RM Eksklusif Temani Menkes Ke RS Sulianti Saroso 70 Persen Pasien Di ICU Belum Divaksin, Tuh Kan…

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin kembali mengingatkan pentingnya vaksinasi Covid-19. Menurutnya, vaksin masih efektif meningkatkan kekebalan tubuh untuk melawan varian Omicron. Dari hasil pemantauan di RS Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara, kebanyakan pasien yang dirawat di ICU adalah mereka yang belum divaksin. Tuh kan…

Hal tersebut disampaikan Budi, usai meninjau fasilitas penanganan Covid-19, di RSPI Sulianti Saroso, kemarin. Dalam kunjungan ini, Menkes yang hanya didampingi dua orang stafnya, menerapkan prokes sangat ketat. Rakyat Merdeka ikut mendampingi kunjungan ini.

Komunikasi dengan dokter dan tenaga kesehatan yang merawat dan memonitor pasien Covid, dilakukan dari ruang pemantauan perawatan. Selain menanyakan kondisi pasien secara umum dan gejala orang-orang yang dirawat beserta status vaksinasinya, Menkes juga menyemangati para dokter dan nakes di instalasi penanganan Covid.

Usai berkeliling, Menkes lalu mengingatkan lagi pentingnya vaksin. “Kita bisa melihat, bahwa pasien Omicron yang dirawat di ICU, 70 persennya belum divaksin,” ucapnya.

Menkes berharap, fakta tersebut bisa menjadi contoh konkret yang dapat memotivasi orang-orang yang belum divaksin, agar segera disuntik kekebalan. Terutama, bagi para lansia. “Karena sekitar 60 persen pasien Covid yang dirawat di ruang ICU saat ini adalah kelompok lansia,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, Menkes meminta pihak rumah sakit secepatnya memeriksa varian Covid, begitu pasien masuk ruang perawatan. Tujuannya, untuk mengetahui apakah pasien Covid yang masuk memang terpapar varian Omicron atau varian lain. “Ini penting supaya penanganannya lebih tepat,” tambahnya.

Menkes menuturkan, situasi pandemi seperti ini pasti akan berulang. Apakah itu 50, 100, atau 10 tahun lagi. Karena itu, sebagai salah satu rumah sakit yang menjadi rujukan penanganan Covid nasional, Menkes berharap RSPI Sulianti Saroso bisa lebih sigap dan proaktif. Tak hanya sekadar bereaksi dalam menghadapi situasi pandemi.

“RSPI Sulianti Saroso harus terus menyiapkan diri, agar bisa mengantisipasi pandemi. Bukan hanya bereaksi. Karena kita lihat, pola penyebaran atau outbreak ini sebetulnya sudah dipahami dan dialami oleh RSPI Sulianti Saroso. Sehingga, kita bisa mewariskan ketahanan kesehatan yang lebih kuat kepada generasi mendatang,” tuturnya.

 

Sama seperti Menkes, epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman juga meminta kepada seluruh lapisan masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi dan tidak meremehkan bahaya varian Omicron. Dicky menuturkan, meskipun banyak yang terkena Omicron memiliki gejala ringan, namun varian itu tetap berpotensi membuat orang terkena gejala berat atau mengalami kematian dalam sejumlah kondisi tertentu.

Omicron juga memiliki dampak yang berbahaya, khususnya pada kelompok rentan seperti lansia, penderita komorbid, dan juga anak-anak. Dengan demikian, dia mengajak seluruh masyarakat untuk bekerja sama dan saling melindungi dengan segera melengkapi diri dengan dua dosis vaksin Covid-19 yang bisa didapat dari fasilitas kesehatan terdekat.

Selain melengkapi dosis vaksin, ia turut mengimbau kepada masyarakat yang belum sempat divaksin dan sudah terpapar Omicron untuk divaksinasi setidaknya dua pekan setelah melakukan isolasi mandiri. “Di sisi lain, adanya Omicron ini memang akan ada sebagian orang yang belum divaksinasi akhirnya terinfeksi. Bagi sebagian kecil yang penyintas dalam artian tidak mengalami long covid atau tidak mengalami fatalitas hingga meninggal, dia akan memiliki sedikit bekal imunitas. Tapi dia harus segera divaksinasi,” ujar dia.

Untuk pemerintah, guna mendukung perlindungan kekebalan dalam masyarakat terjaga, Dicky menyarankan segera mengejar cakupan vaksinasi setidaknya mencapai 80 persen secara nasional atau paling minimal dapat mencapai 70 persen. Supaya ketika terdapat pergerakan dari masyarakat, risiko penularan jauh lebih kecil.

Sedangkan pada vaksin penguat (booster), ia berharap pemerintah dapat memperluas cakupan setidaknya mencapai 50 persen dari total kelompok yang berisiko yang sudah menurun atau total secara umum dari populasi di Indonesia agar masyarakat dapat aman dan terlindungi. “Kelompok rentan harus diperkuat dengan penguat (booster). Semua harus kembali ke leadership dan strategi komunikasi bencana. Vaksinasi penguat (booster) saja Indonesia masih di bawah lima persen, masih rawan sekali dan potensi kematian tinggi, dua dosis saja kurang di luar Jawa-Bali, ini berisiko,” ucap dia. [BCG]

]]> Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin kembali mengingatkan pentingnya vaksinasi Covid-19. Menurutnya, vaksin masih efektif meningkatkan kekebalan tubuh untuk melawan varian Omicron. Dari hasil pemantauan di RS Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara, kebanyakan pasien yang dirawat di ICU adalah mereka yang belum divaksin. Tuh kan…

Hal tersebut disampaikan Budi, usai meninjau fasilitas penanganan Covid-19, di RSPI Sulianti Saroso, kemarin. Dalam kunjungan ini, Menkes yang hanya didampingi dua orang stafnya, menerapkan prokes sangat ketat. Rakyat Merdeka ikut mendampingi kunjungan ini.

Komunikasi dengan dokter dan tenaga kesehatan yang merawat dan memonitor pasien Covid, dilakukan dari ruang pemantauan perawatan. Selain menanyakan kondisi pasien secara umum dan gejala orang-orang yang dirawat beserta status vaksinasinya, Menkes juga menyemangati para dokter dan nakes di instalasi penanganan Covid.

Usai berkeliling, Menkes lalu mengingatkan lagi pentingnya vaksin. “Kita bisa melihat, bahwa pasien Omicron yang dirawat di ICU, 70 persennya belum divaksin,” ucapnya.

Menkes berharap, fakta tersebut bisa menjadi contoh konkret yang dapat memotivasi orang-orang yang belum divaksin, agar segera disuntik kekebalan. Terutama, bagi para lansia. “Karena sekitar 60 persen pasien Covid yang dirawat di ruang ICU saat ini adalah kelompok lansia,” imbuhnya.

Dalam kesempatan ini, Menkes meminta pihak rumah sakit secepatnya memeriksa varian Covid, begitu pasien masuk ruang perawatan. Tujuannya, untuk mengetahui apakah pasien Covid yang masuk memang terpapar varian Omicron atau varian lain. “Ini penting supaya penanganannya lebih tepat,” tambahnya.

Menkes menuturkan, situasi pandemi seperti ini pasti akan berulang. Apakah itu 50, 100, atau 10 tahun lagi. Karena itu, sebagai salah satu rumah sakit yang menjadi rujukan penanganan Covid nasional, Menkes berharap RSPI Sulianti Saroso bisa lebih sigap dan proaktif. Tak hanya sekadar bereaksi dalam menghadapi situasi pandemi.

“RSPI Sulianti Saroso harus terus menyiapkan diri, agar bisa mengantisipasi pandemi. Bukan hanya bereaksi. Karena kita lihat, pola penyebaran atau outbreak ini sebetulnya sudah dipahami dan dialami oleh RSPI Sulianti Saroso. Sehingga, kita bisa mewariskan ketahanan kesehatan yang lebih kuat kepada generasi mendatang,” tuturnya.

 

Sama seperti Menkes, epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman juga meminta kepada seluruh lapisan masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi dan tidak meremehkan bahaya varian Omicron. Dicky menuturkan, meskipun banyak yang terkena Omicron memiliki gejala ringan, namun varian itu tetap berpotensi membuat orang terkena gejala berat atau mengalami kematian dalam sejumlah kondisi tertentu.

Omicron juga memiliki dampak yang berbahaya, khususnya pada kelompok rentan seperti lansia, penderita komorbid, dan juga anak-anak. Dengan demikian, dia mengajak seluruh masyarakat untuk bekerja sama dan saling melindungi dengan segera melengkapi diri dengan dua dosis vaksin Covid-19 yang bisa didapat dari fasilitas kesehatan terdekat.

Selain melengkapi dosis vaksin, ia turut mengimbau kepada masyarakat yang belum sempat divaksin dan sudah terpapar Omicron untuk divaksinasi setidaknya dua pekan setelah melakukan isolasi mandiri. “Di sisi lain, adanya Omicron ini memang akan ada sebagian orang yang belum divaksinasi akhirnya terinfeksi. Bagi sebagian kecil yang penyintas dalam artian tidak mengalami long covid atau tidak mengalami fatalitas hingga meninggal, dia akan memiliki sedikit bekal imunitas. Tapi dia harus segera divaksinasi,” ujar dia.

Untuk pemerintah, guna mendukung perlindungan kekebalan dalam masyarakat terjaga, Dicky menyarankan segera mengejar cakupan vaksinasi setidaknya mencapai 80 persen secara nasional atau paling minimal dapat mencapai 70 persen. Supaya ketika terdapat pergerakan dari masyarakat, risiko penularan jauh lebih kecil.

Sedangkan pada vaksin penguat (booster), ia berharap pemerintah dapat memperluas cakupan setidaknya mencapai 50 persen dari total kelompok yang berisiko yang sudah menurun atau total secara umum dari populasi di Indonesia agar masyarakat dapat aman dan terlindungi. “Kelompok rentan harus diperkuat dengan penguat (booster). Semua harus kembali ke leadership dan strategi komunikasi bencana. Vaksinasi penguat (booster) saja Indonesia masih di bawah lima persen, masih rawan sekali dan potensi kematian tinggi, dua dosis saja kurang di luar Jawa-Bali, ini berisiko,” ucap dia. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories