Reshuffle: Apa Tujuan Sesungguhnya

Untuk apa Presiden Jokowi melakukan perombakan kabinet (yang kedua)?

Wacana reshuffle berawal dari penggabungan dua kementerian: Kementerian Ristekti dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud). Diam-diam, pemerintah sudah melobi DPR untuk wacana ini, dan DPR dikabarkan setuju.

Kedua, akan dibentuknya kementerian baru, yaitu Kementerian Investasi. Jokowi hingga sekarang tetap tidak puas dengan kinerja BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Maka, BKPM hendak ditingkatkan statusnya dengan membentuk Kementerian Investasi.

Investasi, terutama investasi asing, diakui selama ini kurang berhasil. Beberapa kali Jokowi mengutarakan hal ini di depan rapat kabinet dengan nada jengkel. Padahal ada yang bisiki Presiden untuk mengejar pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5 sampai 7% per tahun, investasi harus digenjot. Dan investasi harus mampu menciptakan lapangan kerja massif.

Dari dua sasaran ini, wacana reshuffle kemudian berkembang. Katanya, Jokowi sekalian akan melakukan perombakan signifikan terhadap susunan kabinet: ada menteri yang bakal didepak, ada pula wajah-wajah baru.

Selama 2 minggu terakhir, isu perombakan kabinet pun ramai dibicarakan di publik; ada orang-orang Istana, terutama Tenaga Ahli Kantor Staf Kepresidenan, yang sengaja menggorengnya di layar televisi.

Nama-nama menteri yang bakal disingkirkan Jokowi, dan wajah baru pun bermunculan, meski masih dalam taraf spekulasi. Bahkan kapan perombakan kabinet akan diumumkan pun beredar kencang sekali. Rabu 28 April 2021?

 

Wajah-wajah baru yang santer dipublikasikan:

– Rapsel Ali, anggota DPR Fraksi Nasdem, menantu Wapres Ma’fuf Amin

– Bahlil Lahadia, kini Kepala BKPM (“Saya yakin beliau akan dilantik kembali,”, kata Ngabalin)

– Witjaksono, tokoh muda NU, Ketua Umum Serikat Nelayan NU

– Abdul Mu’ti, Sekum PP Muyammadiyah

– Zulkifli Hasan (Ketum PAN)

– Bima Arya (Politisi PAN, Wali Kota Bogor)

Jika berita tentang nama-nama menteri yang dicopot dan wajah baru benar, atau sebagian benar, kita dapat menarik beberapa kesimpulan:

Pertama, Presiden Jokowi hendak memasukkan sejumlah tokoh agama, khususnya dari NU dan Muhammadiyah dalam kabinetnya, jangan melulu orang partai dan profesional/relawan. Masuknya menantu K.H. Ma’ruf Amin mengindikasikan Jokowi hendak menepis berita-berita miring di luar bahwa Wapres selama ini hanya jadi penonton dalam pemerintahan.

Kedua, masuknya kader PAN – jika benar – mengindikasikan reshuffle juga bertujuan untuk memperkuat lagi posisi Presiden di DPR-RI. Untuk apa? Sebagai persiapan Pemilu 2024.

Ketiga, wacana jabatan presiden 3 periode bukan sekadar tiupan orang iseng. Kemarin pagi ada bincang-bincang di satu youtube tentang Pilpres 2024. Narsumnya M. Qodari, pengamat politik yang sering mengadakan polling. Ia mengenakan kaos bergambar Jokowi-Prabowo Subianto. Hebat kan?

Diam-diam pasangan Jokowi-Prabowo 2024 mungkin saja sudah disosialisasikan. Untuk itu, UUD 1945 harus diamandemen dulu, terutama Pasal 7 tentang masa jabatan Presiden. Tapi, Pasal 37 UUD 1945 mengamanatkan sidang MPR tentang amandemen konstitusi harus dihadiri sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR.

Putusan mengubah pasal-pasal UUD 1945 harus dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 50% ditambah 1 anggota MPR.

Mungkinkah reshuffle kabinet Jokowi yang kedua kali ini, terutama, bertujuan untuk membuat ancang-ancang majunya kembali Jokowi dalam Pilpres 2024? Yang jelas, kaos bergambar Jokowi-Prabowo diam-diam sudah beredar dan Istana tidak bereaksi. Jangan lupa, dalam perpolitikan, tidak ada yang mustahil. Politics is the art of the possibility.

Keempat, kalau memang demikian, bagaimana hasil perombakan kabinet kali ini–lebih bagus atau lebih jelek– emang gue pikirin. (*)

]]> Untuk apa Presiden Jokowi melakukan perombakan kabinet (yang kedua)?

Wacana reshuffle berawal dari penggabungan dua kementerian: Kementerian Ristekti dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud). Diam-diam, pemerintah sudah melobi DPR untuk wacana ini, dan DPR dikabarkan setuju.

Kedua, akan dibentuknya kementerian baru, yaitu Kementerian Investasi. Jokowi hingga sekarang tetap tidak puas dengan kinerja BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal). Maka, BKPM hendak ditingkatkan statusnya dengan membentuk Kementerian Investasi.

Investasi, terutama investasi asing, diakui selama ini kurang berhasil. Beberapa kali Jokowi mengutarakan hal ini di depan rapat kabinet dengan nada jengkel. Padahal ada yang bisiki Presiden untuk mengejar pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5 sampai 7% per tahun, investasi harus digenjot. Dan investasi harus mampu menciptakan lapangan kerja massif.

Dari dua sasaran ini, wacana reshuffle kemudian berkembang. Katanya, Jokowi sekalian akan melakukan perombakan signifikan terhadap susunan kabinet: ada menteri yang bakal didepak, ada pula wajah-wajah baru.

Selama 2 minggu terakhir, isu perombakan kabinet pun ramai dibicarakan di publik; ada orang-orang Istana, terutama Tenaga Ahli Kantor Staf Kepresidenan, yang sengaja menggorengnya di layar televisi.

Nama-nama menteri yang bakal disingkirkan Jokowi, dan wajah baru pun bermunculan, meski masih dalam taraf spekulasi. Bahkan kapan perombakan kabinet akan diumumkan pun beredar kencang sekali. Rabu 28 April 2021?

 

Wajah-wajah baru yang santer dipublikasikan:

– Rapsel Ali, anggota DPR Fraksi Nasdem, menantu Wapres Ma’fuf Amin

– Bahlil Lahadia, kini Kepala BKPM (“Saya yakin beliau akan dilantik kembali,”, kata Ngabalin)

– Witjaksono, tokoh muda NU, Ketua Umum Serikat Nelayan NU

– Abdul Mu’ti, Sekum PP Muyammadiyah

– Zulkifli Hasan (Ketum PAN)

– Bima Arya (Politisi PAN, Wali Kota Bogor)

Jika berita tentang nama-nama menteri yang dicopot dan wajah baru benar, atau sebagian benar, kita dapat menarik beberapa kesimpulan:

Pertama, Presiden Jokowi hendak memasukkan sejumlah tokoh agama, khususnya dari NU dan Muhammadiyah dalam kabinetnya, jangan melulu orang partai dan profesional/relawan. Masuknya menantu K.H. Ma’ruf Amin mengindikasikan Jokowi hendak menepis berita-berita miring di luar bahwa Wapres selama ini hanya jadi penonton dalam pemerintahan.

Kedua, masuknya kader PAN – jika benar – mengindikasikan reshuffle juga bertujuan untuk memperkuat lagi posisi Presiden di DPR-RI. Untuk apa? Sebagai persiapan Pemilu 2024.

Ketiga, wacana jabatan presiden 3 periode bukan sekadar tiupan orang iseng. Kemarin pagi ada bincang-bincang di satu youtube tentang Pilpres 2024. Narsumnya M. Qodari, pengamat politik yang sering mengadakan polling. Ia mengenakan kaos bergambar Jokowi-Prabowo Subianto. Hebat kan?

Diam-diam pasangan Jokowi-Prabowo 2024 mungkin saja sudah disosialisasikan. Untuk itu, UUD 1945 harus diamandemen dulu, terutama Pasal 7 tentang masa jabatan Presiden. Tapi, Pasal 37 UUD 1945 mengamanatkan sidang MPR tentang amandemen konstitusi harus dihadiri sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR.

Putusan mengubah pasal-pasal UUD 1945 harus dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya 50% ditambah 1 anggota MPR.

Mungkinkah reshuffle kabinet Jokowi yang kedua kali ini, terutama, bertujuan untuk membuat ancang-ancang majunya kembali Jokowi dalam Pilpres 2024? Yang jelas, kaos bergambar Jokowi-Prabowo diam-diam sudah beredar dan Istana tidak bereaksi. Jangan lupa, dalam perpolitikan, tidak ada yang mustahil. Politics is the art of the possibility.

Keempat, kalau memang demikian, bagaimana hasil perombakan kabinet kali ini–lebih bagus atau lebih jelek– emang gue pikirin. (*)
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories