Sabam Sirait: Yang Gulirkan Isu Presiden 3 Periode Ingin Ganggu Stabilitas Nasional

Wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi maksimal tiga periode terus. Padahal Presiden Jokowi sudah mengatakan bahwa pihak-pihak yang mengusulkan tiga periode jabatan Presiden hanya mencari muka atau menjeremuskan dirinya.

Melihat hal ini, politisi senior Sabam Sirait ikut bersuara. Tokoh nasional pro-demokrasi yang sudah berpolitik sejak zaman Presiden Soekarno hingga Presiden Jokowi ini, menilai wacana periodesasi masa jabatan presiden hingga tiga kali menjabat ini disuarakan untuk mengganggu stabilitas nasional.

“Ingin mengganggu stabilitas saja. Bukan hanya politik, tapi bisa juga ke mana-mana,” kata anggota DPD dari daerah pemilihan DKI Jakarta dan juga anggota MPR paling senior ini, Kamis (25/3).

Penulis buku “Meniti Demokrasi Indonesia” dan “Politik Itu Suci” ini menekankan juga, pihak-pihak yang mau jabatan presiden tiga periode itu bisa menghambat proses demokratisasi. Sabam sangat setuju bahwa masa jabatan presiden yang UUD 1945 berlaku dua periode sudah cukup ideal dan tidak perlu diubah.

“Wacana presiden tiga periode hanya mau bikin kacau saja. Buat apa ada wacana tiga periode. Dua periode sudah cukup,” kata politisi yang berani interupsi di DPR ketika rezim Soeharto begitu berkuasa.

Isu perpanjangan jabatan presiden menjadi 3 periode diembuskan pendiri Partai Ummat, Amien Rais. Amien menuding ada skenario untuk mengubah ketentuan dalam UUD 1945 soal masa jabatan presiden dari 2 periode menjadi 3 periode.

Sementara itu, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, menilai ada pihak lain yang sebenarnya ingin perubahan jabatan presiden, tetapi mendompleng Presiden Jokowi. Megawati juga bicara tentang politik tingkat tinggi berbasis nilai dan rakyat yang harus dipegang teguh para politikus.

Presiden ke-5 RI ini menyindir pihak-pihak yang getol meributkan amendemen UUD 45 terkait jabatan presiden menjadi tiga periode. Wacana yang muncul mendorong Presiden Jokowi untuk maju memimpin Indonesia untuk tiga periode–yang berulang-ulang ditolak Jokowi.

“(Jokowi) berkeinginan katanya tiga periode. Yang omong itu yang kepengen sebetulnya. Siapa tahu suatu saat dia bisa tiga periode,” kata Mega saat meluncurkan buku “Merawat Pertiwi, Jalan Megawati Soekarnoputri Melestarikan Alam”, yang dipusatkan di Kantor DPP DIP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu (24/3).

Mega menilai, tudingan itu tidaklah berdasar karena aturan main sudah ada, yang diatur di dalam konstitusi maupun undang-undang. Presiden pun tak bisa begitu saja mengubah isi UUD 1945. “Memang Presiden bisa mengubah keputusan secara konstitusi? Kan tidak,” kata Mega. [USU]

]]> Wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi maksimal tiga periode terus. Padahal Presiden Jokowi sudah mengatakan bahwa pihak-pihak yang mengusulkan tiga periode jabatan Presiden hanya mencari muka atau menjeremuskan dirinya.

Melihat hal ini, politisi senior Sabam Sirait ikut bersuara. Tokoh nasional pro-demokrasi yang sudah berpolitik sejak zaman Presiden Soekarno hingga Presiden Jokowi ini, menilai wacana periodesasi masa jabatan presiden hingga tiga kali menjabat ini disuarakan untuk mengganggu stabilitas nasional.

“Ingin mengganggu stabilitas saja. Bukan hanya politik, tapi bisa juga ke mana-mana,” kata anggota DPD dari daerah pemilihan DKI Jakarta dan juga anggota MPR paling senior ini, Kamis (25/3).

Penulis buku “Meniti Demokrasi Indonesia” dan “Politik Itu Suci” ini menekankan juga, pihak-pihak yang mau jabatan presiden tiga periode itu bisa menghambat proses demokratisasi. Sabam sangat setuju bahwa masa jabatan presiden yang UUD 1945 berlaku dua periode sudah cukup ideal dan tidak perlu diubah.

“Wacana presiden tiga periode hanya mau bikin kacau saja. Buat apa ada wacana tiga periode. Dua periode sudah cukup,” kata politisi yang berani interupsi di DPR ketika rezim Soeharto begitu berkuasa.

Isu perpanjangan jabatan presiden menjadi 3 periode diembuskan pendiri Partai Ummat, Amien Rais. Amien menuding ada skenario untuk mengubah ketentuan dalam UUD 1945 soal masa jabatan presiden dari 2 periode menjadi 3 periode.

Sementara itu, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, menilai ada pihak lain yang sebenarnya ingin perubahan jabatan presiden, tetapi mendompleng Presiden Jokowi. Megawati juga bicara tentang politik tingkat tinggi berbasis nilai dan rakyat yang harus dipegang teguh para politikus.

Presiden ke-5 RI ini menyindir pihak-pihak yang getol meributkan amendemen UUD 45 terkait jabatan presiden menjadi tiga periode. Wacana yang muncul mendorong Presiden Jokowi untuk maju memimpin Indonesia untuk tiga periode–yang berulang-ulang ditolak Jokowi.

“(Jokowi) berkeinginan katanya tiga periode. Yang omong itu yang kepengen sebetulnya. Siapa tahu suatu saat dia bisa tiga periode,” kata Mega saat meluncurkan buku “Merawat Pertiwi, Jalan Megawati Soekarnoputri Melestarikan Alam”, yang dipusatkan di Kantor DPP DIP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu (24/3).

Mega menilai, tudingan itu tidaklah berdasar karena aturan main sudah ada, yang diatur di dalam konstitusi maupun undang-undang. Presiden pun tak bisa begitu saja mengubah isi UUD 1945. “Memang Presiden bisa mengubah keputusan secara konstitusi? Kan tidak,” kata Mega. [USU]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories