Romo Benny: Lawan Ideologi Kematian, Aparat Kudu Rajin Patroli Di Medsos

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Romo Antonius Benny Susetyo menyebut, serangkaian aksi kekerasan yang terjadi bukti bahwa aksi terorisme masih berkembang di Tanah Air. Aksi bom bunuh diri ini sudah menjadi sebuah budaya yang disebut dengan  budaya kematian.

“Budaya kematian (Culture of Death) adalah suatu budaya yang tidak lagi bersahabat dengan sistem kehidupan manusia dengan menempatkan manusia pada posisi objek yang bisa memusnahkan kehidupan,” kata Romo Benny dalam keterangan tertulisnya kepada RM.id, Sabtu (3/4).

Persoalan kekerasan yang berkaitan dengan budaya kematian, kata Romo Benny, berhubungan pula dengan eksistensi manusia yang mencari jati dirinya. Ketika seseorang mecari jati diri dan bertemu dengan orang atau lingkungan yang tidak seharusnya, akan mempengaruhi pemikiran dan sikap seseorang baik akan digunakan untuk kepentingan perebutan kekuasaan, kepentingan polotik, kepentingan individu sepetti yakin akan mendapatkan surga.

Ditambah lagi di era digitalisasi saat ini, menyebabkan makin hilangnya kesadaran yang digantikan dengan kesadaran palsu. Munculnya kesadaran palsu ini menjanjikan ideologi kematian yang diartikan dapat memecahkan masalah dari mulai kefrustasian, kesenjangan sosial, dan luka batin.

“Padahal orang yang menyakiti sesamanya adalah orang yang melukai wajah Tuhan,” ungkapnya.

Jalan maut ini, tambah Romo Benny, dapat masuk melalui media sosial, rekruitmen, dan lewat celah lainnya. “Kesadaran palsu ini diyakini sebagai cara untuk mendapatkan surga yang semu. Dalam hal ini bangsa mengalami kegagapan dan cara satu-satunya adalah menciptakan kesadaran kritis melalui pendidikan kritis,” tambahnya.

Ada beberapa cara untuk melawan budaya kematian ini. Yakni dengan memperkuat idoelogi Pancasila yang ditanamkan dalam cara berpikir, bertindak, bernalar, dan berelasi.

“Sudah banyak orang yang terpapar budaya kematian ini sadar dan kembali kepada jalan yang seharusnya. Inilah yang harus ditampilkan kepada publik untuk mendeskripsikan bagaimana bahaya budaya kematian ini,” tegasnya.

Seain itu, harus dilakukan patoroli atau pengawasan di media sosial terhadap konten-konten negatif yang bermuatan atau mengarah kepada budaya kematian ini. Jangan berikan ruang dan masyarakat harus aktif melaporkan jika menemukan konten kekerasan berisi ideologi kematian.

“Baiknya masyarakat juga membuat konten tandingan yaitu konten positif guna mengisi ruang publik dengan hal yang bermanfaat. Masyarakat harus bijak dalam mengolah informasi dan waspada terhadap budaya kematian,” sarannya.

Belum lama ini terjadi dua peristiwa memilukan di negara kita tercinta. Pertama adalah bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katderal Makassar dan kedua adalah aksi teror penyerangan yang terjadi di Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri). Aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar yang terjadi pada Hari Minggu 28 Maret 2021 itu setidaknya menyebabkan 20 orang mengalami luka-luka dan 2 pelaku tewas seketika di tempat.

Sedangkan aksi penyerangan di Mabes Polri pada Rabu, 31 Maret kemarin menggemparkan publik. Seorang perempuan, tiba-tiba mendatangi kompleks Mabes Polri dan melakukan penembakan terhadap anggota Polri. Polisi pun berhasil melumpuhkan pelaku dengan menembakan di bagian jantung yang membuat tewas di tempat. [FAQ]

]]> Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Romo Antonius Benny Susetyo menyebut, serangkaian aksi kekerasan yang terjadi bukti bahwa aksi terorisme masih berkembang di Tanah Air. Aksi bom bunuh diri ini sudah menjadi sebuah budaya yang disebut dengan  budaya kematian.

“Budaya kematian (Culture of Death) adalah suatu budaya yang tidak lagi bersahabat dengan sistem kehidupan manusia dengan menempatkan manusia pada posisi objek yang bisa memusnahkan kehidupan,” kata Romo Benny dalam keterangan tertulisnya kepada RM.id, Sabtu (3/4).

Persoalan kekerasan yang berkaitan dengan budaya kematian, kata Romo Benny, berhubungan pula dengan eksistensi manusia yang mencari jati dirinya. Ketika seseorang mecari jati diri dan bertemu dengan orang atau lingkungan yang tidak seharusnya, akan mempengaruhi pemikiran dan sikap seseorang baik akan digunakan untuk kepentingan perebutan kekuasaan, kepentingan polotik, kepentingan individu sepetti yakin akan mendapatkan surga.

Ditambah lagi di era digitalisasi saat ini, menyebabkan makin hilangnya kesadaran yang digantikan dengan kesadaran palsu. Munculnya kesadaran palsu ini menjanjikan ideologi kematian yang diartikan dapat memecahkan masalah dari mulai kefrustasian, kesenjangan sosial, dan luka batin.

“Padahal orang yang menyakiti sesamanya adalah orang yang melukai wajah Tuhan,” ungkapnya.

Jalan maut ini, tambah Romo Benny, dapat masuk melalui media sosial, rekruitmen, dan lewat celah lainnya. “Kesadaran palsu ini diyakini sebagai cara untuk mendapatkan surga yang semu. Dalam hal ini bangsa mengalami kegagapan dan cara satu-satunya adalah menciptakan kesadaran kritis melalui pendidikan kritis,” tambahnya.

Ada beberapa cara untuk melawan budaya kematian ini. Yakni dengan memperkuat idoelogi Pancasila yang ditanamkan dalam cara berpikir, bertindak, bernalar, dan berelasi.

“Sudah banyak orang yang terpapar budaya kematian ini sadar dan kembali kepada jalan yang seharusnya. Inilah yang harus ditampilkan kepada publik untuk mendeskripsikan bagaimana bahaya budaya kematian ini,” tegasnya.

Seain itu, harus dilakukan patoroli atau pengawasan di media sosial terhadap konten-konten negatif yang bermuatan atau mengarah kepada budaya kematian ini. Jangan berikan ruang dan masyarakat harus aktif melaporkan jika menemukan konten kekerasan berisi ideologi kematian.

“Baiknya masyarakat juga membuat konten tandingan yaitu konten positif guna mengisi ruang publik dengan hal yang bermanfaat. Masyarakat harus bijak dalam mengolah informasi dan waspada terhadap budaya kematian,” sarannya.

Belum lama ini terjadi dua peristiwa memilukan di negara kita tercinta. Pertama adalah bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katderal Makassar dan kedua adalah aksi teror penyerangan yang terjadi di Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri). Aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar yang terjadi pada Hari Minggu 28 Maret 2021 itu setidaknya menyebabkan 20 orang mengalami luka-luka dan 2 pelaku tewas seketika di tempat.

Sedangkan aksi penyerangan di Mabes Polri pada Rabu, 31 Maret kemarin menggemparkan publik. Seorang perempuan, tiba-tiba mendatangi kompleks Mabes Polri dan melakukan penembakan terhadap anggota Polri. Polisi pun berhasil melumpuhkan pelaku dengan menembakan di bagian jantung yang membuat tewas di tempat. [FAQ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories