RI-Malaysia Sepakat Perkuat Hubungan Dagang Sektor Energi

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menegaskan, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk mempererat hubungan dagang, khususnya di sektor energi.

Hal ini disampaikan Jerry, saat menerima Menteri Tenaga dan Sumber Asli Malaysia Datuk Seri Takiyuddin bin Hassan.

“Malaysia telah lama menjadi salah satu mitra dagang utama Indonesia, tidak terkecuali untuk sektor energi. Untuk itu, hubungan dagang dengan Malaysia harus dipererat di masa yang akan datang,” ungkap Jerry lewat keterangannya, Minggu (29/5).

Sebagai negara tetangga, Malaysia merupakan tujuan ekspor dari produk energi Indonesia. Khususnya, batubara.

“Indonesia tentu berupaya menjaga dan meningkatkan ekspor batu bara ke Malaysia. Namun, tentu dengan mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri yang menjadi prioritas utama,” sambungnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi menyatakan, Malaysia merupakan target untuk tujuan ekspor berbagai produk non migas unggulan Indonesia.

“Nilai ekspor Indonesia ke Malaysia menunjukkan nilai yang menggembirakan. Pada 2021, ekspor non migas Indonesia tercatat sebesar 10,64 miliar dolar AS. Atau tumbuh 52,65 persen dibanding pada 2020,” papar Didi.

Lebih lanjut, Didi menyampaikan, surplus perdagangan antara Indonesia dan Malaysia masih dapat terus ditingkatkan.

Pada 2021, Indonesia mendapatkan surplus perdagangan dengan Malaysia sebesar 2,56 miliar dolar AS.

“Capaian tersebut merupakan sinyal positif dari kinerja perdagangan Indonesia. Neraca kita terus mengalami surplus. Bahkan, melonjak 119,2 persen pada 2021 dibandingkan tahun sebelumnya,” ungkap Didi.

Sektor energi kini tengah menghadapi berbagai tantangan, terutama imbas dari konflik Rusia dan Ukraina.

Hal ini justru bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan di sektor energi, khususnya batu bara ke Malaysia.

Kementerian Perdagangan mencatat, Indonesia merupakan negara pengekspor batu bara terbesar ke Malaysia.

Pada 2021, Malaysia mengimpor batu bara sebesar 16,6 miliar ringgit Malaysia. Sebanyak 73,8 persennya berasal dari Indonesia.

Negara pengekspor lainnya adalah Australia dan Rusia dengan pangsa pasar, masing-masing 17,9 persen dan 7,3 persen.

“Kontribusi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi di Malaysia sangat besar. Tentu, hal ini merupakan pendorong bagi Indonesia. Demi tetap menjaga neraca perdagangan tetap surplus dengan Malaysia,” pungkas Didi. ■

]]> Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menegaskan, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk mempererat hubungan dagang, khususnya di sektor energi.

Hal ini disampaikan Jerry, saat menerima Menteri Tenaga dan Sumber Asli Malaysia Datuk Seri Takiyuddin bin Hassan.

“Malaysia telah lama menjadi salah satu mitra dagang utama Indonesia, tidak terkecuali untuk sektor energi. Untuk itu, hubungan dagang dengan Malaysia harus dipererat di masa yang akan datang,” ungkap Jerry lewat keterangannya, Minggu (29/5).

Sebagai negara tetangga, Malaysia merupakan tujuan ekspor dari produk energi Indonesia. Khususnya, batubara.

“Indonesia tentu berupaya menjaga dan meningkatkan ekspor batu bara ke Malaysia. Namun, tentu dengan mempertimbangkan kebutuhan dalam negeri yang menjadi prioritas utama,” sambungnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi menyatakan, Malaysia merupakan target untuk tujuan ekspor berbagai produk non migas unggulan Indonesia.

“Nilai ekspor Indonesia ke Malaysia menunjukkan nilai yang menggembirakan. Pada 2021, ekspor non migas Indonesia tercatat sebesar 10,64 miliar dolar AS. Atau tumbuh 52,65 persen dibanding pada 2020,” papar Didi.

Lebih lanjut, Didi menyampaikan, surplus perdagangan antara Indonesia dan Malaysia masih dapat terus ditingkatkan.

Pada 2021, Indonesia mendapatkan surplus perdagangan dengan Malaysia sebesar 2,56 miliar dolar AS.

“Capaian tersebut merupakan sinyal positif dari kinerja perdagangan Indonesia. Neraca kita terus mengalami surplus. Bahkan, melonjak 119,2 persen pada 2021 dibandingkan tahun sebelumnya,” ungkap Didi.

Sektor energi kini tengah menghadapi berbagai tantangan, terutama imbas dari konflik Rusia dan Ukraina.

Hal ini justru bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan di sektor energi, khususnya batu bara ke Malaysia.

Kementerian Perdagangan mencatat, Indonesia merupakan negara pengekspor batu bara terbesar ke Malaysia.

Pada 2021, Malaysia mengimpor batu bara sebesar 16,6 miliar ringgit Malaysia. Sebanyak 73,8 persennya berasal dari Indonesia.

Negara pengekspor lainnya adalah Australia dan Rusia dengan pangsa pasar, masing-masing 17,9 persen dan 7,3 persen.

“Kontribusi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi di Malaysia sangat besar. Tentu, hal ini merupakan pendorong bagi Indonesia. Demi tetap menjaga neraca perdagangan tetap surplus dengan Malaysia,” pungkas Didi. ■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories