Rupiah Loyo Lagi, Vitamin BI Belum Manjur

Rupiah kembali loyo. Pagi ini nilai tukar rupiah dibuka kembali melemah sebesar 0,14 persen ke level Rp 14.430 per dolar AS jika dibandingan perdagangan kemarin di level Rp 14.410 per dolar AS.

Indeks dolar AS terpantau menguat 0,16 persen ke level 91.580. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro minus cukup dalam sebesar 1,06 persen ke level Rp 17.143, terhadap dolar Australia juga melemah 0,76 persen ke level Rp 11.138 dan terhadap yuan China melemah 1,01 persen ke level Rp 2.209.

Pengamat Pasar Keuangan Ariston Tjendra mengatakan, hari ini mata uang Garuda masih sangat fluktuatif, bahkan cenderung melemah terhadap dolar AS, lantaran melonjaknya kembali tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, terutama yang bertenor 10 tahun.

Ariston bilang, yield obligasi AS tenor 10 tahun ini kemarin membentuk level tertinggi baru tahun ini di kisaran 1,75 persen. “Dalam 14 bulan, kenaikan ini merupakan level tertinggi. Tadi saja yield masih bertengger di angka 1,71 persen,” katanya dalam riset, Jumat (19/3).

Ia mengatakan, ekspektasi kenaikan inflasi di atas 2 persen di AS, menurutnya menjadi pemicu kenaikan yield tersebut. Selanjutnya, Kenaikan yield tersebut mendorong penguatan dolar AS.

Sementara, hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia kemarin menahan BI-7 Day Reverse Repo (repo rate) di level 3,5 persen hanya sesaat mendongkrak rupiah pada penutupan kemarin. Di mana rupiah ditutup menguat 0,12 persen di level Rp 14.410 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya Rp 14.427 per dollar AS.

“Hari ini rupiah berpotensi tertekan di kisaran Rp 14.465 per dolar AS dengan support di kisaran Rp 14.400 per dolar AS,” pungkasnya. [DWI]

]]> Rupiah kembali loyo. Pagi ini nilai tukar rupiah dibuka kembali melemah sebesar 0,14 persen ke level Rp 14.430 per dolar AS jika dibandingan perdagangan kemarin di level Rp 14.410 per dolar AS.

Indeks dolar AS terpantau menguat 0,16 persen ke level 91.580. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro minus cukup dalam sebesar 1,06 persen ke level Rp 17.143, terhadap dolar Australia juga melemah 0,76 persen ke level Rp 11.138 dan terhadap yuan China melemah 1,01 persen ke level Rp 2.209.

Pengamat Pasar Keuangan Ariston Tjendra mengatakan, hari ini mata uang Garuda masih sangat fluktuatif, bahkan cenderung melemah terhadap dolar AS, lantaran melonjaknya kembali tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, terutama yang bertenor 10 tahun.

Ariston bilang, yield obligasi AS tenor 10 tahun ini kemarin membentuk level tertinggi baru tahun ini di kisaran 1,75 persen. “Dalam 14 bulan, kenaikan ini merupakan level tertinggi. Tadi saja yield masih bertengger di angka 1,71 persen,” katanya dalam riset, Jumat (19/3).

Ia mengatakan, ekspektasi kenaikan inflasi di atas 2 persen di AS, menurutnya menjadi pemicu kenaikan yield tersebut. Selanjutnya, Kenaikan yield tersebut mendorong penguatan dolar AS.

Sementara, hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia kemarin menahan BI-7 Day Reverse Repo (repo rate) di level 3,5 persen hanya sesaat mendongkrak rupiah pada penutupan kemarin. Di mana rupiah ditutup menguat 0,12 persen di level Rp 14.410 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya Rp 14.427 per dollar AS.

“Hari ini rupiah berpotensi tertekan di kisaran Rp 14.465 per dolar AS dengan support di kisaran Rp 14.400 per dolar AS,” pungkasnya. [DWI]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories