Sambangi Kawasan Industri Teluk Weda Kepala BKPM: Isu Buruh Asing Lebay

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia memastikan lapangan pekerjaan di Kawasan Industri Teluk Weda (Indonesia Weda Bay Industrial Park/IWIP) sebagian besar, diisi tenaga kerja lokal.

Hal itu disampaikan Bahlil sete­lah dirinya mengecek langsung ke IWIP di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Jumat (19/2). Keterangan ini disam­paikannya untuk meluruskan isu yang menyebut jumlah tenaga kerja asing (TKA) mendominasi lapangan kerja di IWIP.

Mantan ketua umum Himpu­nan Pengusaha Muda Indonesia itu menjelaskan, dirinya ke IWIP mengecek kualitas investasi dan penyerapan tenaga kerja.

“Saya datang untuk memasti­kan bahwa investasi berkualitas. Kenapa? Lapangan pekerjaan­nya, harus didorong sebanyak-banyaknya untuk tenaga kerja lokal. Serta, melibatkan pengusaha nasional, pengusaha nasional yang ada di daerah, dan pelaku UMKM (Usaha, Mikro Kecil),” kata Bahlil ke­pada Rakyat Merdeka di Jakarta, Minggu (21/2).

Untuk diketahui, Maluku Utara diplot menjadi pusat hilirisasi nikel. Selain ada IWIP dan Antam, nantinya di sana akan ada LG dan Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL). Presiden Joko Widodo menetapkan IWIP sebagai salah satu dari 9 kawasan industri prioritas nasional di luar Pulau Jawa pada 17 Januari 2020.

Selain ngecek IWIP, Bahlil menggelar pertemuan dengan Bupati Halmahera Tengah Edi Langkara, Direktur Utama IWIP Xiang Binghe, dan tokoh masyarakat di sana.

Dari pertemuan itu, Bahlil mengantongi banyak data. Pertama, saat ini total tenaga kerja di IWIP sekitar 18.500, termasuk kontraktor tambang. Sedangkan TKA-nya tidak lebih dari 2.200 orang. Kedua, ele­men masyarakat di Halmahera Tengah merasa puas karena banyak tenaga kerja lokal. Se­hingga, tidak benar jika ada yang menggiring opini TKA di IWIP lebih dominan ketimbang yang lokal.

 

“Ini penting perlu saya lu­ruskan. Kita harus fair. harus ada transparansi. kalau me­mang investasi masuk masih ada kekurangan, ayo kita perbaiki bareng-bareng, kasih masukan yang konstruktif. Tapi kalau sudah bagus, jangan datanya dibalik-balik,” tegas Bahlil.

Untuk 2.200 TKA, lanjutnya, mereka memiliki job description spesifik seperti membangun kon­struksi, dan mesin berteknologi tinggi, yang memang belum bisa dilakukan tenaga kerja lokal.

“Nggak ada TKA menempati buruh kasar. Terlalu lebay (yang menggulirkan isu). Saya ke sana, ngecek sendiri,” cetusnya.

Bahlil menuding, isu TKA dimainkan karena ada pihak yang tidak senang melihat In­donesia maju. Mengingat, saat ini pemerintah tengah menata hilirisasi industri.

Apakah ada kaitannya dengan gugatan Uni Eropa ke Organisasi Perdagangan Internasional (World Trade Organization/WTO)? Bahlil enggan berspekulasi.

Dia menuturkan, Indonesia merupakan produsen stainless steel terbesar kedua di dunia. 23 persen total cadangan ore nikel ada di Indonesia, begitu juga dengan bahan baku baterai yang 80 persennya ada di Tanah Air. “Mungkin saja, Benua Biru (Eropa-red) ingin Indonesia tetap mengekspor bahan men­tah,” ujarnya.

Direktur Utama IWIP Xiang Binghe mengatakan, perkem­bangan proyek smelter di Ka­wasan IWIP saat ini sudah dalam tahap konstruksi dan produksi.

“Saya berterima kasih kepada Pak Bahlil dan timnya yang telah banyak support kami sehingga progress proyek kami bisa berjalan cepat selama 20 bulan belakangan,” kata Binghe. [MEN]

]]> Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia memastikan lapangan pekerjaan di Kawasan Industri Teluk Weda (Indonesia Weda Bay Industrial Park/IWIP) sebagian besar, diisi tenaga kerja lokal.

Hal itu disampaikan Bahlil sete­lah dirinya mengecek langsung ke IWIP di Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Jumat (19/2). Keterangan ini disam­paikannya untuk meluruskan isu yang menyebut jumlah tenaga kerja asing (TKA) mendominasi lapangan kerja di IWIP.

Mantan ketua umum Himpu­nan Pengusaha Muda Indonesia itu menjelaskan, dirinya ke IWIP mengecek kualitas investasi dan penyerapan tenaga kerja.

“Saya datang untuk memasti­kan bahwa investasi berkualitas. Kenapa? Lapangan pekerjaan­nya, harus didorong sebanyak-banyaknya untuk tenaga kerja lokal. Serta, melibatkan pengusaha nasional, pengusaha nasional yang ada di daerah, dan pelaku UMKM (Usaha, Mikro Kecil),” kata Bahlil ke­pada Rakyat Merdeka di Jakarta, Minggu (21/2).

Untuk diketahui, Maluku Utara diplot menjadi pusat hilirisasi nikel. Selain ada IWIP dan Antam, nantinya di sana akan ada LG dan Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL). Presiden Joko Widodo menetapkan IWIP sebagai salah satu dari 9 kawasan industri prioritas nasional di luar Pulau Jawa pada 17 Januari 2020.

Selain ngecek IWIP, Bahlil menggelar pertemuan dengan Bupati Halmahera Tengah Edi Langkara, Direktur Utama IWIP Xiang Binghe, dan tokoh masyarakat di sana.

Dari pertemuan itu, Bahlil mengantongi banyak data. Pertama, saat ini total tenaga kerja di IWIP sekitar 18.500, termasuk kontraktor tambang. Sedangkan TKA-nya tidak lebih dari 2.200 orang. Kedua, ele­men masyarakat di Halmahera Tengah merasa puas karena banyak tenaga kerja lokal. Se­hingga, tidak benar jika ada yang menggiring opini TKA di IWIP lebih dominan ketimbang yang lokal.

 

“Ini penting perlu saya lu­ruskan. Kita harus fair. harus ada transparansi. kalau me­mang investasi masuk masih ada kekurangan, ayo kita perbaiki bareng-bareng, kasih masukan yang konstruktif. Tapi kalau sudah bagus, jangan datanya dibalik-balik,” tegas Bahlil.

Untuk 2.200 TKA, lanjutnya, mereka memiliki job description spesifik seperti membangun kon­struksi, dan mesin berteknologi tinggi, yang memang belum bisa dilakukan tenaga kerja lokal.

“Nggak ada TKA menempati buruh kasar. Terlalu lebay (yang menggulirkan isu). Saya ke sana, ngecek sendiri,” cetusnya.

Bahlil menuding, isu TKA dimainkan karena ada pihak yang tidak senang melihat In­donesia maju. Mengingat, saat ini pemerintah tengah menata hilirisasi industri.

Apakah ada kaitannya dengan gugatan Uni Eropa ke Organisasi Perdagangan Internasional (World Trade Organization/WTO)? Bahlil enggan berspekulasi.

Dia menuturkan, Indonesia merupakan produsen stainless steel terbesar kedua di dunia. 23 persen total cadangan ore nikel ada di Indonesia, begitu juga dengan bahan baku baterai yang 80 persennya ada di Tanah Air. “Mungkin saja, Benua Biru (Eropa-red) ingin Indonesia tetap mengekspor bahan men­tah,” ujarnya.

Direktur Utama IWIP Xiang Binghe mengatakan, perkem­bangan proyek smelter di Ka­wasan IWIP saat ini sudah dalam tahap konstruksi dan produksi.

“Saya berterima kasih kepada Pak Bahlil dan timnya yang telah banyak support kami sehingga progress proyek kami bisa berjalan cepat selama 20 bulan belakangan,” kata Binghe. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories