitas produksi pupuk urea sebesar 1,15 juta ton dan amoniak 660 ribu ton per tahun. Bahkan, pabrik ini juga akan menggunakan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam konsumsi gas bumi.

“Dari konsumsi bahan baku pada pabrik baru ini, kami prediksi nilai efisiensinya mencapai Rp 1,5 triliun per tahun,” tutupnya. [IMA]

]]> Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi mengunjungi Pupuk Sriwidjaja Palembang (PSP) di Palembang, Sumatera Selatan, kemarin. Kunjungan tersebut untuk memastikan kesiapan produksi dan stok pupuk subsidi menyambut musim tanam kedua tahun ini.

“Saya senang bahwa apa yang disampaikan oleh direksi sesuai. Ketersediaan pupuk subsidi di Pusri dapat mendukung kebutuhan petani,” ujarnya, melalui siaran pers, Jumat (9/4). 

Sebelumnya, Harvick juga telah mengunjungi tiga produsen pupuk anggota holding Pupuk Indonesia lainnya, mulai dari Pupuk Kujang, Petrokimia Gresik, dan Pupuk Kalimantan Timur.

Di kesempatan yang sama, Direktur Keuangan & Investasi Pupuk Indonesia, Eko Taufik Wibowo menjelaskan, stok pupuk subsidi telah disiapkan di gudang lini 1 (produsen) sampai dengan lini 4 (kios resmi) sebanyak 1,5 juta ton. Menurutnya, jumlah ini cukup untuk alokasi selama enam minggu ke depan.

Selain itu, stok pupuk subsidi ini tersebar di seluruh Indonesia, terdiri dari pupuk Urea 689 ribu ton, NPK Phonska 304 ribu ton, ZA 198 ribu ton, SP-36 172 ribu ton, dan pupuk organik Petroganik 145 ribu ton. 

“Kami selalu berusaha memastikan penyaluran pupuk bersubsidi sesuai dengan aturan pemerintah. Stok tersebut dua hingga tiga kali lipat lebih banyak dari stok minimum ketentuan pemerintah,” katanya.

Ia menambahkan, untuk membantu kelancaran penyaluran pupuk subsidi, pihaknya didukung jaringan distribusi yang luas, yaitu memiliki sembilan unit pengantongan, enam unit Distribution Center (DC), 203 kapal laut, 6.000 lebih truk, 595 gudang dengan kapasitas 3,1 juta ton, dan memiliki jaringan distributor sebanyak 1.200 dengan 29.000 lebih kios resmi.

“Pupuk Indonesia juga telah menerapkan teknologi digital 4.0 dalam pendistribusian pupuk, melalui sistem Distribution Planning and Control System (DPCS) yang dapat memonitor posisi pengiriman barang, dan memantau stok hingga ke level kios secara real time,” terangnya.  

Sebagai produsen, Pupuk Indonesia berkewajiban untuk menyalurkan pupuk subsidi sesuai alokasi yang ditetapkan oleh pemerintah. Di mana pada tahun 2021 alokasi pupuk subsidi dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 49 Tahun 2020 sebesar 9,04 juta ton dan 1,5 juta liter pupuk organik cair.

Selain kewajiban menyalurkan pupuk subsidi, Pupuk Indonesia juga menyediakan stok pupuk non-subsidi yang saat ini berjumlah 834 ribu ton. “Upaya ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan petani yang belum ter-cover dalam skema pupuk subsidi,” akunya. 

Sementara itu, untuk memperkuat struktur bisnis perusahaan, Pupuk Indonesia melalui Pupuk Sriwidjaja Palembang akan melakukan revitalisasi pabrik Pusri IIIB, yang akan menggantikan pabrik pupuk urea Pusri III dan Pusri IV yang telah beroperasi sejak tahun 1976. 

“Tujuan revitalisasi pabrik ini adalah untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan,” katanya. 

Rencananya, pabrik Pusri IIIB akan beroperasi pada tahun 2024 dan memiliki kapasitas produksi pupuk urea sebesar 1,15 juta ton dan amoniak 660 ribu ton per tahun. Bahkan, pabrik ini juga akan menggunakan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam konsumsi gas bumi.

“Dari konsumsi bahan baku pada pabrik baru ini, kami prediksi nilai efisiensinya mencapai Rp 1,5 triliun per tahun,” tutupnya. [IMA]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories