Renungan Ramadan (10) Memahami Bahasa Proaktif (2)

Jika terpaksa program yang direncanakannya belum berhasil, maka ia tidak pernah memun­tahkan kata-kata yang menyebalkan atau kata-kata kecewa, melainkan tetap me­melihara kesantunan dan kesopanannya dengan mengucapkan kata-kata misal­nya: “Kali ini kita belum berhasil, tetapi insya Allah kesempatan lain dalam waktu dekat kita akan berhasil.”

Ia tidak pernah mengecilkan dan mengucilkan orang lain, sungguh pun ia sudah mulai tidak senang. Jika ter­paksa gagal maka sering kali terlomtar kata: “Penyesuaian diri kita belum te­pat”, “Sebetulnya orang itu bisa dicari selanya dan bisa diselamatkan”, dan “Kita harus mampu mempertanggung jawaban kita sendiri”, dsb.

Pembawaan atau watak dan karakter orang proaktif tidak gampang tersing­gung. Sungguh pun sengaja dipancing untuk tersinggung, tetapi menampilkan ekspresi wajah yang tenang dan damai untuk semua.

Ia selalu bertanggung jawab terhadap pilihan kebijakan yang dipilihnya. Ia sama sekali tidak menunjukkan wajah dan penampilan pengecut. Ia selalu berpikir secara komprehensif sebelum bertindak, sehingga risiko pahit dalam kehidupannya jarang terjadi.

Ia cepat pulih jika terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri. Misalnya, jika ia dikecewakan oleh orang lain, maka ia tidak menaruh dendam sama sekali. Ia selalu dan terus menerus mengembangkan potensi dirinya secara telaten.

Orang-orang yang berkarakter proak­tif selalu kaya dengan alternatif. Ia selalu menemukan jalan untuk menjadi­kan segalanya terlaksana. Tidak heran kalau dikatakan orang-orang seperti ini selalu sukses dan hampir tidak pernah merasakan kegagalan.

Kalaupun ia gagal, selalu menganggap ada hikmah lebih besar di balik kegagalan itu, sehingga tidak pernah tersedot oleh energinya sendiri. Ia juga selalu fokus kepada hal-hal yang bisa mereka ubah, tidak pernah khawatir terhadap hal-hal yang tidak bisa mereka ubah.

Ia selalu berpegang pada prinsip yang sudah ditentukan sendiri. Ia tidak merdeka dari tekanan orang lain. Ia tidak memusingkan popularitas, tetapi selalu berorientasi pada hasil akhir dan azas kemanfaatan, sebagaimana diru­muskan dan direncanakan semula.

]]> Jika terpaksa program yang direncanakannya belum berhasil, maka ia tidak pernah memun­tahkan kata-kata yang menyebalkan atau kata-kata kecewa, melainkan tetap me­melihara kesantunan dan kesopanannya dengan mengucapkan kata-kata misal­nya: “Kali ini kita belum berhasil, tetapi insya Allah kesempatan lain dalam waktu dekat kita akan berhasil.”

Ia tidak pernah mengecilkan dan mengucilkan orang lain, sungguh pun ia sudah mulai tidak senang. Jika ter­paksa gagal maka sering kali terlomtar kata: “Penyesuaian diri kita belum te­pat”, “Sebetulnya orang itu bisa dicari selanya dan bisa diselamatkan”, dan “Kita harus mampu mempertanggung jawaban kita sendiri”, dsb.

Pembawaan atau watak dan karakter orang proaktif tidak gampang tersing­gung. Sungguh pun sengaja dipancing untuk tersinggung, tetapi menampilkan ekspresi wajah yang tenang dan damai untuk semua.

Ia selalu bertanggung jawab terhadap pilihan kebijakan yang dipilihnya. Ia sama sekali tidak menunjukkan wajah dan penampilan pengecut. Ia selalu berpikir secara komprehensif sebelum bertindak, sehingga risiko pahit dalam kehidupannya jarang terjadi.

Ia cepat pulih jika terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri. Misalnya, jika ia dikecewakan oleh orang lain, maka ia tidak menaruh dendam sama sekali. Ia selalu dan terus menerus mengembangkan potensi dirinya secara telaten.

Orang-orang yang berkarakter proak­tif selalu kaya dengan alternatif. Ia selalu menemukan jalan untuk menjadi­kan segalanya terlaksana. Tidak heran kalau dikatakan orang-orang seperti ini selalu sukses dan hampir tidak pernah merasakan kegagalan.

Kalaupun ia gagal, selalu menganggap ada hikmah lebih besar di balik kegagalan itu, sehingga tidak pernah tersedot oleh energinya sendiri. Ia juga selalu fokus kepada hal-hal yang bisa mereka ubah, tidak pernah khawatir terhadap hal-hal yang tidak bisa mereka ubah.

Ia selalu berpegang pada prinsip yang sudah ditentukan sendiri. Ia tidak merdeka dari tekanan orang lain. Ia tidak memusingkan popularitas, tetapi selalu berorientasi pada hasil akhir dan azas kemanfaatan, sebagaimana diru­muskan dan direncanakan semula.
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories