RT LAMP Percepat Testing Virus Corona .

Indonesia kembali menciptakan alat skrining Covid-19. Namanya, Reverse Transcription Loop Mediated Isothermal Amplification (RT LAMP). Alat ini diyakini bisa meningkat­kan tracing dan testing. Target testing satu juta per hari akan tercapai.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengapresiasi inovasi RT LAMP yang merupakan terobosan dari PT Kalbe Farma.

RT LAMP adalah salah satu alat skrining Covid-19 yang mendeteksi virus pada air liur atau sa­liva, dan dapat dilakukan untuk keperluan tracing dan testing.

Menurut Bambang, terobo­san ini penting untuk meningkatkan kapasitas testing, yang selama ini masih jadi masalah di Indonesia.

Tingkat testing menentukan kesuksesan mengendalikan Covid-19.

“Semakin banyak testing, semakin banyak kita bisa mengidentifikasi orang yang positif,” ujar Bambang saat konferensi pers virtual di Jakarta, kemarin.

RT LAMP juga bisa berguna untuk menjangkau beberapa daerah yang masih kesulitan melakukan tracing dan testing. Salah satunya, di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di wilayah itu, butuh waktu sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil pemeriksaan Covid-19 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).

Ini terjadi karena terbatasnya laboratorium yang mampu mengecek hasil dari pengetesan RT PCR.

“Sampel swab yang diambil dari suatu kota itu harus diba­wa ke lab-nya dulu yang ada di Kupang,” tutur eks Menteri Keuangan (Menkeu) itu.

Nah, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 bisa mengintervensi daerah mana saja yang jangkauan RT PCR-nya terbatas, serta antrean dan waktu tunggunya panjang dengan RT LAMP, yang diklaim jauh lebih baik dibandingkan rapid antigen yang mendeteksi protein virus.

 

RT LAMP, disebut Bambang, memiliki sensitivitas hingga 94 persen dan spesifisitas mencapai 98 persen, setara dengan RT PCR.

“Artinya, posisi RT LAMP ini sebagai pelengkap dari adanya RT PCR,” tutur Bambang.

Apalagi harga pengetesan RT LAMP, menurut Bambang, bisa lebih murah dibandingkan RT PCR. “Kira-kira harganya separuh dari harganya pemeriksaan RT PCR,” bebernya.

Persisnya, alat tes ini dihargai Rp 488 ribu per paket. Untuk harga awal, Kalbe membanderol harga khusus Rp 400 ribu per paket hingga 31 Maret 2021.

Selain itu, Bambang menambahkan, pemeriksaan dengan metode pengambilan lewat air liur atau saliva sudah dilaksanakan di berbagai negara. Bahkan sejak tahun lalu. Di antaranya, Amerika Serikat, Spanyol, Thailand, Jepang dan Malaysia.

Alat yang digunakan untuk mengambil sampel tes PCR dan tes Saliva ini berbeda. Tes swab PCR harus menggunakan Q-tip atau cotton bud panjang dimasukkan ke belakang lubang hidung dan tenggorokan lalu diputar.

Tes swab PCR ini dalam dunia medis sering disebut metode invasive. Sedangkan pada tes saliva, metodenya non invasive alias tanpa alat.

Sampel air liur diambil tanpa memasukkan alat ke dalam rongga tubuh manusia. Cukup meludah ke wadah kecil. Setelah itu, sampel tersebut dianalisis.

Meski sudah nyaris sempurna, Bambang meminta Kalbe Farma untuk tetap melakukan pengamatan dan pengujian ter­hadap validitas alat ini.

Sementara, peneliti RT LAMP, Akterono D Budiyati mengatakan, alat ini bisa mendeteksi varian baru Covid-19 B117 asal Inggris.

“Sudah kami coba dan alat kami bisa deteksi virus dengan jenis varian tersebut,” ujarnya. [DIR]

]]> .
Indonesia kembali menciptakan alat skrining Covid-19. Namanya, Reverse Transcription Loop Mediated Isothermal Amplification (RT LAMP). Alat ini diyakini bisa meningkat­kan tracing dan testing. Target testing satu juta per hari akan tercapai.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang PS Brodjonegoro mengapresiasi inovasi RT LAMP yang merupakan terobosan dari PT Kalbe Farma.

RT LAMP adalah salah satu alat skrining Covid-19 yang mendeteksi virus pada air liur atau sa­liva, dan dapat dilakukan untuk keperluan tracing dan testing.

Menurut Bambang, terobo­san ini penting untuk meningkatkan kapasitas testing, yang selama ini masih jadi masalah di Indonesia.

Tingkat testing menentukan kesuksesan mengendalikan Covid-19.

“Semakin banyak testing, semakin banyak kita bisa mengidentifikasi orang yang positif,” ujar Bambang saat konferensi pers virtual di Jakarta, kemarin.

RT LAMP juga bisa berguna untuk menjangkau beberapa daerah yang masih kesulitan melakukan tracing dan testing. Salah satunya, di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di wilayah itu, butuh waktu sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil pemeriksaan Covid-19 dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).

Ini terjadi karena terbatasnya laboratorium yang mampu mengecek hasil dari pengetesan RT PCR.

“Sampel swab yang diambil dari suatu kota itu harus diba­wa ke lab-nya dulu yang ada di Kupang,” tutur eks Menteri Keuangan (Menkeu) itu.

Nah, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 bisa mengintervensi daerah mana saja yang jangkauan RT PCR-nya terbatas, serta antrean dan waktu tunggunya panjang dengan RT LAMP, yang diklaim jauh lebih baik dibandingkan rapid antigen yang mendeteksi protein virus.

 

RT LAMP, disebut Bambang, memiliki sensitivitas hingga 94 persen dan spesifisitas mencapai 98 persen, setara dengan RT PCR.

“Artinya, posisi RT LAMP ini sebagai pelengkap dari adanya RT PCR,” tutur Bambang.

Apalagi harga pengetesan RT LAMP, menurut Bambang, bisa lebih murah dibandingkan RT PCR. “Kira-kira harganya separuh dari harganya pemeriksaan RT PCR,” bebernya.

Persisnya, alat tes ini dihargai Rp 488 ribu per paket. Untuk harga awal, Kalbe membanderol harga khusus Rp 400 ribu per paket hingga 31 Maret 2021.

Selain itu, Bambang menambahkan, pemeriksaan dengan metode pengambilan lewat air liur atau saliva sudah dilaksanakan di berbagai negara. Bahkan sejak tahun lalu. Di antaranya, Amerika Serikat, Spanyol, Thailand, Jepang dan Malaysia.

Alat yang digunakan untuk mengambil sampel tes PCR dan tes Saliva ini berbeda. Tes swab PCR harus menggunakan Q-tip atau cotton bud panjang dimasukkan ke belakang lubang hidung dan tenggorokan lalu diputar.

Tes swab PCR ini dalam dunia medis sering disebut metode invasive. Sedangkan pada tes saliva, metodenya non invasive alias tanpa alat.

Sampel air liur diambil tanpa memasukkan alat ke dalam rongga tubuh manusia. Cukup meludah ke wadah kecil. Setelah itu, sampel tersebut dianalisis.

Meski sudah nyaris sempurna, Bambang meminta Kalbe Farma untuk tetap melakukan pengamatan dan pengujian ter­hadap validitas alat ini.

Sementara, peneliti RT LAMP, Akterono D Budiyati mengatakan, alat ini bisa mendeteksi varian baru Covid-19 B117 asal Inggris.

“Sudah kami coba dan alat kami bisa deteksi virus dengan jenis varian tersebut,” ujarnya. [DIR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories