Rentan Gangguan Psikologis Pasien Covid-19 Perlu Dukungan Keluarga

Pasien Covid-19 tidak hanya mengalami gangguan fisik. Mereka juga bisa mengalami distorsi atau gangguan psikolo­gis. Keluarga dan lingkungan harus memberikan semangat dan dukungan.

Hal ini diungkapkan psikiater Dr dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dalam diskusi virtual bertajuk ‘Pshycological Long Covid Syndrom: Atasi Stres Pasca Pandemi’ yang digelar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 dari Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

“Jadi, memang pada pasien Covid-19 itu bisa dipastikan ada distorsi psikologis yang dialami,” ujar Nova yang juga menjabat Secretary General-Asian Federation of Psychiatric Asociations.

Fakta ini didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan. Baik di dalam, maupun luar negeri.

Di dalam negeri, penelitian dilakukan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Mereka melakukan swa­periksa secara random, baik terhadap orang-orang yang telah terinfeksi, maupun yang belum terinfeksi Covid-19.

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap sekitar 4.010 orang tersebut menunjukkan, 64,8 persen di antaranya mengalami masalah psikologis, 65 persen mengalami cemas, dan 62 persen mengalami depresi.

Penelitian lain dari asesmen secara daring yang dilakukan di China terhadap 730 pasien Covid-19 di sebuah rumah sakit, menunjukkan hasil yang lebih spesifik.

Yakni, prevalensi gejala-gejala stres pascatrauma yang berhubungan dengan Covid-19 mencapai 96,2 persen. “Ini be­rarti tinggi sekali,” tuturnya.

Penelitian lain di Kota Daegu, Korea Selatan, yang dilakukan dengan wawancara via telepon terhadap sekitar 64 penyin­tas Covid-19 menunjukkan, 20,3 persen di antara mereka mengalami gangguan stres pas­catrauma, atau dikenal dengan post traumatic stress disorder (PTSD).

“Nah, kalau PTSD ini menjadi berbeda karena ini durasinya harus minimal 1 bulan. Jadi berbeda dengan reaksi stres akut, yang mana hanya terjadi antara 3 harian,” jelas Nova.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Kesehatan Jiwa DKI Jakarta itu pun menyimpulkan, dari beberapa penelitian terse­but, pasien Corona memang memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk mengalami gangguan psikologi.

“Stres ini kemudian diper­sepsikan sebagai apa dan ba­gaimana emotional reaction-nya. Ternyata ada yang menyalahkan diri sendiri, dan sebagainya,” bebernya. [JAR]

]]> Pasien Covid-19 tidak hanya mengalami gangguan fisik. Mereka juga bisa mengalami distorsi atau gangguan psikolo­gis. Keluarga dan lingkungan harus memberikan semangat dan dukungan.

Hal ini diungkapkan psikiater Dr dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ dalam diskusi virtual bertajuk ‘Pshycological Long Covid Syndrom: Atasi Stres Pasca Pandemi’ yang digelar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 dari Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

“Jadi, memang pada pasien Covid-19 itu bisa dipastikan ada distorsi psikologis yang dialami,” ujar Nova yang juga menjabat Secretary General-Asian Federation of Psychiatric Asociations.

Fakta ini didasarkan pada penelitian yang telah dilakukan. Baik di dalam, maupun luar negeri.

Di dalam negeri, penelitian dilakukan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Mereka melakukan swa­periksa secara random, baik terhadap orang-orang yang telah terinfeksi, maupun yang belum terinfeksi Covid-19.

Hasil penelitian yang dilakukan terhadap sekitar 4.010 orang tersebut menunjukkan, 64,8 persen di antaranya mengalami masalah psikologis, 65 persen mengalami cemas, dan 62 persen mengalami depresi.

Penelitian lain dari asesmen secara daring yang dilakukan di China terhadap 730 pasien Covid-19 di sebuah rumah sakit, menunjukkan hasil yang lebih spesifik.

Yakni, prevalensi gejala-gejala stres pascatrauma yang berhubungan dengan Covid-19 mencapai 96,2 persen. “Ini be­rarti tinggi sekali,” tuturnya.

Penelitian lain di Kota Daegu, Korea Selatan, yang dilakukan dengan wawancara via telepon terhadap sekitar 64 penyin­tas Covid-19 menunjukkan, 20,3 persen di antara mereka mengalami gangguan stres pas­catrauma, atau dikenal dengan post traumatic stress disorder (PTSD).

“Nah, kalau PTSD ini menjadi berbeda karena ini durasinya harus minimal 1 bulan. Jadi berbeda dengan reaksi stres akut, yang mana hanya terjadi antara 3 harian,” jelas Nova.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Kesehatan Jiwa DKI Jakarta itu pun menyimpulkan, dari beberapa penelitian terse­but, pasien Corona memang memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk mengalami gangguan psikologi.

“Stres ini kemudian diper­sepsikan sebagai apa dan ba­gaimana emotional reaction-nya. Ternyata ada yang menyalahkan diri sendiri, dan sebagainya,” bebernya. [JAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories